
Aku membuka mataku. Rasa sakitnya masih terasa akibat pukulan keras tadi. Dan dimana aku? Kenapa tangan dan kakiku di ikat.
“Tolonggg!!” teriakku berusaha minta tolong
Ceklek.
Tiba-tiba pintu terbuka menampakan seseorang dengan pakaian serba hitamnya.
“Siapa kamu!” teriakku
“Jangan mendekat!!”
"Hahaha oh akhirnya, sebentar lagi Irsyam bakal jadi milik ku."
“ALSYA!!” pekikku kaget
“Ah tidak seru, kenapa kau mengenaliku terlebih dulu.” ucapnya lalu membuka topi dan maskernya
Dia tersenyum ke arahku.
“Hai sahabatku.”
“Udah lama kita nggak ngobrol bareng ya.”
“Lepasin gue!!!”
“Nggak semudah itu!”
Plak.
Satu tamparan dari Alsya berhasil mendarat di pipi Dewi.
Dewi meringis menahan sakit.
“Kenapa? Sakit?”
“ITU ENGGAK SEBERAPA SAMA SAKIT YANG LO PERBUAT KE GUE DEWI!!!”
“LO KENAPA NGAMBIL SEMUANYA DARI GUE!?”
“KAK REFAN! ABANG REZA! DAN SEKARANG LO MAU AMBIL IRSYAM DARI GUE!!?”
Plak.
“ASAL. LO TAU YA!! GUE IRI SAMA LO! LO SELALU DAPETIN APA YANG LO MAU SEDANGKAN GUE!? GUE APAA!!?? SELALU KALAH DARI LO!”
“BAHKAN SAHABAT GUE ARIN, SATU SATUNYA YANG GUE PUNYA DIA JUGA BERPIHAK KE LO KAN!?”
“GUE NGGAK NGAMBIL MEREKA DARI LO!” teriak Dewi sambil berusahan menahan tangis. Bukan karena rasa sakit karena tamparan dari Alsya. Melainkan rasa sakit dari hatinya, dia tidak habis fkir dengan sahabatnya dulu, kenapa dia melakukan ini semua hanya karena iri? Sungguh kecewa dan sakit hatinya
“DAN LO TAU!? APA YANG UDAH LO PERBUAT!? BANG REZA SEKARANG UDAH NGGAK ADA GARA-GARA SIAPA? LO!” ucap Alsya sambil menitikkan air mata
Jederr.
Bagai tersambar petir. Dewi sungguh terkejut atas ucapan Alsya barusan. Apa benar ucapan Alsya bahwa dirinya sungguh jahat? Bahwa dia egois? Tidak memikirkan perasaan orang lain?
“Ma-afin gue Sya.”
__ADS_1
“Maaf lo bilang?”
“Gue kecewa sama lo, lo tau kan di dunia ini cuma Bang Reza yang gue punya. Kenapa? Kenapa Dewi? Kenapa lo tega bikin bang reza ninggalin gue? Lo jahat!!!"
“Argh” ringis Dewi.
Sekarang tubuhnya sudah luka-luka akibat ulah Alsya yang terus menamparinya dan menendangnya.
“Bunuh gue Sya, mungkin gue emang pantes dapetin ini semua”
“Maafin gue, gue egois Sya. Jujur gue nggak ada niatan sama sekali buat bikin Kak Reza kayak gitu. Gue juga sakit Sya, gue juga merasa kehilangan.”
“Kalo lo mau Irsyam ambil aja, gue ikhlas. Sekarang bunuh gue, ayo Sya” ucap Dewi sambil tersenyum kecut ke arah Alsya.
Alsya membuang mukanya ke arah lain, lalu tiba-tiba dia meninggalkan ruangan tersebut begitu saja.
Tangis dewi pun pecah, dia sedari tadi sudah menahan mati-mati an untuk tidak menangis di hadapan Alsya, hatinya sungguh terluka. Di satu sisi dia ingin bahagia dengan Irsyam cintanya dan disatu sisi dia juga merasa bersalah dengan Reza dan Alsya.
Disatu sisi.
“Hiks hiks maafin gue Dewi.”
“Tapi lo udah bikin Bang Reza ninggalin gue selama-lamanya."
“Gimana Sya?”
“Tuh cewek udah lo bunuh?”
“Belum.”
"Jangan sampai ada yang nyentuh dia!"
"Bima gimana?"
"Masih pingsan."
"Jagain dia jangan sampai lolos."
"Oke, selagi bayaran lo juga oke. Kita bakal ngelakuin sesuai perintah lo.."
......................
“Tinoo! Kak Dewi udah pulang belum Nak?”
“Belum Bu."
“Yah, kenapa Dewi tumben banget ya pulang malem nggak ngabarin.”
“Ibu jadi khawatir nih.”
“Coba Ayah telfon dia.”
Nomer yang anda hubungi sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.
“Nggak diangkat.”
“Coba telfon Sekar.”
__ADS_1
Tak berselang lama panggilan telepon tersebut tersambung.
“Halo Om." ucap suara disebrang sana
“Halo, Nak Dewi ada disitu?"
“Nggak tuh Om.”
“Kamu tau tadi dia pergi kemana?"
“Emm.. oh tadi katanya dia di whatsApp Irsyam Om. Mungkin sekarang dirumah Irsyam.”
“Oh yaudah kalo gitu makasih ya Nak.”
“Sama-sama Om.”
Tut.
“Gimana Yah??”
“Dirumah Irsyam.”
“Huft syukur deh kalo gitu, tapi kenapa nggak pulang ke rumah?”
“Ya mungkin Anis pengen dewi disana, kan dia katanya juga pengen masak bareng sama Dewi”
“Iya deh”
......................
“Makan nih” ucap seorang laki-laki
“Nggak laper”
“Lo harus makan, biar nggak mati!” ketusnya
“Kenapa gue harus hidup, kalo gue selalu bikin orang lain sakit hati?”
Tiba-tiba cowo tersebut merasa tidak tega atas ucapan perempuan barusan.
“Yaudah lo mending makan deh.” ucapnya agak melembut tidak seperti tadi
“Nih” sambil menyodorkan nasi kearahnya
Dewi tersenyum ke arah laki-laki tersebut.
“Siapapun lo thanks ya, udah ngasih gue makan. Tapi gue nggak laper.”
“Gue pergi dulu.”
“Ibu, Ayah, Irsyam Dewi takut.”
“Hiks hiks.”
“Irsyam tolongin aku.”
...jangan lupa like and comen. Biar author tambah semangat UP BAB nya☺️...
__ADS_1