
...Happy reading...
Hari ini adalah hari minggu, hari dimana semua orang bisa menikmati kebebasan dari apapun. Hari ini Irsyam dan Dewi memutuskan untuk jogging di pagi hari.
“Sayang udah belum!?” teriak Irsyam dari bawah
“Iya ini udah selesai.” Balas Dewi sambil menuruni tangga
“Aih cantik banget.”
“Aku emang cantik wlek.”
Lalu mereka pun tertawa.
“Mau kemana nih?” Tanya Indra
“Joging Pah, ikut nggak?”
“Enggak deh, Papah mau quality time sama Mamah.”
“Okedeh.”
“Duluan ya Pah!”
“Iyaa!”
......................
“Eh itu bukannya Irsyam sama Dewi!?” Tanya leon
“Eh iya!”
“Samperin yuk!”
“Woy kang bucin!!” teriak Rafael
“Ck ada tukang rusuh yang.” Ucap Irsyam
“Lari yok, kita kerjain mereka.”
“Ide bagus! Yok satu… dua.. tiga…”
Irsyam dan Dewi pun lari sekuat tenaga.
“WOI!! MALAH LARI ANJIR!!”
“Ngajak war mereka berdua.”
“Ayo kita kejar!”
“Anjir mana cepet banget larinya.” gerutu Bastian
Dan mereka pun bermain kejar-kejaran layaknya tom and jerry.
......................
“Hosh hosh.”
“Capekk.”
“Sialan lo berdua.”
“Beli minum sono Yon.”
“Anjing bentar dulu kek biar nafas dulu.”
“Aku aja Sam.”
“Eh nggak..”
“Udah nggak papa cuma didepan situ doang.”
“Iya deh.”
“Nah thanks bu bos.”
“Belum di beliin njir.”
“Heh siapa yang ngajarin?”
“Ehehe reflek sayang.”
“Bentar tunggu dulu ya!” ucap Dewi. lalu melangkahkan kaki membeli minuman
“Yoii sayang.”
__ADS_1
“Emang nggak pernah sayang nyawa lo Yon.”
Leon pun tertawa.
“Pawangnya ngeri.” Ucap Rafael
......................
Mirna pov
Hari ini adalah hari minggu, dan aku memutuskan untuk jogging diarea dekat rumahku. Saat berada di taman anggrek aku meliat sosok yang sangat aku kenali. Yap! Dia adalah kekasihku. Rafael mahendra setiawan. Aku pun ingin menghampirinya, namun ku urungkan kembali niatku karena aku berencana untuk membelikannya minum dahulu. Sesampainya aku di swalayan aku membeli beberapa minuman namun saat aku mengambilnya tak sengaja aku bertemu dengan sosok yang aku kenali.
“Dewi!?”
“Mirna?”
“Kamu ngapain disini?” tanyanya
“Mau beli minuman haus hehe.”
“Sama dong.”
"Sendirian aja kamu?" tanyaku berbasa-basi
"Tadinya sih cuma berdua sama Irsyam terus ketemu temen-temennya dijalan."
"Oh gitu."
“Emm kamu beliin minum Rafael juga?” tanyaku
“Iya.. eh enggak jadi deh Rafael kamu aja yang beliin.” Ucapnya. Sepertinya dia paham maksudku.
“Ehehe makasih Dewi!”
“Sama-sama.” Ucapnya sambil tersenyum manis kearahku.
End.
......................
Setelah dari swalayan kami berdua menghampiri Irysam dkk.
“Loh sayang?” ucap Rafael
“Kenapa?”
“Aku tadi juga jogging diarea sini, terus mampir ke swalayan beli minum. Ehh ketemu Dewi deh.”
“Yaudah aku ngikut aja hehe.”
“Kok nggak bilang-bilang sih kalau mau jogging.”
“Ya maaf tadi nggak sempet pegang hp.”
“Iya deh.”
“Oh iya nih minum buat kamu.”
“Awww makasih sayang.”
Brush.
Leon menyemburkan minumannya begitu saja.
“Lo apa-apaan sih cok, untuk nggak kena gue.”
“Yaa sorry gue kaget njing.”
“Kaget kenapa?”
“Tuh si fael kulkas, bisa-bisanya dia jadi bucin akut gitu.”
“Gue agak ngeri deh Bas.”
“Lo tau kan dulu dia pas punya pacar nggak pernah sebucin itu?”
“Iya juga ya.”
“Nggak…”
Brugh.
Rafael melempari ranting kayu kepada Bastian dan Leon.
“Hedshot!” ucap Irsyam. Lalu tertawa
__ADS_1
“Sakit njir.”
“Lagian kenapa lu pada gibahin gue ha!?”
“Ya suka-suka kita lah, ya nggak Bas.”
“Hemmm.”
“Ck emang kalo deket Leon bawaanya emosi mulu deh serius.”
“Minggat sono lu, bucin akut.” Ucap Leon bercandaa
“Dih oke, ayuk beb kita pergi dari sini.” Ucap Rafael sambil menarik tangan Mirna. Sebenarnya Rafel juga sudah tahu kalau Leon hanya bercanda
“Dih kok ngambek.”
“Gue cuma bercanda njing!”
“Ssttt gue mau enak-enakan.”
“ANJIR LO, ANAK ORANG WOI!”
“Bodoamat jatah number one!” ucapnya
“HEH!!” ucap Mirna
Mereka semua pun tertawa.
“Oh pantes kepin lengket, dikasih jatah ternyata.”
“Njir gila tu anak.”
“Sialan si fael curi start anjir.”
“Bercanda njir!” teriak Rafael
“Gue duluan, sekalian nganterin Mirna pulang.”
“Huu bucin.”
“Bodoamat wlek.”
“Pulang yuk.” Ajakku pada Irsyam
“Yuk.”
“Kita ikut ya bos.”
“Yoi.”
......................
Tit. Tit.
Terdengar suara layar monitor detak jantung pasien. Dia adalah Reza, yang saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati. Kenapa Reza saat ini bisa koma? Sebelum Reza memang sudah mempunyai penyakit syok, dan ditambah lagi akhir-akhir ini dirinya harus menerima kenyataan yang sangat mengejutkan untuk dirinya. Sebenarnya dia sudah merasakan gejala syok pada saat Dewi berpacaran dengan Irsyam, namun dia hanya diam saja. Hingga puncaknya dia menerima kabar bahwa Dewi akan bertunangan dengan Irsyam.
Alsya memandangi wajah Reza yang semakin hari semakin pucat.
“Abang lagi ngapain sih? Enak banget ya tidurnya?” ucapnya sambil membelai rambut Reza
“Bangun dong, Alsya kangen sama abang nih.”
Hening.
Tak ada sahutan suara, tetapi tunggu, apa ini? Alsya melihat Reza meneteskan air mata?
“Abang kok nangis heii?”
“Buruan bangun ya, ceritain semuanya ke Alsya.” Ucap Alsya. Lalu tangisnya pun pecah memenuhi ruangan itu.
“Kenapa abang nggak pernah cerita ke Alsya kalo punya penyakit itu.”
“Hiks hiks.”
Kini Alsya hanya sendirian, benar-benar sendiri. Tak ada seseorang yang menemaninya, padahal dirinya saat ini membutuhkan pelukan dan berbagi cerita kesedihannya.
“Puas lo udah bikin gue menderita?”
“Gue nggak nyangka, selama ini gue selalu mikir lo adalah sahabat terbaik gue, tapi apa?”
“Lo selalu ngecewain gue.”
“Hiks hiks.”
“Gue benci sama lo Dewi!” ucap Alsya penuh dendam dan amarah
__ADS_1
...jangan lupa like, comen, dan juga vote bantu Author buat ngeramein novel ini....