
...Happy reading....
“Oke anak-anak, jadi untuk materi hari ini cukup sekian. Minggu depan kita akan praktik ya, jangan lupa materinya di hafalkan.”
“Kalu begitu sekian dulu dari pertemuan kita hari ini, sampai ketemu minggu depan lagi.”
“Baik bu.” ucap kami serentak
“Sekarang jelasin semuanya.” ucap sekar
“Oke jadi gini.”
Flashback on
Di sore hari yang cerah ada seorang wanita sedang duduk sambil melihat keindahan danau.
“Aku merasa di dunia ini tidak ada yang peduli dengan ku.” ucapnya sambil menatap danau indah yang airnya sangat tenang dan disitu dia benar-benar bisa melihat ketenangan yang sesungguhnya.
“Sebenarnya ada yang peduli denganmu, namun dia tidak mengatakan (aku peduli padamu) hanya saja dia melakuan tindakan yang peduli padamu.” kata seseorang yang tiba tiba duduk disebelahku
“Mungkin.”
Heningg.
Kami larut dalam fikiran masing-masing, hingga akhirnya aku membuka suara.
“Siapa namamu?” tanyaku pada lelaki tersebut
“Irsyam.” balasnya sambil melihat ke arahku
Ku lihat dari matanya, sepertinya dia sedang tidak baik-bik saja.
“Mungkin jika kamu ingin berbagi cerita, dengan senang hati aku akan mendengarnya.” tawarku padanya
“Ternyata dunia sekejam ini ya, sampai-sampai tidak mengizinkanku tersenyum.”
“Kenapa?” ucapku refleks
“Entah mengapa, masalah selalu datang padaku. Untuk istirahat saja rasanya sungguh tidak mungkin. ya aku tau, pasti semua orang punya masalah masing-masing dan ah sial seharusnya aku tidak menceritakan padamu.” terangnya
“Memang dunia itu sungguh kejam dan kau percaya bukan? Tak selamanya yang bahagia akan terus bahagia dan yang sedih tak akan terus sedih. Karena roda kehidupan itu selalu berputar. Dan aku tau kau pasti sudah melakukan yang terbaik di sini.”
“Tapi kapan?”
“Nanti semuanya akan terbayarkan selama ini yang kamu usahakan, suatu saat nanti kamu akan menikmatinya, bersabarlah.”
"Baiklah."
Flashback off.
“Terus ternyata Irsyam itu anaknya temennya bokap, jadi yaudah deh sekarang jadi kenal.”
“Anjir yang pas di danau itu kek cerita-cerita novel”
(Lah ini kan juga emang cerita novel sekar)
(Eh iya thor lupa hehe:) )
“Terus yang soal pacaran itu? Emang iya kalian pacaran?"
“Belum sih, cuma dia udah pernah ngungkapin perasaannya. Tapi belum aku kasih jawaban."
“Parah digantung perasaannya, tapi mending kamu buruan kasih jawaban deh, kalo dia nyari cewe lain gimana."
“Tapi Alsya?”
“Kenapa? kan Irsyam nyatain perasaannya ke kamu bukan ke dia.”
"Iya sih..."
“Eh tapi aneh nggak sih Alsya tadi?”
“Sejak kapan dia punya mantan disini kok nggak ngasih tau kita?”
“Iya juga ya."
"Apa jangan-jangan dia sengaja, biar bisa deket-deket sama Irsyam?”
“Udah ah nggak boleh ngomong gitu dia juga temen kita."
"Semoga aja masih jadi temen kita dewi."
......................
“Kamu yakin sama apa yang kamu omongin tadi sya?” tanya Arin
“Yakin, kamu bilang aja ke Irsyam yang tadi aku omongin.”
“Sam bisa tolongin aku nggak, Alsya tiba-tiba pusing. Aku lagi nggak bisa nganter” ucap arin dibuat sepanik mungkin namun nihil drama mereka kurang pro:v
“Nggak.” jawab Irsyam acuh sambil melangkahkan kaki keluar kelas
“Ihh kok Irsyam jadi beda gitu sih.” ucap Alsya
“Coba pakek cara lain deh.”
“Hai sya, rin.” sapa Dewi
“Hai dewi ya ampun cantik banget.” balas arin
Alsya pun tidak menjawab sapaan dari Dewi dan langsung pergi begitu aja.
“Alsya kenapa?” tanyaku pada arin
Dengan sifat polosnya Arin pun mengatakan semua rencana Alsya.
"Yaudah aku mau nyusul Alsya dulu ya dahhh!"
"Tuh kan bener dugaan aku."
“Kamu buruan nerima Irsyam deh, sebelum dia kegatelan sama Irsyam”
Aku memutuskan untuk menelpon Irsyam.
(Dimana?)
(Otw pulang, ini lagi di parkiran kenapa?)
(Tungguin, aku ke situ)
(Oke)
“Ambil motor yuk.”
“Irsyam di parkiran katanya.”
“Oke yuk.”
Kami ke parkiran untuk mengambil motor setelah itu menuju ke fakultas bisnis dan manajemen.
“Tuh Irsyam.”
Tin.
”Ayo pulang.”
“Tumben ngajakin bareng.” ucapnya
Ku hiraukan ucapannya.
Kami bertiga menaiki motor masing-masing dan melajukan membelah jalanan kota Bandung.
Tin.
“Sampai ketemu di kampus besok, semangat kamu pasti bisa!!!!”
“Oke bestie!"
Aku dan Irsyam berpisah dengan Sekar, karena arah rumah kami berbeda. Lampu lalu lintas yang semula hijau berubah menjadi merah. Kami pun berhenti.
“Kita ke alun-alun bentar ya?” tawarku padanya
“Iya sayang.” ucapnya
Aku pun nyaris salah tingkah dengan ucapannya barusan. Suka sekali dia membuat jantungku disko:)
Lampu berubah menjadi hijau, kami menjalankan motor menuju alun-alun. Setelah perjalanan cukup lama, akhirnya kami sampai di alun-alun. Ku buka helm ku dan turun dari motor. Irsyam pun melakukan hal yang sama.
“Mau ngapain nih btw.”
__ADS_1
Ku lihat para wanita menatap ke arah irsyam dengan kagum. Ku gandeng tangannya lalu menjauh dari tempat sana. Dia pun hanya menurut. Ku rasa tempat di dekat danau cukup sepi jadi aku memutuskan untuk mengajaknya kesana.
“Dasar nyebelin.”
“Kenapa sihh marah-marah?”
“Itu cewek-cewek tadi!”
Irsyam terkekeh kecil “Kalo lagi marah gini lucu deh.”
Namun ku hiraukan.
“Tadi disuruh nganterin Alsya kenapa nggak mau?” tanyaku berbasa basi
“Nggak.” jawabnya singkat
“Kenapa?”
“Aku nggak mau kamu sakit hati.”
“Kita kan nggak ada hubungan.”
Ku lihat dia agak kecewa mendengar ucapanku barusan.
“Oh iya, sorry.” ucapnya dingin
Aku menoleh ke arahnya.
“Tapi kalo sekarang aku mau.”
“Ambigu.” singkatnya
“Iya aku terima, aku mau jadi pacar kamu.” ucapku tersenyum manis ke arahnya
Dia pun langsung menoleh ke arahku.
“Serius?”
“Iya!”
Dia pun memeluk ku.
“Makasih, aku bakal berusaha jadi cowo yang baik buat kamu.”
“Iya sayang.”
Dia pun melepaskan pelukannya.
“Tadi bilang apa? Nggak denger ulangin lagi dong.”
“Nggak.”
“Ulangin lagi dong.”
“Plisss.” ucapnya memelas
“Iya sayang.” ucapku menahan panas dipipiku
“Yes gue pacarnya Dewi.”
“Gue diterimaa!!” teriaknya
Ku tutup mulutnya agak tidak berteriak lagi.
“Heh diem.” ucapku
Hahaha dia pun tertawa tidak jelas.
“Jadi keinget dulu kita pertama kali ketemu juga di danau.” ucapnya
“Mana kamu cantik banget waktu itu.”
“Bisa aja kamu.”
“Eh udah jam segini, aku mau jemput Tino nih.”
“Nggak makan dulu?”
“Enggak deh, nanti dirumah aja."
“Aku ikut jemput Tino ya.” ucapnya
“Iya yuk.”
“Untung belum pulang.”
Tak berselang lama, akhirnya jam pulang pun berbunyi semua murid berhamburan keluar. Aku masih belum menemuan Tino, karena terlalu ramai.
“Tino mana ya.”
“Bentar lagi juga keluar.”
Dan benar saja Tino pun berlari ke arah kami.
“Tuh panjang umur.” ucap Irsyam lalu terkekeh kecil.
“Kakak!!!!” serunya
“Eh ada kakak baik juga.”
“Iya ganteng.”
“Aku pengen sama kak Irsyam boleh nggak kak?”
“Sama kakak aja ya, motornya kak Irsyam tinggi.” jawabku
“Pengen sama kak Irsyam.” ucapnya lagi
Aku melihat ke arah Irsyam, dan dia pun menganggukan kepalanya.
“Nggak papa nanti biar di depan aja.”
“Huft yaudah iya." ucapku mengalah
“Yeayy!!"
“Jangan ngebut ya sam.”
“Iya sayang.”
“Sayang?” tanya Tino
“Iya sayang, kenapa?” tanya Irsyam lalu tertawa renyah
“Nggak.”
Kami melajukan motor pulang kerumah, lima belas menit kami telah sampai di rumah. Ku parkirkan motorku dihalaman lalu melangkahan kaki untuk membuka pintu.
“Kak besok kalo udah besar ajarin naik motor itu ya.” ucap Tino
“Iyaa.”
“Itu namanya motor apa?"
“Ninja.”
“Wah, keren.” ucapnya kagum
“Yuk sam, masuk dulu.” ajakku
“Aku ke atas bentar ya." ucapku
Hanya dibalas anggukan kepala oleh Irsyam.
Ku langkahkan kakiku keatas untuk mengganti baju. Setelah selesai aku turun lagi ke bawah.
“Dek ganti baju dulu sana."
“Bentar kak, ini lagi main game.”
“Habis itu ganti baju ya.”
“Iyaa."
Aku melangkahkan kaki menuju ke dapur untuk memasak makan.
“Masak apa ya.” ucapku setelah membuka kulkas dan melihat bahan-bahan tersebut
“Nasi goreng aja kali ya.”
__ADS_1
Ku ambil bahan-bahan untuk membuat nasi goreng tersebut. Lalu setelah itu aku menggoreng nasi. Setelah selesai ku sajikan kepiring lalu ku hiasi dengan tomat, selada dan juga telur.
“Mau dibantuin nggak.” tawar seseorang dari arah belakang
“Enggak usah.”
“Eh, minggir dulu sam. Kamu berat tau jangan gini.”
“Bentar doang.” ucapnya sambil menyimpan kepalanya dibahuku
“Udah sana minggir, nanti kalo dilihat tino jadi salah paham.”
“Dia di kamar.” ucapnya yang masih menyimpan kepalanya dibahuku
“His keras kepala banget sih.” kesalku
Dia pun terkekeh kecil “Iya udah enggak nih.” ucapnya
“Dek makan dulu yuk!” ucapku sambil sedikit berteriak
“Buset dah pacar gue kalo teriak ga ngotak."
“Kenapa nggak suka!?”
“Ehe enggak kok.”
Tak lama Tino pun datang dengan sudah mengganti baju.
“Masak apa kak.” tanyanya
“Nasi goreng.”
Kami bertiga makan bersama, sudah seperti keluarga. Mungkin jika orang lain tidak tahu mereka mengira kami adalah sepasang suami istri dan punya anak. Aku jadi tersenyum sendiri membayangkannya.
“Dih ngapain senyum-senyum."
“Kamu ganteng.” ucapku asal
Dia pun mendadak sesak nafas.
“Kak irsyam!”
“SAM!?”
“Kamu kenapa."
“J-antung a-aku.” ucapnya terbata-bata
“Kamu kenapa."
“Aku telefon dokter ya.” ucapku panik
“Kayaknya aku cecak napas gara-gara omongan kamu barusan deh."
“Rasanya pakcepak cepak cepak jeder gitu.” ucapnya lalu tertawa puas
Plakkk.
Ku geplak tangannya, bisa-bisanya dia bercanda. Aku saja sudah ketakutan setengah mati.
“Nggak lucu.” singkatku
Ahaha “Maaf sayang, terbang nih aku habis kamu bilang ganteng.”
“Kalian pacaran ya?” tanya Tino
“Hah?!” ucapku lalu melihat ke arah Irsyam dengan wajah menyebalkannya
“Kalo iya kenapa.” balas Irsyam
“Oh.” singkatnya cuek
“Anjir di cuekin bocil dong.”
Aku tertawa puas, melihat wajah sebal Irsyam.
“Dicuekin ga tuh.” ledekku
“Tapi nggak papa deh kalo kak Dewi sama kak Irsyam."
“Awas ya kalo kak Dewi sampai nangis."
“Ku getok pala kakak.” ucapnya lalu mengetuk meja dengan tangannya
“Buset ngeri-ngeri.” balas Irsyam lalu tertawa
“Iya cil tenang aja, kalo kak Dewi sama kakak aman deh.”
“Oke.”
“Adek kok ngomong gitu sih, siapa yang ngajarin hm?” tanyaku
“Ehe, maaf ya kak. Aku Cuma nggak mau kakak disakitin.”
“Iyaa, tapi nggak boleh diulangin lagi ya ngomong kayak gitunya.”
“Iyaa sayang.”
“Aduh cil, kenapa manggil sayang coba” ucap Irsyam
“Ya suka-suka aku dong, kak Dewi kan kakak aku, tadi kak Irsyam juga bilang gitu kan."
“Tapi kan itu panggilan kesayangan kakak buat Dewi.”
“Ya aku juga sayang sama kak Dewi, emang nggak boleh manggil gitu?”
“Serah.” ucap Irsyam mangalah
“Sabar, anak kecil emang nggak mau ngalah.” ucapku
“Huft iya."
Setelah selesai makan, aku mencuci piring kotor tersebut.
“Kak aku mau main boleh?”
“Sama siapa?”
“Rafi, sama yang lain juga cuma di depan aja kok.”
“Yaudah iya, hati-hati."
“Daah kakak!!”
“Dahh!!”
Tringgg.
Ponsel Irsayam pun berbunyi menandakan ada yang menelponnya.
“Alsya.” gumamnya sambil melihat ke arahku
“Angkat aja."
Irsyam pun mengangkat tombol hijau ke atas lalu menspeaker panggilan tersebut.
“Halo sam?”
“Kamu bisa kesini nggak?”
“Kepalaku pusing banget aku lagi sendirian dirumah."
“Maaf ya aku sibuk.”
Tut..
Dia pun langsung mematikan telepon tersebut dengan sepihak.
Aku pun tersenyum tipis melihat perlakuannya.
“Temennya yang lain kan ada kenapa harus aku, modus banget” cibirnya
......................
“Ck sialan dimatiin lagi.”
“Kenapa susah banget sih dapetin dia!?”
“Nggak aku nggak boleh nyerah!”
__ADS_1
...Jangan lupa vote dan juga follow author....
...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinya....