Dear Irsyam

Dear Irsyam
Sadar


__ADS_3

...Happy reading....


“Pulang yuk?” ajak Irsyam pada Dewi


“Hmm?”


“Pulang sayang, udah mau malem.”


“Eh iya yuk.”


Kami berdua melangkahkan kaki meninggalkan danau, dan pulang kerumah. Sesampainya dirumah disana ada ibu dan Sekar yang sepertinya sedang menunggu kedatanganku.


“Dewi.” Ucapnya lalu berlari memelukku


“Kenapa kamu nggak pernah cerita sama ibu hmm?”


“Kamu ada masalah apa Nak sama Alsya?”


Aku melihat kearah Sekar. Dia hanya diam saja dan menundukan kepalanya.


“Cuma salah paham kok Bu.” Ucapku


“Yakin hm?”


“Iya kok, secepatnya Dewi bakal selesain.”


“Ibu percaya sama kamu, kalian juga udah dewasa nggak harusnya marahan gini.”


“Iya.”


“Sore Tante.” Sapa Irsyam


“Sore Nak, makasih ya udah nganterin Dewi pulang.”


“Sama-sama Tante, kalau begitu saya pamit ya.”


“Nggak mampir dulu?”


“Lain kali aja Tante.”


“Yaudah, hati-hati ya.”


“Pulang dulu sayang.”


“Iya.” Ucapku lalu tersenyum manis kearah Irsyam


“Duluan Kar.”


“Eh iya.”


Kini setelah kepulangan Irsyam diruang tamu hanya ada aku dan Sekar. Sedangkan ibu pamit untuk membersihkan diri.


“Maafin aku, aku udah cerita semuanya ke Tante Linda.” Ucap Sekar


“Nggak papa.”


“Kar…”


“Gimana?”


“Kalo gue ngebatalin pernikahan gue sama Irsyam gimana?”


Sekar terkejut mendengar penuturan Dewi.

__ADS_1


“Lo ngomong apa sih!?”


“Lo udah gila!?”


“Iya gue gila.”


“Cuma karena masalah Alsya nggak seharusnya lo ngambil keputusan itu.”


“Dan apa lagi ini soal pernikahan Dewi!”


“Tapi kalo hubungan ini bakal berlanjut, yang ada gue tambah nyakitin Alsya.”


“Dan gue nggak mau itu.”


Lihatlah seberapa besar pengorbanan Dewi untuk melihat sahabatnya bahagia. Dirinya rela menyikiti hatinya sendiri untuk melihat sahabatnya bahagia dengan kekasihnya.


“Walaupun gue harus kehilangan orang yang paling gue cintai Kar.”


Tanpa sepatah kata apapun Sekar memeluk Dewi, dirinya ingin memberikan sedikit kekuatan unuk sahabatnya itu, saat ini yang dilakukan memang hanya mengalah atau kehilangan. Pilihan yang sangat sulit namun Dewi harus mengambil salah satunya. Jika dia memilih mengalah, maka dia akan kehilangan Irsyam, seseorang yang mampu membuat dirinya jatuh cinta begitu dalam dan jika dia memilih kehilangan maka dirinya akan kehilangan sahabatnya, Alsya seseorang yang sudah hampir tujuh tahun ini menemani suka dan dukanya bersama-sama. Sulit bukan.


“Lo jangan gegabah.”


“Gue bingung, kenapa gue harus ada di situasi kayak gini?”


“Gue nggak mau kehilangan Irsyam dan disatu sisi gue juga nggak mau kehilangan Alsya.”


“Sabar, pasti ada jalannya.”


“Lo jangan mikir yang enggak-enggak ya. Apalagi sampai lo mutusin buat ngebatalin pernikahan lo sama Irsyam.”


“Makasih Kar, lo udah ada buat gue. Paling nggak kalau gue kehilangan mereka gue masih ada lo.”


“Makasih ya.”


“Nggakk usah makasih, apapun masalah lo. Gue usahain gue selalu ada buat lo.”


......................


Saat ini Alsya sedang setia menunggu Reza untuk membuka matanya, satu-satunya seseorang yang paling berarti dalam hidup Alsya.


“Dewi.” Lirih Reza


Alsya pun dengan cepat memencet tombol darurat untuk memanggil dokter.


Ceklek.


“Gimana Dek ada apa?” Tanya Anin panik. Saat Alsya memencet tombol darurat tersebut


“T-tadi Kak Reza manggil-manggil. Coba Kakak periksa.”


“Coba Kakak periksa dulu ya.”


Saat Anin sedang memeriksa Reza, dirinya melihat tiba-tiba jari Reza sedikit demi sedikit bergerak. Dan tak hanya itu apa ini? Reza membuka matanya!?


“Za!?” pekik Anin kaget sekaligus bahagia.


Reza tersenyum tipis.


“Abang!” panggil Alsya lalu memeluknya


“Dek.” lirih Reza


“Hiks-hiks.”

__ADS_1


“Syukur Abang udah sadar.”


“Alsya khawatir banget sama Abang…. Alsya takut kalo Abang…”


“Sttt kamu ngomong apa sih?”


“Abang udah, sadar.”


“Alhamdulilah.”


“Aku periksa dulu ya Za.”


“Eh Iya Nin, silahkan.”


“Alhamdulilah semuanya stabil dan sekarang kamu dalam masa pemulihan. Makan yang banyak ya, nanti obatnya aku kasih. Istirahat yang cukup juga okey?”


“Iya siapp.” Ucap Reza Lemah


“Aku tinggal dulu ya.”


“Iya, makasih ya Kak.” Ucap Alsya


“Sama-sama.”


Kini diruangan hanya tersisa Reza dan Alsya.


“Emm Sya?”


“Iya kenapa? Abang haus?”


“Enggak.”


“Mau tanya.”


“Apa?”


“Dewi jengukin Abang nggak?”


“Iya tadi jenguk.”


“Ohh.”


“Kenapa?”


“Entah ini mimpi apa enggak, Abang denger Dewi bilang. Buruan bangun aku kangen.”


Alsya yang mendengar ucapan Reza barusan entah mengapa hatinya terasa sakit, dirinya teringat bahwa tadi dia menyebut Dewi sebagai racun.


“Maafin gue.”


“Kenapa bengong?”


“E-eh enggak kok.”


“Kebiasaan.”


“Sya ambilin Abang minum dong haus.”


“Yehh baru bangun aja kumat nyebelinnya.”


“Tolong aelah.”


“Hmm untung sayang.” Ucap Alsya lalu tertawa

__ADS_1


“Dih.”


...Jangan lupa like, coment and vote. tetep setia tungguin novel dear Irsyam. Jangan lupa mampir ke novel author yang kedua yak!! Adelio Bagaskara....


__ADS_2