Dear Irsyam

Dear Irsyam
Tino


__ADS_3

...Happy reading....


Setelah selesai sarapan, kami mengobrol sebentar sambil sesekali tertawa karena candaan dari Tino, hingga perkataan ayah menjeda obrolan kami.


”Nak, kamu sama Irsyam di sini dulu ya, kita mau bicara urusan orang dewasa,” kata ayah. “Sekalian Tino dijaga sebentar,” lanjutnya.


“Baik Yah.”


Mereka berempat melangkahkan kaki meninggalkan dapur. Kini hanya ada aku, Irsyam dan tino. Kedaan menjadi canggung, kuputuskan mencuci piring kotor selepas kami makan tadi.


“Aku bantu ya” Tawar Irsyam.


“Eh, nggak usah Sam.” Tolakku cepat.


“Nggak papa. Masa aku cuma ngeliatin kamu doang,” ucapnya seraya membawa piring kotor ke wastafel.


“Tapi beneran gausah Sam.”


Irsyam tidak menggubris ucapanku. Alhasil aku hanya bisa menghela nafas. Keras kepala sekali dia. Aku pun mencuci piring dan Irsyam yang mengembalikannya di rak, sementara Tino? Tentu saja dia memperhatikan kami.


“Kakak mau nikah sama... kakak baik ini, ya?” tanyanya polos.


Aku pun dibuat terkejut dengan pertanyaannya hingga tak sengaja menjatuhkan gelas yang kucuci.


Pyarrrrr.....

__ADS_1


“Kakak!!!”


“Dewi!!!” seru Irsyam, “kenapa sih gelasnya kok sampai pecah gini?” tanya Irsyam, aku pun menghiraukan pertanyaanya dan kupungut pecahan gelasnya yang sudah berubah menjadi kepingan bening tak berbentuk. Tino pun menghampiriku dan karna tak melihat dia tidak sengaja menginjak pecahan kaca.


“Tino di sana aja, Dek!”


“Arghh... sakit!” ringisnya. Aku dan Irsyam serempak menoleh kearahnya, aku melihat darah keluar dari kaki Tino.


“Dekk!!!”


“Kakak sakit...” ucapnya sambil menangis.


Aku pun berlari untuk mengambik kotak P3K.


“Dewi, ini kayaknya kaki Tino kemasukan pecahan gelas.”


“Kita bawa ke rumah sakit sekarang!” ajak Irsyam sambil menggendong Tino.


Aku mengangguk setuju.


Kami pun melangkahkan kaki ke luar rumah. Ayah, ibu, om Indra dan tante Anis melihat ke arah kami. Mereka yang awalnya duduk di taman dekat halaman depan langsung menghampiriku.


“Loh, Tino kenapa?” tanya ibu.


“Kena pecahan kaca, Bu.”

__ADS_1


“Mau dibawa ke rumah sakit?”


Aku pun menganggukan kepala dan segera menyusul Irsyam yang sudah berjalan mendekati mobil. Mereka pun demikian. Adegan selanjutnya kami semua masuk mobil dan melaju menuju rumah sakit terdekat.


Sepuluh menit kemudian kami telah sampai di rumh sakit dan Tino segera ditangani oleh dokter.


“Maafin Dewi, Yah. Dewi lalai menjaga Tino.” Ucapku pada ayah. Sementara ibu menemani Tino di ruang periksa.


“Tadi Dewi tidak sengaja, Om.” sergah Irsyam.


“Udah gapapa nak, jangan nyalahin diri sendiri ayah ngga suka” Aku pun menumpahkan air mataku ke pelukan ayah, aku takut jika tino kenapa-napa. Aku tak peduli ada irsyam dan keluarganya, sungguh ini membuat diriku takut.


“Gimana cerita awalnya?” tanya ayahku


Aku pun tak bisa menjawab perkaaan ayah, bagaimana bisa aku mengatakan apa yang tadi tino tanyakan padaku. Aku malu, ini kan juga ada irsyam dan keluarganya.


“Tadi dewi ngga sengaja liat kucing om, dia kaget terus reflek mecahin gelas” jelas irsyam


Apa-apan ini, rasanya aku ingin tertawa. Sungguh penjelasan yang tidak masuk akal. Tapi aku harus berterimakasih padanya sih, dia sudah menyelamatkanku kalau tidak mungkin yang lain akan mengejekku.


“Oh kucing ya” singkat ayahku. Mungkin dia tidak akan percaya ya aku yakin itu.


“Nanti coba ayah tanya sama tino aja ya” lanjutnya. Aku pun menoleh pada irsyam soalah menunjukan bagaimana ini. Dan dia pun sepertinya juga sama tegangnya sepertiku, apalagi tadi dia sempat berbohong pada ayah.


...Jangan lupa vote dan juga follow author....

__ADS_1


...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinyaaa....


...see you next part guyss!!...


__ADS_2