
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
"Ti–tidak mungkin!" Barno menggumam.
Penjelasan Suhut barusan benar-benar di luar nalar Barno. Bagaimana mungkin seorang gadis bisa jatuh dalam pelukan seorang pria hanya dengan sebuah tamparan kecil, tanpa harus mengeluarkan kata-kata mujarab untuk menyenangkan hatinya. Secupunya Barno dalam hal urusan perempuan, ia sangat tau untuk menaklukkan seorang wanita butuh permainan kata-kata.
"Itulah kenyataannya!" ucap Suhut meyakinkan.
"Jadi, kalau aku memukul *4**4* si Erna, aku bisa berhubungan badan dengannya?" tanya Barno memastikan.
"Aku sih nggak tau pasti. Tapi jika si Erna memang suka sama kau, maka kau bisa ngen—sama dia. Lagipula kau tidak punya jalan lain selain melakukannya untuk mengetahui perkembangan hubungan kalian lebih jauh lagi!"
Barno sejak diam memikirkan kata-kata Suhut barusan, walau terdengar sedikit tidak masuk akal, tapi dalam hati ia berharap kalau kisah itu benar adanya, sehingga keinginannya untuk melepas perjaka, dan merasakan betapa indahnya dunia ini menjadi kenyataan.
__ADS_1
Mereka berdua pun kemudian keluar dari toilet dan menghampiri kedua gadis tersebut. Suhut mengajak mereka untuk jalan-jalan menikmati malam yang indah. Setelah membayar makanan, mereka pun meninggalkan cafe. Namun, di depan cafe, Suhut bertanya kepada Liana.
"Apa kamu suka minum beralkohol?"
Minuman beralkohol bukanlah minuman asing bagi Liana, semenjak tinggal di kota ini ia sudah beberapa kali minum sampai mabuk. Bahkan tidak jarang ia minum sampai mabuk bersama Barno dan juga Butet di rumah kontrakan, ataupun di kos-kosannya.
"Hmmm…. Sebenarnya aku tidak masalah minum yang beralkohol, tapi aku tidak pernah minum di luar rumah, karena aku takut mabuk, dan bisa-bisa aku tidak ingat jalan pulang," ucap Liana panjang lebar menolak dengan halus.Â
Karena bagaimanapun, Suhut baru saja dikenalnya, walaupun pria itu adalah teman Barno, tapi sebagai wanita, ia juga harus bisa berhati-hati dengan pria yang baru dikenal.
Liana diam sejenak, lalu Kembali berkata setelah tersenyum tipis, "okelah kalau begitu, tapi kalau aku mabuk, kau antar aku pulang, ya. Awas kalau nggak, aku putar kepala kau itu," ancam Liana, membuat Barno dan lainnya tertawa.
"Jangan khawatir kalau masalah itu, aku akan membawa kau pulang sampai ke rumah dengan aman. Pergilah!"
__ADS_1
Berapa kaget Liana ketika Barno mendorongnya mendekati Suhut, ia menyangka kalau mereka akan minum bersama-sama, tapi kenyataan tidak. Dengan sikap sepupunya barusan, Liana merasakan ada suatu muslihat ketika ia melihat pancaran mata Barno.
Akan tetapi, Liana tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengikuti Suhut ketika pria itu mengajaknya jalan. Semua itu karena atas dasar kepercayaan, kalau Barno tidak akan meninggalkannya dan akan membawanya pulang dengan selamat.
Hidup yang selama ini ia jalani dengan lebih banyak mengurung diri di dalam rumah, dan lebih banyak mengisi waktu kosongnya dengan hanya bisa memuaskan diri di depan laptop. Sekarang dengan adanya kehadiran Erna, membuat Barno ingin merubah semua itu. Saat ini ada jalan yang membentang di hadapannya, jika semua berjalan dengan lancar malam ini, ia tidak perlu lagi menghabiskan kesendiriannya yang membosankan. Hanya perlu keberanian sedikit saja, maka semuanya akan berubah.
"Erna. A–apa kita pe–perlu pergi juga?" Barno memberanikan diri untuk bertanya setelah mereka berdiri dengan diam beberapa saat.
"Boleh, kita mau kemana sekarang?"
Senyum manis menghias di bibir gadis itu, matanya menatap lembut kepada Barno. Namun, ia kembali membungkuk setelah melihat ke bawah, dan kembali berkata, "huh … kenapa tali sepatuku dari tadi lepas saja!"
Melihat Erna membungkuk di sampingnya, Barno mencondongkan sedikit tubuh ke belakang. Kepala Barno langsung panas dingin, melihat bongkahan *4**4* gadis itu, dan mengingatkannya dengan perkataan Suhut di dalam cafe tadi. Ia berpikir kalau sekarang adalah kesempatan untuk membuktikannya, tapi ia dilema ketika mengambil keputusan, apakah saatnya harus menampar *4**4* montok tersebut atau tidak.
__ADS_1
"Jika aku salah, maka akan berakhir semua untukku. Tapi jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan tau kebenarannya. Sial! Apa yang harus aku lakukan. Ah k4mpret lah! Jika tidak sekarang kapan lagi."
🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫🤫