
Alsya pov
...Happy reading....
Aku yang tadi pagi bermusuhan dengan abang sangat malas sekali rasanya mengangkat telfon dan membalas chatnya. Hingga akhirnya aku merasa kasihan kepadanya. Jika nanti dia menelfon aku akan mengangkatnya. Dan tiba-tiba poneselku berdering menandakan ada telepon masuk ternyata abang. Buru-buru langsung ku angkat telpon tersebut. Aku terkejut pasalnya ini bukan suara bang Reza. Jujur perasaanku menjadi tidak karuan. Dan ternyata bang Reza pingsan, entahlah yang menelponku ini siapa, yang jelas aku sangat berterimakasih karna dia sangat baik mau menolong bang Reza. Aku mondar mandir menunggu seseorang yang akan mengantar bang Reza. Setelah menunggu lumayan lama akhirnya datang, saat seseorang itu turun dari mobil aku sangat terkejut bukan main ternyata yang menolong abang, KAK BIMA!?.
End.
“Kak Bima?” ucapku sambil menghampirinya
"Lah?"
"Dewi jahat hiks." ucap Reza ngelantur
“Ini kenapa kak kok bisa kayak gini.” tanyaku
“Abang kamu mabuk.”
JEDER.
Bagai tersambar petir, disiang hari perasaanku hancur sekaligus kaget, kenapa bang Reza seperti itu? Bagaimana dengan pekerjaannya nanti? Ucapku dalam hati sambil bertanya-tanya. Apakah gara-gara kejadian tadi pagi bang Reza jadi seperti ini?.
“Ehh, Sampai sini aja kak, sini biar aku.”
"Nggak, gue anter sampe kamar."
Aku masih diam mematung sambil menatap kearah kak Bima.
"Kamarnya sebelah mana!?"
"Eh iya."
......................
"Jadi itu tadi abang lo?"
"Iya."
"Btw thanks ya kak."
"Sama-sama."
"Tadi ceritanya gimana, kok kakak bisa tau."
"Gue tadi lagi nongkrong sama temen-temen dan gue nggak sengaja ngeliat abang lo."
"Berhubung kondisi abang lo ga memungkinkan, akhirnya gue tolongin."
"Btw abang lo baru putus ya?"
"Hah?"
"Enggak tuh."
"Oh kirain, tadi nyebut-nyebut nama Dewi soalnya."
"Gue kira pacarnya, eh mantan."
"Dewi?"
"Apa iya ini semua karena Dewi?"
"Kenapa dia jahat banget?"
"Dia udah ngebuat bang Reza kayak gini? maksudnya apa? apa karena dia cantik jadi seenaknya sendiri?"
Aku terlalu sibuk dengan fikiranku sendiri sampai lupa jika ada kak Bima disini.
"Hei!"
"Gimana kak?"
"Gue balik dulu ya."
“Oh iya mobil kakakmu nanti dianter kesini."
“Iya, maaf ya kak jadi ngrepotin."
"Nggak sama sekali."
"Yuk aku anter ke depan kak."
"Sekali lagi makasih ya kak."
"Iya sama-sama, jangan makasih terus ah."
Heheh "Iya deh."
...----------------...
“Abang kenapa bisa gini.”
Dia hanya tersenyum tipis menatapku.
“Abang.”
“Maafin Alsya, gara-gara Alsya abang jadi kayak gini. Abang kenapa mabuk sih? Abang kan dokter gimana kerjaan abang nanti.”
Uhuk uhuk.
“Maafin abang, abang nggak bisa mikir jernih tadi.” ucapnya lirih lalu meneteskan air mata
“Abang kok nangis?”
“Alsya udah nyakitin hati abang ya?"
“Maafin Alsya.”
“Nggak kok, udah sana abang mau istirahat.” ucapnya
"Ini semua karena Dewi kan bang?"
"Iya kan?"
"Cerita sama Alsya, dia udah ngapain ke abang."
"Dewi... pacaran sama Irsyam dek."
...----------------...
Sore hari telah tiba setelah diantar Irsyam pulang aku menyendiri di kamar sejak tadi. Entahlah kenapa hatiku sakit ketika kak Reza mengucapkan kalimat-kalimat tadi. Apa kak Reza benar-benar baik saja? Tiba-tiba ponsel ku berdering. Tertera nama Alsya dilayar ponselku. Buru buru ku angkat panggilan tersebut.
"Halo Dewi hiks." ucapnya sambil terisak di panggilan tersebut
"Eh kenapa sya?"
"Bang reza hiks."
Setelah mengatakan nama Reza jantungku berdegup cepat ada apa dengan kak Reza?
"Kak reza kenapa sya."
"Dia tadi pingsan gara-gara mabuk."
Jeder bagai tersembar petir di siang hari, apa yang telah aku lakukan? Apakah aku menyakiti hatinya? Sampai sampai kak Reza melakukan hal seperti itu?
"Ha-ah." ucapku sedikit bergetar
"Kamu bisa kesini nggak."
"Aku butuh temen cerita."
"Oke aku kesana sya."
"Aku tunggu."
Aku bergegas berganti pakaian. Lalu aku melangkahkan kaki keluar mengambil kunci motor dan bergegas ke garasi.
“Nak! Mau kemana!” teriak ibuku dari dalam
__ADS_1
“Dewi mau kerumah alsya bu.”
“Maaf Dewi harus buru-buru.”
Ku lajukan motorku dengan kecepatan lumayan tinggi, lima belas menit aku telah sampai dirumah Alsya.
Tok tok tok.
Ku ketuk pintu rumah tersebut menampilkan Alsya yang sudah menangis sesegukan. Di peluknya tubuhku, aku yang belum siap dengan serangan mendadak itu agak sedikit terhuyung kebelakang.
“Bang Reza hiks.” ucapnya tersendu sendu
“Udah sya udah.” ucapku sambil mengusap punggungnya
“Ini semua gara-gara aku, aku ngediemin bang Reza dari pagi tadi.”
Aku yang mendengarkan ucapan Alsya barusan pun kembali merasa bersalah, sebelumnya kak Reza sudah punya masalah dengan Alsya, ditambah lagi masalah denganku dan Irsyam tadi.
“Sekarang kak Reza dimana?”
“Di kamar.” balasnya lalu melepaskan pelukannya
“Aku kesana boleh?”
Di balas anggukan kepala oleh Alsya.
Aku melangkahkan kaki menuju kamar kak Reza, dia sangat kacau, baju yang sudah keluar, rambut yang sedikit acak-acakan dan matanya yang sayu menatap lurus kedepan.
“Kak Reza” sapaku
Dia pun menoleh ke arahku.
“Dewi!” dia pun langsung menghampiriku dan memelukku
“Kakak nggak sanggup buat lupain kamu.”
“Kakak nggak sanggup."
“Sakit Dewi sakit."
“Kak maafin Dewi.”
“Kali ini aja kakak mohon, kamu sama kakak dulu ya, Kakak belum siap buat lupain kamu.”
“Emm iyaa” maafin aku sam
“Kamu bener mau nemenin kakak?” ucap kak Reza lalu melepaskan pelukannya
Ku balas dengan anggukan kepala.
Disisi lain.
Irsyam yang baru saja berolahraga, baru saja mengistirahatkan tubuhnya. Tiba-tiba ponselnya berdering ada satu pesan masuk di handponenya.
Alsya
Sent your picture.
“Bangsat” umpat irsyam
Irsyam: Maksud?
Alsya: Eh maaf ya salah kirim
Alsya: Sam sebenernya aku pengen ngasih tau kamu sesuatu
Irsyam: ??
Alsya: Tapi enaknya ngomong langsung
Irsyam: Lo ke rumah gue sekarang di jalan xxx
Alsya: Oke ganteng
“Lo kenapa gini Dewi.” ucapnya lirih
“Anjing sakit banget bangsat.”
...----------------...
Hahaha “Dewi, Dewi kamu harus nanggung akibatnya karena udah ngambil irsyam dari aku.”
"Oh ya dan satu lagi, gue bakal balesin sakit hatinya bang Reza." ucap alsya lalu tersenyum smrik
Tok tok.
“Dewi kamu bisa jaga bang Reza bentar nggak aku mau keluar nih.”
“Kemana?”
“Supermarket doang.”
“Yaudah jangan lama-lama ya.”
“Iya.”
“Btw kamu udah ngasih tau Irsyam?”
“Belum kak.”
“Maafin kakak ya jadi ngrepotin, kamu mending pulang aja.”
“Tapi Allsya tadi kan bilang aku suruh nungguin kakak.”
“Nggak papa kamu pulang aja."
“Kamu harus ngomong semuanya ke Irsyam biar dia nggak salah paham."
"Yakin nih kakak nggak papa?"
"Iya Dewii."
“Emm yaudah kalo gitu Dewi pulang dulu ya kak.”
“Kakak jangan sedih terus, yang semangat.” ucapku
“Makasih” balasnya sambil tersenyum manis ke arahku
...----------------...
Ting tong.
“Iya sebentar.” ucap bi Inah
“Irsyam nya ada?”
“Ada, neng siapa ya?”
“Sini sya masuk.” ucap Irsyam
“Bi buatin minum ya."
“Siap den.”
“To the point lu mau ngomongin apaan?”
Alsya menyodorkan sebuah handpone berisi tentang vidio Dewi dan Reza yang sedang berpelukan tadi.
“Bangsat.” ucap Irsyam sambil membuang barang dengan sembarangan
“Sam sabar.”
“Aku juga nggak habis fikir sama dewi bisa-bisanya dia kayak gitu. Padahal dia kan udah punya pacar, masih aja mau sama cowo lain." kompor Alsya
Prangg, dugh cetarrr.
“Kamu jangan emosi sam, kendaliin diri kamu.” ucap Alsya lalu memeluk Irsyam dari belakang
__ADS_1
“Kamu jangan ngamuk-ngamuk gini sam hiks aku takut hiks."
Irsyam yang dipeluk oleh Alsya pun hanya diam saja.
...----------------...
“Eh neng Dewi.” sapa bibi ketika bersimpangan dengannya
“Maaf ya bi, Dewi langsung masuk. Soalnya tadi pintunya kebuka Dewi kira ada apa."
“Oh nggak papa neng, maaf ini tadi bibi lagi buatin minum buat den Irsyam sama temennya.
“Biar Dewi aja bi yang ngasih, Irsyamnya dimana?”
Prangg.
Terdengar suara berisik dari arah belakang.
“Ehh apa itu neng.” ucap bibi
“Kita samperin aja bi.” balasku sambil membawa minum ditanganku
Aku dan bibi melangkahkan kaki ke belakang tepatnya di taman belakang rumah Irsyam.
Saat sampai disana aku sungguh dikejutkan dengan pemandangan yang sangat luar biasa. Apa ini? sungguh hatiku hancur sangat, sangat hancur.
“Den irsyam!!!” pekik bibi
Prangg.
Nampan berisi gelas yang berada di tanganku jatuh begitu saja, tanganku bergetar hebat dan mataku memanas, hatiku terasa sesak.
Mereka menoleh kearahku dan juga bibi.
“Neng Dewi ya Allah berdarah.”
“Dewi” teriak Irsyam lalu melepaskan pelukannya dengan Alsya
Ku usap darah yang keluar dari hidungku. Aku berlari begitu saja tanpa memperdulikan rasa sakit yang ada di tubuhku. Namun sayang sekali, Irsyam mampu memberhentikan ku.
"Dewi."
"Maa.."
Belum sempat Irsyam mengucapkan permintaan maafnya tiba-tiba darah segar keluar dari hidung Dewi.
"Sayang."
"Aku nggak papa kok." ucap Dewi sambil tersenyum masam
"Kalian lanjutin aja pelukannya."
"Maaf ak..."
Greb.
Irsyam memeluk Dewi.
"Jangan ngomong gitu, aku minta maaf, ini nggak seperti yang kamu liat."
"Maafin aku."
Merasa tak ada jawaban pun Irsyam melepaskan pelukannya.
"Dewi?"
"Sayang?"
"Bi tolong telepon ambulan!!"
"Eh Iya den."
...Ninuninuninu....
"Sayang kamu bertahan ya."
"Kamu kuat sayang." sumpah demi apapun Irsyam sangat ketakutan setengah mati
"Maaf anda bisa tunggu diluar kami akan menangani pasien."
"Maafin aku sayang."
"Nak Irsyam!"
"Nak gimana keadaan Dewi?"
"Lagi di tanganin dokter tan."
"Yah apa jangan-jangan...."
"Sstt, kamu ngomong apa sih, jangan mikir yang aneh-aneh."
...----------------...
Hahaha "Ups sahabat aku yang paling cantik lagi nangis-nangis."
"Emm kasihan."
"Akhirnya lo ngerasain apa yang gue rasain."
"Itu belum seberapa ya Dewi, liat aja kalo sampai lo ganggu kehidupan gue, gue nggak akan segan-segan bikin lo menderita."
...----------------...
"Tante, Om gimana keadaan Dewi?"
"Belum tau, daritadi dokter yang nanganin Dewi belum keluar nak."
"Tante yang sabar ya, Dewi kuat kok, Sekar yakin pasti Dewi nggak bakal kenapa-kenapa."
"Kar, ikut gue sebentar."
"Tan aku keluar sebentar ya."
Hanya dibalas anggukan kepala.
Sekar dan Irsyam melangkahkan kaki pergi meninggalkan ruangan UGD. Mereka memutuskan untuk pergi ke taman.
"Gue masuk perangkapnya Alsya."
"Maksudnya?"
"Bangsat!!!! kenapa gue nggak sadar kalo itu jebakan."
"Lo kenapa?"
"Cerita."
"Tadi dia ngirim foto Dewi sama Reza pelukan, terus katanya dia juga mau ngejelasin sesuatu. Akhirnya gue bilang ke dia buat kerumah gue."
"Dan dia cerita semuanya tentang Dewi sama Reza."
"Gila ya tuh anak, punya otak nggak sih? Dewi kan sahabatnya, bisa-bisa dia kayak gitu sama sahabatnya sendiri?"
"Ini semua cuma salah paham."
"Oke gue udah denger cerita dari sisi lo, dan gue bakal dengerin cerita dari sisi Dewi."
"Oke."
Irsyam pergi begitu saja meninggalkan Sekar.
"Sialan tuh anak."
"Ck Dasar kulkas 50 pintu."
"Gue harus cari tau semuanya."
__ADS_1
...Jangan lupa vote dan juga follow author....
...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinya...