
Kemunculan Barno sebuah kejutan yang hampir membuat Liana mati berdiri. Seketika otak Liana bekerja dengan cepat, tadi pagi ia mendapatkan pesan dari Butet kalau hari ini akan pulang, tapi sekarang malah Barno yang muncul.
Selama beberapa hari di kampung, Barno yang selalu kepikiran tentang Liana, senyuman gadis itu, kemarahannya, bahkan tubuh molek yang selalu masuk ke dunia imajinasinya, membuat Barno berdiri dengan tatapan di depan sebuah Mangsa yang menggiurkan.
Tidak sanggup lagi menahan semua keinginan yang terpendam beberapa hari ini, Barno segera memeluk tubuh mungil Liana dari belakang, membuat kantong kresek yang berisikan belanjaan, lepas dari tangan Liana.
"Lepaskan! Apa yang kau lakukan? Dimana Butet? Bukannya kau masih berada di kampung untuk merayakan ulang tahun ibumu?" Liana melepaskan tangan Barno yang melingkar di pinggangnya.
"Butet beberapa hari lagi baru pulang. Sebentar lagi di sana bakalan panen raya. Dia ingin membantu sebentar." Barno memberikan alasan atas ketidak pulangan Butet.
Kecurigaan Liana semakin besar, ia pun mengambil ponsel dari sakunya dan memeriksa kembali pesan dari Butet. Beberapa pesan yang diterimanya terlihat sedikit ada kejanggalan, dengan itu Liana mengambil kesimpulan, Barno lah yang telah membuat ulah dengan menggunakan ponsel Butet.
Ketika mata Liana menatap dengan tajam ke arah Barno, pemuda itu pun meraih pinggang Liana, dan menariknya dengan kuat. Tubuh mereka berdua menempel dengan ketat.
"Maafkan aku, Lia. Aku memang yang mengirim pesan itu, aku sangat merindukanmu." Barno mencoba untuk mencium bibir Liana, tapi sepupunya itu langsung mengelak.
__ADS_1
"Aku harap kamu tidak marah padaku. Ayo kita bicara dengan baik-baik, supaya kita bisa merasa nyaman satu sama lainnya. Aku mohon," ujar Barno lagi dengan memasang wajah yang penuh penderitaan.
"Kalau itu yang kau mau, baiklah! Sekarang lepaskan tanganmu dulu!" Liana menghela napas dengan cepat ketika Barno melepaskan pelukannya.
Mereka berdua menuju ruang televisi dan duduk di lantai bersandar di kaki sofa. Barno meneguk air soda kaleng yang sempat diambilnya,dari kantong kresek yang dijatuhkan Liana.
"Jujur, aku merasa tersiksa ketika kita merasa tidak nyaman satu sama lainnya." Barno membuka pembicaraan setelah beberapa saat mereka terdiam.
Sedangkan sudut matanya melirik ke arah pyashudhara Liana yang terbalut kaos oblong ketat. Liana yang duduk dengan lutut tertekuk dan kedua tangan diletakkan di atas lutut hanya diam sesaat. Tidak menyadari kalau lirikan Barno telah jatuh ke pahanya yang hanya terbalut celana pendek longgar.
"Aku tau! Tapi bagaimanapun juga, kita ini bersaudara, tidak baik kita secanggung ini."
"Oh, saudara ya! Jadi menurut kau aku ini saudari kau yang celananya bisa sesuka hati kau membukanya ketika aku tidur."
Liana sangat ingat bagaimana pertama kalinya Barno diam-diam melorotkan celananya, ketika ia tidur di rumah Barno.
__ADS_1
"A–apalagi yang kau bicarakan. Jangan sembarang bicara. Kita ini lagi bicara baik-baik."
Liana hanya tersenyum tipis melihat reaksi keterkejutan Barno.
"Hmmm! Saat itu kau membuka celanaku ketika aku tidur di sofa malam itu, waktu aku menginap di rumah kontrakan kalian."
Barno semakin benar-benar sangat kaget. Apa arti semua itu, Liana tidak tidur. Apakah artinya sepupunya itu hanya diam dan menikmati belaiannya.
"Ja–jadi! Kau tidak tidur waktu itu. Ja–jadi kau menikmatinya?"
TAK!
Sebuah jitakan mendata ke kepala Barno.
"Bicara apa kau?" Liana sangat kesal mendengar perkataan Barno barusan. Bagaimana bisa dalam memperbaiki hubungan mereka yang begitu canggung, sekarang malah mengacaukannya lagi.
__ADS_1