
kalau ada typo dan kalimat yang tidak pas, silahkan tinggalkan komen, biar bisa aku perbaiki.
💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦
"Li–Liana," gumam Barno.
Seketika terpaku melihat siapa yang berdiri di hadapannya sekarang. Pikiran Barno langsung kosong, tidak tau harus berbuat apa.
"Sekali lagi aku bertanya. Kenapa kau ke sini?" Mata Liana menatap tajam, tapi hati berdetak tidak karuan. Namun, Liana begitu sempurna mengendalikan kegugupannya saat melihat Barno berdiri di hadapannya.
"Aku … aku … anu…. Hmmmm!"
"Kalau tidak ada yang ingin kau bicarakan? Pergilah! Jangan ganggu aku. Maaf, aku lagi sibuk sekarang." Liana langsung membuka pintu dan masuk kedalam kosannya.
Ketika Liana sudah di dalam dan ingin menutup pintu. Barno segera menahan daun pintu supaya tidak tertutup, membuat Liana sedikit kaget dan mengerutkan kening. Dia tidak mengerti apa yang diinginkan Barno.
"Ada apa? Kenapa kau menahan pintuku. Aku tadi sudah memberi kau tadi kesempatan untuk bicara." Liana masih mempertahankan ekspresi dan juga nada juteknya.
"Lia, ijinkan aku masuk. Aku mau bicara sama kau," pinta Barno dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Baiklah! Tapi kau harus berjanji padaku. Kau tidak akan berbuat yang aneh-aneh seperti waktu itu." Liana menatap tajam ke mata Barno. Walau ia menyukai sepupunya itu, tapi Liana tidak ingin hal yang memalukan itu terjadi lagi.
"Tidak masalah. Aku bisa jamin itu tidak akan terjadi." Barno memberikan senyum terbaiknya.
Akan tetapi, Liana belum juga membuka pintu dengan lebar, sehingga Barno tidak bisa masuk kedalam. Dengan terpaksa ia sedikit mendorong daun pintu dan langsung masuk.
"Hei, apa yang kau lakukan? Kenapa kau jadi kasar." Liana sangat kaget dengan sikap Barno barusan, beruntung ketika dia menahan daun pintu, jaraknya tidak terlalu dekat sehingga tidak ada benturan yang terjadi.
Sadar apa yang telah dilakukannya. Barno langsung menunduk dan minta maaf.
"Maaf, Lia. Tapi aku ingin sekali berbicara sama kau."
"Hufff!" Liana mendengus. "Apa kau akan selalu bertingkah seperti ini," ucap Liana menuju meja kecil bundar tempat ia makan, lalu meletakkan keranjang belanjaannya.
"Lia, kenapa kau tidak datang lagi ke rumah kami. Apa itu karena aku?" tanya Barno dan mendekati Liana yang sibuk menyusun barang belanjaan di dalam kulkas.
"Jangan terlalu pede. Aku tidak datang ke rumah kalian bukan karena kau. Aku hanya terlalu sibuk akhir-akhir ini. Sebelumnya aku juga sering kan datang ke rumah kalian."
"Iya, aku tau. Tapi aku juga perlu memberi tau kau sesuatu. Beberapa hari lagi ibuku ulang tahun, dan aku akan pulang kampung, dan akan kembali ke kota ini sepuluh hari kemudian. Kita tidak akan bertemu lagi sampai aku kembali. Itulah kenapa aku harus datang untuk menemuimu."
__ADS_1
Liana diam menyimak setiap kata yang diucapkan Barno, ada beberapa yang mengganjal dalam benak Liana setelah mendengar pertanyaan Barno.
"Kenapa dia harus pamit. Apa itu artinya dia akan merindukanmu. Ahhhh, tidak mungkin."
Liana menggeleng pelan hampir tidak terlihat. Gerakan itu ia lakukan untuk membantah tentang apa yang dipikirkannya.
"Apalagi kita belum pernah bertemu sejak malam itu," ucap Barno lagi setelah diam sesaat.
"Jangan salah paham, bukan karena malam itu aku tidak menemuimu. Lagian itu adalah kesalahanku, tidak seharusnya aku membiarkanmu melakukannya, seharusnya aku membunuhmu saat itu juga." Liana kembali mendengus.
"Ah, Lia. Kau jangan marah gitu!" Barno diam-diam bergerak, dan langsung memeluk Liana dari belakang.
"Sialan! Apa yang kau lakukan. Ingat, kau sudah berjanji untuk tidak berbuat yang aneh-aneh. Cepat lepaskan aku! Menjauhlah!" bentak Liana dengan suara pelan, karena takut akan mengganggu penghuni kos lainnya.
"Aku tidak peduli lagi apakah itu kesalahanmu atau aku. Tapi sekarang aku sangat merindukanmu."
Degh!
Jantung Liana seperti berhenti berdetak. Apakah benar Barno sedang merindukannya? Apakah itu memang kenyataan? Seakan sebuah semilir angin yang begitu lembut meniup hati Liana. Ia begitu senang mendengar kalau Barno merindukannya.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau apakah ini sebuah penyakit atau tidak. Tapi setiap aku mengingatmu atau melihatmu, aku sangat ingin mengulang kembali seperti malam itu."
Sesaat Liana merasa terbang, kini ia kembali jatuh. Ternyata kata merindukan itu bukan karena kasih sayang apalagi cinta, melainkan hanya karena na–p-su. Seketika wajah Liana memerah karena marah.Â