
Titttttttttt.
Terdengar suara monitor yang menandakan adanya masalah pada detak jantung pasien.
"DOKTER!!"
"DOKTER!!!"
Brak.
"Kenapa ini!?"
"Bang Reza kenapa ini?"
"Kamu tunggu diluar ya, Biar kak Adnan yang nanganin ini."
"Kak selamatin Bang Reza."
"Iya aku bakal berusaha sebaik mungkin ya, kamu tunggu diluar."
"Sus."
"Ini Dok."
"Satu dua...."
"Satu dua...."
Tittttttttt
"Satu dua...."
Tittttttttttttttt.
"NGGAK MUNGKIN."
"RE BANGUN!!!" ucap Adnan sambil menempelkan alat pacu jantung pada jantung Reza. Namun nihil lelaki tersebut tidak meresponnya.
"Dok sudah." ucap salah satu perawat
"NGGAK PASTI MASIH BISA!"
Adnan berusaha sekeras mungkin namun lagi lagi tindakannya hanya nihil. Tidak mendapatkan respon apapun dari Reza. Dan akhirnya Adnan pun hanya pasrah.
"Gue harap bakal ada keajaiban, gue nggak mau kehilangan sahabat sebaik lo Re. Bangun..." lirihnya
"Tungguin lima menit lagi, pasti Reza bangun."
"Tapi Dok.."
"TUNGGUIN LIMA MENIT LAGI!!"
"I-iya Dok." ucap perawat tersebut sambil ketakutan
Adnan keluar dari ruangan Reza. Menampakan Alsya yang sangat tegang ingin mendengar jawaban darinya.
"Gimana Kak?"
"Bang Reza baik-baik aja kan?" ucapnya antusias
Adnan memandang iba ke arah Alsya, bagaimana ini dia harus mengatakan apa padanya? dirinya juga tau bahwa satu-satunya keluarga yang Alsya miliki hanyalah Reza namun Reza.....
"Kak?"
"Maafin Kakak, Reza....."
"NGGAK!! KAKAK PASTI BOHONG!"
Adnan hanya diam saja.
"Minggir aku mau liat Bang Reza."
Alsya memasuki ruangan Reza dengan perasaan campur aduk. Dirinya belum siap menerima kenyataan itu semua. Disana ia melihat beberapa perawat sedang melepas alat infus dan alat lainnya yang menempel ditubuh Reza.
"Abang.." lirihnya sambil merasakan panas dimatanya dan air matanya pun jatuh begitu saja
"Abang!!" ucapnya lalu berlari kearah Reza
"Hiks hiks Abang jangan tinggalin Alsya."
"Abang Alsya nanti gimana kalo Abang ninggalin Alsya sendirian."
"ABANG BANGUNN!!"
......................
Pyar.
"Aduh panas banget." ucap Dewi sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Yah pecah lagi gelasnya."
"Neng Dewi."
"Ya ampun kok bisa pecah gelasnya."
__ADS_1
"Maaf Bi, panas banget tadi."
"Yaudah ini biar Bibi yang beresin, Neng ke dalam aja tadi Bibi liat ada ponsel yang berdering terus. Coba dicek punya Neng Dewi bukan."
"Iya makasih ya Bi."
"Iya Neng."
Aku melangkahkan kaki menuju ruang tamu, kenapa tumben sekali pagi-pagi seperti ini ada telepon masuk. Ku ambil ponselku tersebut dan melihat 3 panggilan dari Arin dan 5 panggilan dari Sekar.
"Duh ada apa ya." ucapku was was
Aku mencoba untuk menghubungi Sekar dan tak berlangsung lama telponku tersambung padanya.
"Hallo?"
"Lo kemana aja sih!?" ucapnya di sebrang sana
"Maaf tadi di depan ponselnya gue silent."
"Kak Reza udah nggak ada." ucapnya
Aku menjatuhkan ponselku begitu saja.
"Dewi!?"
"Hallo?"
"Kita otw rumah lo ya!?"
"Hallo!?"
"Nggak mungkin!!"
"Nggak mungkinn!!"
"Kenapa sayang?" tanya Linda khawatir
"Kak Reza Bu dia meninggal." lirihku
"Inalilahiwainailahirajiun."
"Kok bisa!?"
Aku hanya menggeleng.
Tak berselah lama Sekar dan lainnya ke rumahku.
"Dewi." panggil Sekar
"Ini nggak mungkin kan."
"Nggak mungkin Kak Reza ninggalin gue."
"Sttt udah ya, sekarang mending lo ganti baju kita kerumah Alsya."
Sekar menuntunku ke atas, dan aku pun hanya menurut saja.
"Kar."
"Iya gimana?"
"Bukannya Kak Reza udah baikan ya? "
"Gue juga nggak tau."
"Gue tadi cuma dapet telpon dari Arin, katanya Kak Reza udah nggak ada."
Tes.
Air mataku bergantian untuk jatuh. Hatiku merasa sesak mendengar berita ini.
"Yuk berangkat." ajak Sekar sambil menggandengku
Aku hanya pasrah.
"Tante kita pamit dulu ya." Ucap Rico
"Iya, Kalian semua hati-hati ya."
"Dewi, udah ya sayang. Yang kuat."
"Iya." ucapku sambil tersenyum kearahnya
"Tante titip Dewi ya."
"Siap kita jagain Tan." Ucap Nathan
fyi, Nathan udah balik ya guys.
"Mari tante."
Linda hanya mengulas senyum. Sambil menganggukan kepalanya.
Selama di perjalanan aku hanya diam saja sambil melihat kearah jalanan. Memori-memori bersama Kak Reza seketika teringat begitu saja. Hatiku kembali lagi merasa sesak.
__ADS_1
"Kenapa kamu ninggalin aku Kak?"
......................
Di rumah Alsya sudah banyak orang yang melayat. disana juga sudah ada Irsyam, Arin dan teman-teman lainnya.
"Sya, yang tabah ya." Ucap Arin
"Hiks hiks. Abang gue Rin."
"Sabar ya."
"Turut berduka cita ya Sya." ucap Irsyam
Alsya memeluk Irsyam begitu saja.
Irsyam sebenarnya merasa terganggu karena ulah Alsya barusan. Namun sebisa mungkin ia tidak marah karena mengingat kondisi Alsya seperti ini.
"Sam." lirihnya sambil menangis dipelukannya
"Hmm?"
"Gini sebentar ya."
Dari kejauhan sana ada seseorang yang sedang mentap sendu ke arah mereka.
"Harus banget ya pelukan gitu?" ucap Dewi
"Sabar." ucap Nathan sambil merangkul Dewi
"Yuk masuk." ajak Rico
Irsyam agak terkejut melihat pemandangan di depan matanya. Apa ini? Dewi di rangkul oleh Nathan? Kecewa itulah yang ia rasakan sekarang. Nathan yang melihat Irsyam sepertinya tidak nyaman atas perlakuannya barusan menurunkan tangannya dari pundak Dewi.
Sedangkan Alsya? dirinya Diam-diam tersenyum simpul melihat pemandangan didepannya.
"Wohoho ada yang cemburu nih." batinnya
"Kita semua turut berduka cita ya Sya." ucap Rico mewakili
"Makasih ya semuanya."
Hari sudah menjukkan pukul 2 siang saat ini waktunya jenazah Reza di kebumikan. Alsya menangis histeris melihat kakaknya yang sudah siap untuk di kebumikan. Para warga menggotong jenazah reza menuju tempat peristirahatan terakhir. Setelah selesai di doakan semua warga berpamitan untuk pulang kerumah masing-masing.
"Makasih ya Pak."
"Sama-sama Neng, Saya duluan ya."
"Iya Pak."
Kini hanya tersisa Alsya, Sekar, Dewi, Nathan, Rico, Arin, dan Irsyam.
Hening.
Semuanya hanya diam larut dalam fikirannya masing-masing.
"Makasih ya semuanya." ucap Alsya
"Maafin Alm. kalo ada salah ke kalian."
"Iya kita udah maafin." ucap Arin
"And ya kalian kalo mau balik duluan aja. Gue masih pengen disini."
"Gue temenin." ucap Irsyam yang dari tadi hanya diam saja.
Dewi hanya menatap lurus kearah depan. Sudah berapa kali sakit yang ia rasakan, sampai-sampai dirinya sudah tidak bisa merasakan sakit lagi.
"Lo harus pulang Sam, kasihan Dewi."
Irsyam tak bergeming.
Sejujurnya dirinya saat ini juga takut untuk melihat ke arah Dewi. Dirinya juga tak mau melakukan ini semua namun apa boleh buat hatinga juga merasa sakit saat melihat kejadian tadi.
"Pulang yuk Dewi." ucap Sekar sambil menggandeng tangannya
Dewi hanya menurut saja.
"Irsyam cowok gila yang udah berani nyakitin hati sahabat gue."
"Bro kalo masih inget ceweknya jangan lupa balik ya." sindir Nathan
Sekarang hanya tersisa Arin, Alsya dan Irsyam.
"Gue duluan." ucap Irsyam lalu pergi begitu saja
Arin dan Alsya hanya menatap kepergian Irsyam begitu saja.
"Pulang yuk Sya." ajak Arin
Alsya menghela nafas.
"Yuk."
...**hai guys, untuk siapapun yang baca novel Author mohon untuk dukungannya biar novel author semakin rame. Jangan lupa di like and comen juga biar novel ini semakin rame, biar author nggak ngerasa kecewa udah nulis banyak-banyak bab tapi likenya masih sedikit. Maaf juga kalo novel Dear Irsyam belum se sempurna novel lain....
__ADS_1
...makasih sebelumnya untuk yang sudah comen and like☺️🙏**...