DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 24


__ADS_3

💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋💋


Barno tercekat mendengar apa yang dikatakan oleh Liana, tapi ia berusaha tetap tenang untuk menyembunyikan rasa malunya. Beruntungnya saat itu Suhut dan Erna kembali.


"Udah selesai urusannya?" tanya Barno segera.


"Sudah," jawab Suhut. "Sekarang kita tinggal belanja saja untuk keperluan kita selama dua hari ini. Kalian disini saja, biar aku dan si Erna pergi belanja."


Barno tidak setuju dengan keputusan tersebut. Walaupun dia bisa berduaan saja dengan sepupunya itu, tapi ia tidak senang jika Suhut pergi berduaan saja dengan Erna. Ada kecemburuan dalam hatinya, apalagi ketika melihat perlakuan Suhut kepada gadis tersebut, yang begitu leluasa memukul dan meremas panstats sesuka hatinya. Barno juga sangat ingin melakukannya juga.


"Lebih baik kita berempat pergi belanja, bagaimana menurut Kau?" Barno bertanya tentang usulnya itu kepada Liana.


Liana setuju dengan usulan tersebut, dan Suhut tidak bisa berbuat apa-apa, mereka pun kemudian pergi bersama untuk belanja. Sekitar sepuluh menit perjalanan dengan mengendarai mobil, mereka pun akhirnya sampai ke tempat tujuan.


"Aku akan pergi membeli beberapa cemilan dan juga beberapa mie instan bersama Erna," ujar Barno.


"Ok. Aku akan mencari daging dan juga beberapa botol minuman keras. Ayo! kita ke arah sana," ajak Suhut kepada Anggi.


Begitu juga dengan Barno dan Erna, mereka pergi ke bagian tempat cemilan dan juga mie instan. Beberapa  cemilan yang terbuat dari bahan kentang dan ubi menjadi pilihan mereka. Ketika Erna mengambil mie instan di rak bagian bawah dengan posisi membungkuk.

__ADS_1


Mata Barno langsung tertuju ke bongkahan pinggul Erna, ia pun tidak ingin membuang kesempatan.


Plak.


Bukan hanya sekedar menampar. Barno juga mere—mas kuat belahan pinggul gadis tersebut.


"Ehh! Apa yang kau lakukan, nanti kelihatan sama orang," ujar Erna sambil memikul pelan lengan Barno.


"Nggak ada orang di sini," ucap Barno sembari melayangkan pandangannya ke sekeliling.


Karena memang tidak ada orang di sekitar mereka, Barno kembali mendaratkan tangannya dan meremas dengan sangat kuat, bahkan dengan cepat, ia meremas belahan kema—luan Erna dari belakang.


"Hahahahaha…. Bagaimana lagi, aku sangat rindu dengan panstats kau yang besar itu." Barno tertawa terbahak, dan membiarkan Erna memukul lengannya dengan manja.


Erna tertawa dan mencoba memukul kembali, tapi Barno segera mengelak dan tertawa. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata sedang memperhatikan keakraban mereka itu.


….


….

__ADS_1


….


….


Saat malam telah tiba dan mereka berempat berada di halaman belakang rumah. Suhut terlihat sedang membakar daging sapi yang telah mereka beli, sedangkan Erna dan Liana menyiapkan bumbunya dan dibantu oleh Barno.


"Bar, coba kau lihat bir-nya. Udah dingin atau  belum? Soalnya bentar lagi dagingnya sudah matang. Kagak lengkap makan daging panggang kalau nggak ada bir," pinta Suhut.


"Oke. Yuk Er. Temani aku ngambilnya," ajak Barno.


Erna tersenyum. "Ayo!"


Setelah mereka sampai di ruang tengah, dimana kulkas penyimpanan makanan berada. Barno bukannya mengambil bir, melainkan ia langsung menyergap tubuh Erna. Tangan kekarnya meremas pasyudhara gadis itu diiringi pag—-utan lembut.


"Bagaimana kalau kita melakukannya sebentar?"


Barno yang sudah dirasuki bir—ahi, langsung memutar tubuh Erna dan memeluknya dari belakang, lalu menj—ilati tengkuk gadis tersebut. Tangannya juga mulai bergerak mengangkat baju Erna bersamaan dengan b—ranya, dengan begitu, Barno dengan leluasa mempermainkan pu—-t1ng Erna dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya, langsung menyelinap masuk kedalam cel—ana gadis itu, menyentuh bagian yang paling sen—-sitif di bawah sana.


☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️☑️

__ADS_1


__ADS_2