DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 38


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"A–apa kau serius." Liana memasang wajah kaget.


"Tentu saja. Semenjak kau lakukan itu, aku sudah menjadi gila. Jadi sudah tugas kau untuk membuatku waras lagi, Lia,"


"Tapi itu tidak mungkin, Bar," ucap Liana.


Sebenarnya ia terus menunggu sesuatu dari mulut Barno, yaitu sebuah ungkapan kalau pemuda itu membutuhkan dirinya, menyukai atau bahkan mengatakan cinta pada dirinya.


"Hentikan! Bagaimana nanti kalau Butet bangun," ucap Liana lagi ketika merasakan dekapan Barno semakin erat.


"Jika kau tidak memenuhi keinginanku, aku akan mengatakan kepada Butet yang sebenarnya." Sekarang otak Barno benar-benar sudah tidak waras, yang ada hanya keinginan untuk merasakan fantasi yang selama ini ia inginkan dari Liana.


Sejenak Liana diam untuk menimbang keputusan apa yang akan dia ambil menyikapi permintaan Barno. Ancaman Barno membuatnya takut. Liana menundukkan kepala dengan mengangkat mata melirik Barno. Ia memang mencintai pemuda itu sejak kecil, tapi untuk melakukan apa yang diinginkan Barno secara terang-terangan, sungguh membuatnya malu sendiri.


"Kenapa diam, ayolah!" bujuk Barno dan mengangkat dagu Liana, sehingga mata mereka saling tatap.


Liana mengangguk pelan dengan wajah merona, lalu menunduk. Tidak sanggup melihat wajah Barno yang tersenyum mesum.

__ADS_1


Mendapat persetujuan dari Liana, Barno segera menarik tangan gadis itu untuk mengikutinya menuju kamar. Di dalam kamar Barno segera berbaring telentang diatas kasur, dan di susul oleh  Liana.


Gadis itu duduk diantara kaki Barno yang terbuka lebar, kepala tertunduk antara malu dan grogi. Dengan gugup Liana pun berkata. "Ha–hanya hisap, ya. Ti–ti … tidak lebih." 


Barno mengangguk dengan sebuah senyuman. Perlahan ia pun membuka celannya tanpa sisa.


PLUNGG….


Sesuatu besar tegak berdiri muncul di bawah pusar Barno, lalu berkata, "terima kasih, Lia."


"Huffff! Ini sangat salah," gumam Liana menutup mata, berusaha mengumpulkan keberanian.


"Panjang 11cm dengan diameter tingkat platinum, hampir mencapai tingkat Gold. Suhu hangat, tingkat kekerasan mengagumkan."


Sedikit keterangan tentang diameter pen s menurut penilaian Liana.


Tingkat perak, pisang mas.


Tingkat Platinum, pisang Ambon

__ADS_1


Tingkat Gold, Botol sirup.


Liana terus membatin saat tangannya sudah menggenggam Milik Barno, semua hal tentang benda itu ia nilai semaksimal mungkin, tangannya terus membolak balik pens— Barno.


"Ahhhhh …. Ahhhhh, Liaaaa!" de---sah Barno kegelian ketika Liana menyentuh kantong menyannya yang berisi dua batu.


Liana tidak lagi memperdulikan rengekan Barno, dengan serius melanjutkan penilaiannya di bagian kantong menyan sepupunya itu dengan cara menyentuh, meremas mencari dua batu.


"Aghhh, ada apa denganku. Kenapa aku malah asik menilai." Liana tersadar dengan tingkahnya, dan kemudian mengangkat kepala melihat wajar Barno, dimana mata pemuda itu sudah sayu ke enakan


"Bar, ini yang terakhirnya aku melakukannya, kau paham." Liana kembali ke sikap awalnya, agar Barno tidak menganggap dirinya wanita yang mudah ditaklukkan.


"Baiklah, lanjutkan terus. Semangat, ya," ucap Barno menyemangati Liana supaya tidak gugup.


Menarik nafas sejenak lalu menghembuskan dengan panjang. Liana mulai menjulurkan lidah menyentuh kepala batang Barno yang mengkilat, turun ke batang, kantong menyan, lalu kembali ke kepala botak yang memiliki bibir kecil.


"Arghhhhh…..!" Barno menggelinjang kuat ketika miliknya masuk kedalam mulut Liana, apalagi saat terjadi sedotan kuat. Barno seketika memejamkan mata dan refleks tangannya meraih kepala Liana.


"Hmmm … hmmmm … hmmmm….!" Liana memukul paha Barno berkali-kali karena ia sulit bernafas akibat Barno yang menekan kepalanya, sehingga benda kenyal itu menusuk ke dalam tenggorokan Liana.

__ADS_1


😷😷😷😷😷😷😷😷😷😷😷😷


__ADS_2