Dear Irsyam

Dear Irsyam
H-1


__ADS_3

...Happy reading....


Hari ini adalah jadwal fiting baju untuk pasangan muda yang sebentar lagi akan bertunangan.


“Nak kamu buruan siap-siap ya, nanti dijemput Irsyam. Ibu mau berangkat duluan sama Tante Anis” ucap Ibu dari balik pintu


“Iya Bu."


Aku memutuskan untuk menunggu Irsyam di depan, karena dirumah hanya menyiksakan aku saja. Ayah dan Om Indra sedang melihat-lihat gedung yang nantinya akan digunakaan sebagai acara tunanganku dan Irsyam, dan Tino bocah kecil itu ikut dengan Ayah dan Om Indra.


“Maaf nunggu lama ya?”


“Lumayan sih.”


“Maaf ya, kemarin tidurnya kemaleman soalnya.”


“Ngapain!?”


“Ngegame dong."


“Serah deh, yuk berangkat.”


“Oke sayang."


Kami melajukan mobil dengan kecepatan sedang, sambil melihat-lihat suasanya kota bandung yang masih sepagi ini. Jika ditanya kenapa tidak kuliah? Saat ini diliburkan sehari untuk beristirahat karena acara ulang tahun kampus kemarin.


“Sayang tolong kamu buka handphone aku nih, ada yang WhatsApp.”


“Pasword?”


“Aku sayang Dewi.”


Aku pun tersenyum tipis mendengar ucapannya.


“Siapa yang whatsapp?”


“Mamah.”


“Sharelock nih.” ucapku lalu menyodorkan ponselnya


“Oh disini tempatnya, oke deh paham.”


Dua puluh lima menit kami telah sampai di toko butik. Dan kami pun melangkahkan kaki memasuki butik tersebut. Belum sempat kami mendudukkan diri Tante Anis pun memanggil kami.


“Nak sini kalian.” ucapnya sambil melambaikan tangannya


Kami pun menghampirinya.


“Nih coba deh, Mamah udah milihin gaun yang paling bagus disini, kamu coba ya sama Dewi.”


Aku pun memilih satu gaun dengan random. Lalu kami melangkahkan kaki keruang ganti masing-masing. Lima belas menit kami telah selesai dengan menggenakan gaun dan jas yang dipilih oleh Tante Anis.


“Jeng yaampun, ini calon mantu aku? Cantik banget.” ucap Tante Anis


Aku pun tersenyum kearahnya.


“Calon mantu aku juga nggak kalah ganteng.” ucap ibu


“Iya dong mantu tante gitu loh.”


“Coba kalian gaya gih, Mamah pengen ngefoto.”


“Ayo buruan.”


“Sini sayang.” panggil Irsyam padaku


Lalu Tante Anis pun mengambil foto kami.


“Cocok banget deh kalian.”


“Dewi mau gaun yang ini atau yang lain nak?”


“Ini aja Tan.”


“Oke yaudah kalo gitu, nanti biar Tante sama Ibu kamu yang ngurus, kalian masih mau disini atau pulang?”


“Pulang aja Mah.”


“Eh mampir ke cafe dulu makan.”


“Duluan ya Bu, Tan.” ucapku sambil menyalami mereka disusul dengan Irsyam


“Aih sekarang biasain manggil Mamah ya jangan Tante.”


“Eh iya Tan, Mah.” ucapku tersenyum canggung


“Iya sayang sana hati-hati ya.”


Kami membalas dengan anggukan kepala.


Sesampainya di cafe kami memesan beberapa makanan, sembari menunggu pesanan datang aku dan Irsyam sesekali mengobrol dan bercanda ria.


“Pinjem hp boleh nggak?”


“Nih.” ucapku


“Password?”


“Senyum dulu.”


Irsyam pun tersenyum.


“Ngapain kamu senyum, paswordnya emang itu.” ucapku lalu tertawa


Senyum Irsyam pun seketika luntur.


“Untung pacar sendiri.” ucapnya sambil mengusap dada


Cekrek.


Terdengar bunyi kamera yang ditekan tombolnya.


“Idih narsis” cibirku


“Biarin."


Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya yang seperti anak kecil.


“Permisi.” ucap pelayan restoran sambil membawa nampan pesanan kami


“Selamat menikmati.”


“Terimakasih.” ucapku padanya


Di balas senyuman dengannya.


“Ayo makan dulu jangan main hp.” ucapku


“Bentar lagi asik baca.”


“Baca apa?”


“Nih” ucapnya sambil memperlihatkan chatku dan kak Reza


Aku pun nyaris tersedak. Bisa-bisanya dia membaca itu semua.


“Nggak sopan.”


Dia pun nyengir dengan wajah tanpa dosanya.


“Suapin dong.” ucapnya


“Makan sendiri ih.”


“Nggak mau.”


“Maunya disuapin.” ucapnya sambil merengek manja


“Tapi aku belum sel..” ucapku terpotong karenanya


“Yaudah aku nggak mau makan.” ketusnya lalu membuang muka ke arah lain.


Seperti anak kecil yang tidak dituruti keinginannya bukan?


“Huft iya agak sini.” ucapku pasrah


Dia pun tersenyum manis kearahku, lalu menggeser sedikit badannya ke mendekat ke arahku. Aku pun menyuapinya sambil sesekali aku juga memakan makananku.


“Kenyang.” ucapnya


Aku pun tersenyum ke arahnya.


”Jangan senyum terus nanti ada yang suka.”


“Dih, kan aku senyumnya ke kamu. Nggak kayak kamu suka tebar pesona.”

__ADS_1


Dia pun mengangkatkan jarinya ke atas membentuk huruf v.


“Peace bos.” lalu tertawa kecil


Aku pun memutar bola mataku malas.


“Pulang yuk.” ajaknya


“Yuk.”


Kami melangkahkan kaki ke kasir untuk membayar makanan yang dipesan tadi, setelah selesai kami memutuskan untuk pulang. Dirumah sudah mendapati Ibu, Ayah, Tante Anis dan Om Indra.


“Ekhem habis dari mana ini?”


“Makan.” ucapku


“Pacaran.”ucap irsyam


Aku pun menoleh kearahnya. Dia pun tertawa renyah.


“Makan pah.”


“Owalah.”


“Sam...” panggil ayah semua pun menoleh kearahnya


“Iya Om?”


“Ikut Om bentar.”


Irsyam pun mengangguk patuh. Lalu mengikuti ayah.


“Widih sidang skripsi nih.” celetuk Om Indra ngawur


Plak.


“Kalo ngomong itu lo.”


“Bercanda Mah, auh sakit banget lagi.”


“Kamu kenapa KDRT terus sih sayang.” ucap om Indra menggoda tante Anis


Plak.


“Papah astaga inget umur pa.”


Aku dan ibu pun tertawa melihat tingkah absurd om Indra.


“Tino kemana bu?”


“Tidur nak, kecapekan dia."


"Owalah."


Tak lama Irsyam dan ayah pun datang.


“Abis ngapain yah?” tanya ibu


“Nggak papa.”


“Udah enggak ada yang dibahas kan ini?” tanya om Indra


“Enggak.”


“Yaudah kalau gitu kita pamit ya jeng.” ucap tante Anis lalu memeluk ibu dan beralih memelukku


“Calon mantu tante, istirahat ya, jangan sampai kecapekan.”


“Iya Tan.”


Om indra dan ayah melakukan tos ala anak laki-laki. Lalu tertawa.


“Balik dulu Ris.”


“Yoi Ndra.”


Irsyam pun tersenyum ke arahku dan melambaikan tangannya. Kubalas dengan hal yang sama.


Setelah keluarga Irsyam pamit pulang aku memutuskan untuk beristirahat dikamarku. Ku rebahkan tubuhku diatas kasur dan memandangi langit-langit kamarku. Aku pun tiba-tiba menangis sendiri.


“Bersyukur banget punya mereka.”


“Makasih Tuhan.”


Aku menghapus air mataku lalu beralih membuka ponselku. Ku ketik sandi ponselku dan klik, terbuka. Menampakan foto selfi Irsyam sebagai wallpaper handphoneku. Aku pun tersenyum tipis melihatnya. Ku buka aplikasi whatsapp dan melihat kontak yang disematkan. Aku pun mengernyit.


Ku buka kontak tersebut ternyata itu nomer Irsyam dan apa ini, dia mengambil fotoku tanpa izin. Kurangajar sekali dia. Ku ketik pesan padanya.


dih dasar minta foto nggak bilang-bilang


Tak berselang lama ponselku berdering ada satu chat masuk.


Irsyam: biarin😜


Dewi: nyebelin banget sih


Irsyam: nyebelin-nyebelin gini kamu juga syg kan


Dewi: arghhh


Irsyam: 🤣🤣


Dia pun meng vidio call aku. Ku angkat tombol hijau keatas menampakkan wajahnya.


“Hai sayang, kangen nih.” ucapnya dari sebrang sana


“Baru aja tadi ketemu.”


“Kamu sih.”


“Kenapa?”


“Suka bikin kangen mulu.”


Blush.


Pipiku pun memerah karena ucapannya barusan.


Dia pun tertawa melihat wajahku yang sedang memerah.


“Dih pipinya merah.”


“Ck sialan.” ucapku berusaha menahan salting


“Dewi.”


“Hm?”


“Kamu cantik banget.”


“Aku emang cantik.”


"Beruntung banget aku bisa kenal kamu."


"Jangan pergi ya..."


"His apa sihh, jangan bahas yang sedih-sedih ahh."


"Iya deh iya."


“Ngantuk hoam” ucapnya sambil menguap


“Matiin aja, habis itu tidur sana.”


Dia pun menggeleng.


“Kenapa?”


“Jangan dimatiin biar gini.”


“Temenin bobo.” lanjutnya


Aku pun tersenyum menatapnya.


“Yaudah tidur gih.”


“Janji jangan dimatiin ya.” ucapnya


“Iya sayang.”



Aku mengamati wajah irsyam yang sedang tertidur di layar ponselku. Tampan sekali dia. Dan diam-diam aku pun mengscreenshotnya dan aku pun ikut terlelap sambil memandangi ponselku.


Aku terbangun dengan tiba-tiba ku cari ponselku ternyata ada disampingku, kulihat Irsyam sudah bangun dan menatap ke arahku.

__ADS_1


“Eh udah bangun tuan putri?”


“Ehe maaf ya ikut ketiduran jadinya.”


“Nggak papa.”


“Udah lama nunggunya?”


“Enggak, aku juga baru aja bangun.”


“Matiin dulu ya? aku mau mandi, habis itu bantuin ibu.”


Dia pun memanyunkan bibirnya.


Aku terkekeh kecil melihat tingkahnya “Dih kenapa gitu?”


“Pengen gini.”


“Nanti lagi ya, ini juga udah mau petang.”


“Hm yaudah deh.”


“Nanti VC lagi ya.”


“Iya sayang.”


“Kiw sayang.” ucapnya lalu tertawa


Aku pun ikut tertawa.


“Dah ya aku matiin.”


“Oke sayang”


Tut.


Setelah melakukan panggilan vidio dengan irsyam tadi aku pun senyam senyum sendiri sambil memandang layar ponselku. Hingga deheman seseorang membuyarkan kehaluanku.


Ekhem.


“Eh ayah!?”


“Sejak kapan ayah disitu?”


“Sejak tadi.” ucapnya lalu melangkahkan kaki mendudukan diri di sampingku


“Eh.” aku pun salah tingkah


“Kenapa?"


“Enggak.”


“Ayah kenapa kesini, tumben.”


Ayah diam sejenak menatapku, lalu mulai membuka suara.


“Anak ayah udah dewasa ya.” ucapnya sambil membelai rambutku


“Dulu kamu masih segini, masih suka merengek minta ice cream, kalo nggak minta mainan. Eh sekarang udah segede ini.”


“Kenapa Ayah belum rela ya, putri Ayah bakal ninggalin Ayah”


“Ayah kenapa ngomong gitu, Dewi di sini selalu sama ayah.” ucapku lalu memeluknya


“Promise?”


“I’m promise."


“Ayah nangis?"


Dia pun melepaskan pelukannya lalu tersenyum manis ke arahku.


“Ayah jangan nangis ya, Dewi janji nggak bakal ninggalin Ayah. Dewi nggak bakal lupain cinta pertama Dewi” ucapku sambil menghapus air mata di pipinya


“Iya sayang.”


“Yaudah kamu buruan mandi sana, terus turun kebawah kita makan bareng.”


“Oke Pak bos.”


Aku melangkahkan ke kamar mandi setelah Ayah meninggalkan kamarku. Sekitar lima belas menit aku telah selesai dengan ritual mandiku. Setelah itu aku melangkahkan kaki menuju ke bawah untuk makan malam bersama.


“Sini nak makan, habis ini kamu istirahat ya. Inget besok harus bangun pagi.”


"Iya Ibu."


Setelah selesai makan malam aku memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhku di kamar. Hari ini aku ingin menuliskan sesuatu di diaryku.


dear irsyam


aku percaya bahwa hidup itu tak selamanya indah dan tak selamanya buruk. dulu aku selalu mengira bahwa aku tak akan pernah bahagia. namun dugaanku salah. aku bahagia sekarang. atau kah ini yang dinamakan akan ada pelangi setelah hujan? kalo iya aku akan selalu ingat kata-kata itu. dan ada satu hal lagi, aku ingin berterimakasih kepada Tuhan. Tuhan sangat baik, ternyata dibalik kesedihanku selama ini Tuhan sudah mempersiapkan bahagia untukku. ya dia adalah Irsyam. alasan bahagiaku sekarang. semenjak ada dia, hidupku menjadi sempurna. hari demi hari ku lewati. aku sungguh bersyukur karena dia selalu ada untukku dia adalah sosok lelaki yang ku cintai setelah ayah. dan besok adalah hari dimana dia ingin membuktikan keseriusan cintanya kepadaku, melalu cincin yang mengikat cinta kita. entahlah aku harus sedih atau bahagia. yang jelas aku ingin menangis karena bahagia.


terimakasih Tuhan telah menghadirkan sosok lelaki seperti dia.


Setelah menuliskan tentang Irsyam di buku diaryku aku membuka ponselku. Ku buka galeriku dan aku menemukan beberapa foto Irsyam, dan ada juga fotoku dengan Irsyam yang menggunakan setelan gaun dan jas. Aku tersenyum bahagia melihat foto itu. Tiba-tiba ponselku berdering mendapati panggilan vidio call yang ternyata dari irsyam. Ku angkat panggilan tersebut.


“Haii”


“Haii”


“Ada apa nih”


“Kangen calon istri” ucapnya lalu terkekeh kecil


“Bisa..” belum sempat aku melanjutkan ucapanku tiba-tiba Tino datang dan berlari ke arahku


“Kakak hari ini aku tidur sama kakak ya.”


“Iyaaa.”


“Eh kak Irsyam!?” pekiknya kegirangan


Dia langsung mengambil alih ponselku.


“Kakak apa kabar?”


“Baik.”


Tino dan irsyam pun mengobrol hal-hal random. Aku pun hanya diabaikan mereka, ku lihat wajah Irsyam menahan tawa dari layar telepon.


“Eh udah jam segini, Tino mendingan tidur ya.”


“Okee Kakak!”


“Nih kak.” ucapnya lalu menyodorkan ponsel ke arahku


Dia pun dengan santainya merebahkan tubuhnya di sampingku dan memejamkan matanya.


“Dasar.” ucapku


Irsyam pun tertawa.


“Kenapa sih hmm?”


“Sama adiknya sendiri juga cemburu?”


“Nggak.”


“Aihh ngambek nih ceritanya” ledeknya


“Duh calon istri aku kalo ngambek makin cantik deh.”


“Aduh merdunya suara buaya.”


Dia pun tertawa mendengar ucapanku barusan.


“Parah dih, pacar eh calon suami nya dibilang buaya.”


“Udahlah mau tidur ngantuk.”


“Yaudah deh, ini juga udah malem. Inget besok harus bangun pagi.”


“Iyaa.”


“Good night and Sweet dreams sayang.”


“Night too sayang.”


Ahaha “Mukanya merah.”


“Dah ya sampai ketemu besok.”


“Okey.”


Tut.

__ADS_1


...Jangan lupa vote dan juga follow author....


...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinya....


__ADS_2