Dear Irsyam

Dear Irsyam
Wanitaku


__ADS_3

Alsya pov


Setelah mengantarkan Kak Reza ke tempat peristirahatan terakhir kini aku hanya sendirian dirumah, benar-benar sendiri. Aku memandangi foto lama ku dan Kak reza. Kakak beradik yang sedang tersenyum bahagia sambil memakan ice cream. Air mataku jatuh begitu saja. Melihat foto itu.


"Gimana aku bisa hidup di dunia ini kalo kamu ninggalin aku sendirian disini Kak."


"Padahal hari itu Kakak udah sembuh, kenapa sekarang jadi gini."


"Hiks hiks."


"Ya Tuhan, mengapa engkau ambil Kak Reza."


"Mamah udah ninggalin aku Papah juga dan sekarang kenapa Kak Reza juga ninggalin aku."


"Apa aku bakal kuat ngadepin ini semua?"


Aku beralih mentap album lainnya disana ada foto kami bertiga yaitu Alsya, Dewi, dan Sekar.


"Hiks hiks gue kangen kalian."


"Maafin gue Dewi, selama ini gue iri sama lo. Lo selalu aja dapetin apa yang lo mau. Keluarga, kebahagian, dan bahkan orang yang lo cintai juga cinta sama lo sedangkan gue?"


"Hiks hiks."


......................


Dewi pov.


Setelah selesai mengantarkan Kak Reza ke tempat peristirahatan terakhirnya, kini aku hanya berdiam diri di Kamar. Kehilangan dan rasa sakit teramat dalam saat ini sedang aku rasakan. Aku teringat kembali momen-momen bahagia saat bersama dengan Kak Reza. Hatiku kembali merasakan sesak saat mengingatnya. Aku mencoba untuk melampiaskan kesedihanku dengan menuliskan sesuatu di buku diaryku.


Terima kasih sudah datang dalam hidupku dan membuatku bahagia, Terima kasih sudah mencintaiku setulus hatimu. Tetapi yang terpenting, terima kasih telah menyadarkanku bahwa ada waktu di mana akhirnya aku harus merelakanmu pergi.


^^^-Reza^^^


Aku kembali menangis membaca tulisan singkat yang ku tulis. Kenapa rasanya se menyakitkan ini? Ternyata memang benar ya, definisi perpisahan sangat menyakitkan itu seperti ini?


......................


Seorang lelaki sedang memandangi langit-langit kamarnya. Perasaannya saat ini sangat kacau. Bayang-bayang Dewi dan Nathan saat berpegangan terus terbesit didalam otaknya.


"Sialan gue nggak bisa lupain kejadian itu."


"Gimana keadaan Dewi ya?"


"Arghh maafin gue Dewi..."


"Dia pasti juga cemburu ngeliat gue tadi."


"Ck bego banget Sam, Lo tadi malah nambahin dia sakit hati."


"Gue nggak becus jadi cowoknya."

__ADS_1


"Perasaan cewek gue gimana gue aja nggak tau."


"Samperin rumahnya nggak ya?" dirinya terus bergulat dengan fikiran


"Samperin aja lah." ucapnya beranjak dari tidurnya dan mengambil jaket


......................


Ting tong.


"Iya sebentar." ucap ART Dewi


"Eh Den Irsyam, silahkan masuk."


"Dewinya ada Bi?"


"Ada Den, saya pang.."


"Eh nggak usah, Sekarang dia dimana?"


"Dikamar Den, dari pulang tadi Neng Dewi ngurung diri dikamar."


"Udah makan Bi?"


"Belum Den."


"Sekalian saya bawain makannya boleh?"


"Boleh Den, sebentar Bibi ambilin."


"Ini Den." ucapnya sambil memberikan nampan berisi makanan


"Emm ngomong-ngomong Tante Linda sama Om Risky belum pulang Bi?"


"Udah, lagi keluar tadi katanya mau nemuin client si Aden Tino juga ikut Nyonya sama Tuan."


"Em gitu, kalo gitu Irsyam ke atas dulu ya nemuin Dewi."


"Iya Den."


Ceklek


Ku buka pintu kamar milik Dewi, tidak dikunci ternyata.


Sakit.


Itulah yang kurasakan sekarang, saat melihat wajah wanitaku. apakah aku sudah membuat wanitaku menangis? Jika iya aku adalah lelaki brengsek yang pantas untuk dihajar Om Risky.


"Hei." sapaku selembut mungkin


Dia hanya diam saja lalu membuang pandangannya dariku.

__ADS_1


Aku meletakkan nampan makanan di atas nakas miliknya. Ku hampiri wanitaku lalu aku memeluknya. Dirinya menangis dipelukan begitu aku memeluknya.


"Kamu jahat." lirihnya


Seperti disayat pedang hatiku terasa perih mendengar ucapan yang ia lontarkan. Apa ini? Aku telah membuat wanitaku menangis?


"Maafin aku."


"Jangan nangis. Hati aku sakit kalo kamu nangis."


Dewi pun melepaskan pelukannya.


"Tau apa kamu soal sakit hm?" ucapnya lembut namun menamparku


"Maaf." saat ini aku hanya bisa mengucap kata maaf padanya


Dia hanya mengulas senyum.


"Nggak papa aku ngertiin kok."


Ya Tuhan, dia ini wanita macam apa? bagaimana bisa, hatinya sudah aku lukai dan dia bisa memaafkanku semudah itu? Dan lebih lagi dia masih bisa tersenyum saat hatinya merasakan sakit? Apakah aku lelaki brengsek yang telah menyakiti bidadari ciptaan-Mu?


"Sayang maafin aku, sebelumnya aku nggak nyaman sama perlakuan dia tapi mau gimana. Dia juga lagi berduka. Asal kamu tau aku juga mikirin gimana perasaan kamu nanti kalo ngeliat ini semua."


"Tapi ternyata justru aku yang dapet hadiah, kamu malah dirangkul Nathan. Sakit banget sayang ngeliat itu."


"Iya aku minta ma..."


"Kamu nggak salah, aku yang salah. Pasti kamu gitu karena udah ngeliat aku duluan kan."


"Maafin aku ya..."


"Jangan nangis lagii."


Tes.


Satu air mataku lolos begitu saja. Baru kali ini aku menemukan wanita yang benar-benar seperti bidadari hatinya.


"Look me." ucap Dewi sambil mendongakkan wajah Irsyam


"Kok nangis hm?"


Grebb


Seketika Irsyam memeluk Dewi dan menangis di pelukannya.


"Maafin aku sayang hiks."


"Hei udah ya jangan nangis. Iya aku maafin."


"Nggak tau kamu baik banget."

__ADS_1


"Beruntung banget aku punya kamu."


"Aku juga beruntung punya kamu sayang."


__ADS_2