
...Happy reading....
“Aduh kalo yang udah otw halal mah beda ya.” celetuk Nathan tiba-tiba
“Situ iri?”
“Heh paan lo.”
“Kode keras tuh Rin.” ucap Rico
“Apaan kok aku?!”
“Halah kalian berdua sama-sama suka kan, cuma ya gengsi aja.” timpal Sekar
“Nah bener tuh beb.” ucap Rico tiba-tiba
lalu dia pun menutup mulutnya.
“Apa tadi?” tanyaku
Aku pun beralih menatap sekar. Dia pun gelagapan.
“Kamu hutang penjelasan.” ucapku padanya
“Woah anjir, diem-diem bae.”
“Aku kira kamu orangnya pendiem Ric. Ternyata diem-diem juga diem ya” goda Arin
Sekar dan Rico pun merasa malu karena sudah terpojok.
“Iya kita pacaran kenapa.”
“Gue suka cara lo bro.”
“Ekhem jadi pacaran nih?" ucapku sambil melirik kearah Sekar
“Oke aku jelasin.”
Sekar pov.
Aku menunggu Rico menjemputku ke acara tunangan dewi. Entahlah kenapa hari ini aku merasa ada yang berbeda dengan diriku. Ya perasaan senang itu yang aku rasakan. Setelah menunggu sekian lama akhirnya Rico datang.
“Maaf ya lama.” ucapnya sambil mengusap keringat di dahinya
Tampan itu lah yang kulihat darinya.
“HEI SEKAR!”
“Eh iya.” ucapku gelagapan
“Kamu marah?”
“Kenapa harus marah?”
“Ini tadi emang kenapa?”
“Bensin aku habis, tadi udah mau sampai ke pom tapi malah mobilnya mogok."
“Yaudah yuk berangkat keburu mulai acaranya.”
Kami berdua sudah berada dimobil. Keadaan hanya hening. Hanya terdengar suara deru mobil memecah keheningan diantara kami.
Ckit.
Tiba-tiba Rico mengerem mendadak.
“Auhh.” ucapku sambil memegangi dahiku yang terbentuk mobil
“Eh maaf-maaf.”
“Sakit banget ya, sini-sini.” ucap Rico lalu meniup-niup dahi Sekar
Sekar tak menolak. Keduanya pun menatap satu sama lain. Mereka hanyut dalam tatapan itu. Hingga tiba-tiba Rico membuka suara.
“Aku nggak tau ini waktu yang tepat atau justru sebaliknya.”
Rico mengambil nafas lalu mengucapkan “Aku suka sama kamu.”
“Ha-h?” ucap Sekar kaget
“Aku suka sama kamu.” ulangnya sambil tersenyum manis.
Blush.
Pipi sekar merona.
“Nggak perlu jawab sekarang sih aku ud...”
“Aku juga suka sama kamu.”
Rico pun membulatkan matanya. Ya dia kaget sekaligus senang mendengar jawaban Sekar.
“Aku selama ini cuek ke kamu karena mau tau seberapa usaha yang kamu lakuin buat memperjuangin aku.”
“Dan ya, you succeed.”
Tiba-tiba Rico memeluk Sekar.
“I love you” bisiknya tepat ditelinga Sekar
“I love you too”
End.
“Aduh sahabat aku sekarang udah bucin ya” ledekku pada sekar
“Dewiiii” ucap Sekar malu
Semua yang disana pun tertawa.
......................
Setelah beberapa jam kemudian.
“Huft alhamdulilah semuanya lancar.” ucapku
“Iya sayang alhamdulilah.”
Irsyam dan Dewi pun sedang beristirahat di kamar hotel. Mereka sudah mengganti baju sebelumnya.
“Ngapain ngeliatin gitu?”
“Cantik.”
Dewi pun tersenyum.
“Sini.” panggil Irsyam
Dewi beranjak dari kasur menuju sofa yang didudukki Irsyam.
“Capek?”
“Lumayan sih, tapi nggak papa hari ini seneng banget.”
Irsyam terkekeh kecil. Dan mencubit pipi Dewi dengan gemas.
“Sakit tau.”
“Maaf.” ucap Irsyam lalu cengengesan
“Aku nanti mau pergi kamu ikut nggak?”
“Kemana?”
“Ziarah ke makam Alm. Adek aku.”
“Dimana? Jakarta? Apa di sini?”
“Jakarta.”
“Aku ikut ya.”
“Iya sayang.”
“Kamu istirahat aja dulu, nanti kita berangkat jam 3.”
“Emm okedeh.”
......................
“Sayang.”
“Hei, bangun yuk.”
__ADS_1
“Udah jam tiga nih.”
“Iya-iyaaa...."
“Buruan mandi sana.”
“Bentar ya.”
"Iya."
Ceklek.
“Udah selesai?”
“Udah yuk.”
Ku ambil tas dan ponsel ku lalu kami melangkahkan kaki keluar.
Disana sudah ada Om Indra dan Tante Anis. Dan beberapa pemuda.
“Maaf Dewi telat” ucapku
“Nggak papa sayang, yuk berangkat” ucap Tante Anis
Kami mengendarai mobil masing-masing. Di mobil pertama ada Om Indra dan Tante Anis. Dimobil kedua ada aku dan Irsyam. Dan dimobil ketiga ada beberapa pemuda tadi.
“Mereka siapa?”
“Temen aku yang di Jakarta.”
Aku hanya menganggukan kepala. Irsyam fokus menyetir dan aku pun melihat pemandangan sekeliling. Tiba-tiba ponselku berdering. Ada panggilan video call dan tertera nama ibu di layar poselku.
“Siapa” tanya irsyam
“Ibu.”
Ku angkat panggilan tersebut.
“Kakak!!” pekik suara anak kecil yang sangat aku kenali ya dia adalah Tino
“Hei kenapa?”
“Kakak kok nggak pulang?”
“Maaf ya kakak lagi pergi sama kak Irsyam, nih” ucapku sambil menyodorkan ponsel ke arah Irsyam
“Hai ganteng.”
“Haii kakak baik!”
“Kak,Tino pengen sama kak Dewi, sama kakak Irsyam juga.” ucapnya pada Irsyam
Irsyam terkekeh kecil “Besok deh kakak ajak main sama kak Dewi juga."
“Kalo sekarang nggak bisa, kak Dewi lagi pergi sama kakak.”
“Tino mau apa biar nanti kakak beliin deh.”
“Beneran?!!” ucapnya girang
Irysam menganggukan kepalanya.
“Aku mau robot-robotan aja deh.”
“Sama ice cream.”
“Boleh nggak kak.”
“Boleh dong.”
"Yess, makasih kakak baik!!"
"Sama-sama."
“Udah dulu ya telfon nya, nanti lagi.”
“Tino disana jangan nakal ya”
“Iya siap.”
“Udah dulu ya dek.”
“Dadahhh Kak Dewi, Kak Isryam”
Tut.
Setelah beberapa jam ahirnya kami telah sampai di Jakarta. Kami langsung menuju Pemakaman.
Kami melangkahkan kaki ke batu nisan yang bertuliskan.
Alm. Tino Mahendra Hermawan.
Deg.
Jantungku berhenti sejenak.
“Tino?” tanyaku dalam hati
Tante Anis dan Om Indra berjongkok, aku dan Irsyam pun melakukan hal yang sama.
“Nak, apa kabar kamu? Kamu pasti liatin Mamah, Papah, sama Kak Sam di atas sana ya?” ucap Anis
“Oh iya nak Kak Sam hari ini tunangan loh.”
“Mana calon istrinya cantik banget lagi.” ucap Tante Anis sambil tersenyum menatapku
“Nak kamu kenapa ninggalin mamah sih.” kini tangis Anis pun pecah dengan cepat Indra memeluk dan menenangkannya.
“Shutttt, hei, udah Mah udahh.”
“Hiks Pah, anak kita pah dia ng-gak tau a-apa apa pa-h.”
“Pah bawa pulang aja, Mamah juga pasti kecapekan.”
“Oke kalo gitu Papah pulang ya.”
“Hati-hati Pah.” ucapku dan Irsyam bersamaan
Dan Indra pun menganggukan kepalanya.
Kini hanya tersisa Irsyam dan Dewi di sini. Irsyam tidak bosan-bosannya menatap batu nisan adiknya itu.
“Sam.” panggilku
“Hmm?”
Aku menepuk-nepuk bahunya pelan.
“Aku tau, kehilang seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita itu benar-benar menyakitkan. Kalo andai aja waktu bisa diputar kembali, semuanya mungkin nggak akan begini, tapi hidup ini kayak roda yang bakal maju terus kedepan. Ingat, Tuhan sebelum ngasih cobaan itu pasti udah nyiapin gantinya.”
“Kamu.” ucap Irsyam
Aku pun tersenyum ke arahnya.
Aku memandangi batu nisan tersebut lalu membuka suara. “Adek yang tenang disana ya, doain kita dari atas ya, walaupun kakak belum tau kamu. Kamu pasti orang yang baik banget” ucapku sambil menaburkan bunga ke batu nisan tersebut
“Pipipipip kakak ipar.” celetuk Irsyam nyeleneh
“Astagfirullah bukan suami gue.” ucapku yang tak kalah nyeleneh
Irsyam pun tertawa. Aku juga ikut tertawa.
“Makasih sayang.” ucapnya
Aku mengangkat alisku keatas.
“Makasih udah bikin hidup aku jadi bahagia dengan adanya kamu, jangan tinggalin aku ya.”
“Iyaa.” ucapku
Entah datang keberanian dari mana tiba-tiba aku mencium pipi Irsyam, dan berlari begitu saja meninggalkannya. Dia pun masih berdiri mematung disana.
“Aih gadis nakal.” Ucap Irsyam salah tingkah
......................
Malam pun tiba. Kulihat Mamahnya Irsyam sedang memasak didapur, lalu aku pun menghampirinya.
“Dewi bantu ya Mah.”
“Nah gitu dong, panggilnya Mah”
Aku pun tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
“Ini kok banyak banget masaknya?”
“Iya temen-temennya Irsyam pada kesini.”
“Tuh lagi pada di belakang.”
Aku hanya menganggukan kepala.
“Nak tolong kamu kasih camilan sama minuman buat temen-temen Irsyam. Minumannya ambilin dikulkas aja. Mamah lupa tadi.”
“Iya Mah.”
Aku mengambil beberapa camilan yang tersedia dan mengambil beberapa kaleng minuman di kulkas. Lalu aku segera melangkahkan kaki ke belakang. Dan anehnya saat aku datang mereka langsung terdiam seolah sedang membicarakan tentangku. Aku pun agak sedikit canggung.
“Sam nih.” ucapku sambil menyodorkan camilan dan minuman padanya
“Buset calon bini lo cantik banget Sam.”
“Anjir spek bidadari nih bos.”
“Gila kalo ini mah gue juga mau cok.”
“Ya kalo nggak sayang nyawa its okey sih.” ucap Irsyam santai
“Anjir lupa gue kalo pawangnya leader bla...”
Bugh.
“Sakit anjing”
“Ya sorry maksud gue tadi mau ngasih minum ke lo” ucap Kevin
“Eh ah iya thanks cok.”
“Leader? Maksudnya?” tanyaku pada mereka
“Itu lo sayang, kita tuh dulu buat geng gitu waktu SMA nah mereka milih aku jadi leadernya. Nama geng kita dulu apa ya ah lupa udah lama juga ya nggak.” terang Irsyam
“Yoi bro.” jawab mereka serempak
“Oh.”
“Yaudah aku mau bantuin mamah masak.” pamitku pada Irsyam
“Iya sayang.” ucap mereka serempak lalu tertawa.
“HEH SIALAN KALIAN!” ucap Irsyam
Aku pun pergi meninggalkan mereka lalu menuju dapur.
“Anjing lo Yon, nyaris aja keceplosan.”
“Ya sorry bos.”
“Jadi cewe lo nggak tau soal ini Sam?” tanya Bastian
“Nggak.”
“Eh liat nih.”ucap Kevin pada mereka
“Paan cok.”
“Lambang black wolf?”
“Kenapa?”
“Orang yang ngikutin cewe lo Sam, ternyata anggota black wolf.”
“Bangsat!”
“Eh kalem bos, kaget woi!”
“Tapi pertanyaan gue kenapa mereka ngikutin cewe lo?”
“Gue juga nggak tau.”
“Atau jangan-jangan cewe lo itu juga anggota gengster” tebak Leon
Plak.
“Mulut lo njir.”
“Auhh, ya kan siapa tau ya nggak Bas.”
“Nggak mungkin sih kalo menurut gue.”
“Sam cewe lo ada musuh nggak? Atau apa gitu. Biasanya cewe secantik itu bakal banyak yang iri.”
“Ada, sahabatnya sendiri malah.”
“Ada kemungkinan nggak kalo dia iri terus nyewa gangster buat nyingkirin cewe lo?”
Irsyam menatap tajam kearah Kevin.
“Santai gue cuma tanya.”
“Mungkin.”
“Emm gue bakal cari tau soal itu, dan lo tetep waspada dan pantau terus cewe lo.”
“Thanks Vin, gue percaya sama lo.”
Kevin pun menganggukan kepalanya.
“Gue juga udah pasang pelacak di handpone Dewi.”
“Sip.”
......................
“Nasinya segini udah pah?”
“Udah mah.”
“Kevin, Leon, Bastian ayok makan kayak biasanya aja.”
#fyi temen-temen Irsyam di jakarta tiga itu ya guys
“Iya Mah.” balas mereka serempak
“Ambilin dong sayang.” ucap Irsyam
“Dih ambil sendiri kenapa.”
“Aku kan juga pengen kayak Papah, diambilin sama Mamah. Nah kalo aku maunya diambilin kamu.”
“Itung-itung latihan jadi calon istri ya nggak Mah.”
Blush.
Sumpah demi apapun aku sangat malu sekarang. Dan aku yakin saat ini pipiku merona.
“Iya sayang, coba gih” Ucap Tante Anis
“Yang bucin mah beda ya.” celetuk Leon
“Es nya udah cair ya bund.” timpal Bastian
“Iri bilang babu.”
“Pehhhh.”
“Segini udah belum nasinya?”
“Udah, emm sayurnya aku mau pakek yang udang jagung saus padang aja.”
“Nih.”
“Makasih sayang.”
“Aku juga dong sayang” ucap Bastian
“Lo mau sayur bogen kanan atau kiri?”
“Aih posesif banget sayang aw.”
“Jijik woi.”
Hahaha tawa pun pecah memenuhi ruang makan ini.
“Udah udah makan dulu keburu dingin.” lerai Anis
...Jangan lupa vote dan juga follow author....
__ADS_1
...tetap stay disini ya, dan tungguin Dear Irsyamm update nantinya....