DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 65


__ADS_3

jangan lupa dukungannya ya.


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Mereka bertiga berdiri di antara keramaian menikmati irama lagu. Barno berdiri di antara Liana dan Erna, Entah kenapa Liana tiba-tiba begitu kesal mendengar lirik yang terkandung. Setiap bait yang terdengar seakan mengungkapkan aib perasaanya.


"Kenapa harus lagu ini sih."


Dari sudut matanya melihat ke arah Barno, lalu sedikit mencondongkan kepala ke belakang untuk melihat Erna. Terlihat tangan Erna menggandeng lengan Barno. Mendengus kesal, Liana pun menggandeng lengan Barno dengan kasar.


Barno tersenyum kepada Liana ketika merasakan tangannya di gandeng. Dengan penuh kebanggaan Barno menyapu pandangan kesekitarnya, sebagai pengumuman kalau dirinya begitu tangguh karena diapit dua wanita cantik.


"Aku mau ke toilet dulu, ya." Erna tiba-tiba pamit.


"Ngapain?" tanya Barno polos.


Sedangkan Liana mengerucutkan bibir. Pertanyaan apa itu?


"Berak, lah!" jawab Erna sambil tertawa kecil.


Setelah Erna menghindar di keramaian, Lain yang merasa gerah karena lagu sindiran itu belum berakhir, akhirnya mengajak Barno untuk makan.Β 

__ADS_1


"Bar, aku lapar. Makan, yuk."


"Kau lapar?" tanya Barno.


Liana mengangguk manja, tangannya masih melingkar di lengan Barno.


"Ya udah kalau begitu. Tapi, nanti kalau si Erna balik, gimana? Nanti dia mencari kita."


"Erna lagi." Hati Liana kembali mengeluh.


"Orang kalau lagi berak pasti lama, butuh konsentrasi penuh dan butuh waktu lama mengumpulkan kekuatan untuk ngeden," jawab Liana asal.


Tertawa keras mendengar penuturan Liana. "Kau lucu juga," ujar Barno dan mencubit gemas pipi Liana.


"Tunggu, Lia. Perutku sakit. Aku mau berak juga."


Liana mengerut kening melihat Barno menelisik kebenaran sepupunya itu. Ia curiga kalau itu hanya akal-akalan saja supaya bisa berduaan dengan Erna.


"Kau duluan saja, tunggu aku di kedai sana. Aku akan segera datang." Barno menunjuk sebuah kedai nasi yang ada di trotoar.


"Ya udah, cepat kau nyusul, ya," ucap Liana.

__ADS_1


Barno segera pergi menuju ke toilet wanita. Apalagi yang ia lakukan kalau bukan menunggu Erna muncul. Lama tidak bertemu dengan gadis itu, sesuatu yang sejak tadi mengusik pikirannya. membuat Barno berpikir keras untuk mencari alasan supaya kepada Liana, agar dia bisa berduaan dengan Erna. Beruntung Liana mengajaknya makan, di saatΒ  Erna pergi ke toilet. Waktu yang tepat.


Erna keluar dari dari toilet, dan terkejut melihat Barno berdiri di luar dengan senyuman. Sekilas Erna bisa merasakan tatapan Barno yang penuh ke mes Uman.


"Kenapa kau di sini?" tanya Erna.


"Tentu saja menunggumu, apalagi."


Menggeleng kepala, lalu mendekati Barno. "Apa ada yang perlu kau katakan?"


"Rindu," jawab Barno singkat, lalu mencolek PING Gul Erna.


Segera Barno menarik Erna ke sebuah telat gelap yang jauh dari keramaian, tidak kuat dari lokasi toilet umum. Di belakang sebuah gudang yang tidak terpakai, Barno menyandarkan tubuh Erna ke dinding.


"Apa ini aman? Nanti ada orang yang datang," ucap Erna, berharap kalau Barno akan membawanya ke sebuah losmen.


Apa yang diharapkan Erna tidak menjadi kenyataannya. Jawaban Barno di luar harapannya.


"Tenang, di sini aman. Aku sudah sangat rindu denganmu. Aku sudah hampir gila sekarang," ucap Barno, senyumnya menggambarkan kehausan yang sudah mendalam. Tangannya juga mengangkat baju Erna ke atas.


Pemandangan yang begitu meng -garahkan. Barno langsung mendaratkan sentuhan di phasyu -dhara. Erna memejamkan mata, meresapi nikmat yang perlahan mulai datang.

__ADS_1


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


__ADS_2