
@@@@@@@@@@
"Dasar laki-laki ******!" umpat Liana dan melepaskan tangannya dari leher Barno, dan menggantinya dengan ketukan keras di kepala sepupunya itu.
TAKKK!
"Sakit!" teriak Barno yang langsung mengusap kepalanya. Wajahnya betul-betul jelek.
"Apa yang kau lakukan dengan si Erna, hah?"
"A–apa?" Barno bingung dengan pertanyaan Liana.
"Kau berbohong kepadaku. Kau bilang akan menjemputku dan mengantarku pulang dengan selamat. Tapi apa? kau nggak pernah datang lagi!" Liana begitu kesal mengingat kejadian malam itu.
Barno paham sekarang tentang kemarahan sepupunya, ia pikir kemarahan Liana karena telah menjerumuskannya ke tangan Suhut, tapi nyatanya tidak. Barno pun sedikit merasa lega.
Dengan tangan dilipat di dada, Liana berdiri dengan mata melotot saat mengintrogasi Barno, layaknya seorang guru BK. Sedangkan Barno hanya duduk lesu seperti siswa ketahuan menyontek.
__ADS_1
"Sekarang kau jujur padaku, ceritakan! Kemana saja kalian pergi dan apa saja yang kalian lakukan?" tanya Liana dengan wajah serius.
Karena pertanyaan Anggi hanya seputar tentang Erna dan dirinya, Barno pun menjawab dan menceritakannya dengan jujur, kalau ia sudah melakukan perse tubuhan dengan Erna. Barno sangat yakin, kalau sepupunya itu tidak akan marah dan mengadukannya kepada Butet. Karena apa yang telah ia lakukan, pernah juga dilakukan oleh Liana bersama laki-laki lain, dan baru-baru ini bersama Suhut.
"Aku tidak bisa percaya, kalau kau benar-benar tidur dengannya," ujar Liana tersenyum sinis.
Melihat senyum Liana yang terkesan menyepelekannya. Barno tidak terima, ia pun berdiri sambil berkata dengan suara sedikit keras.
"Oh, jadi kau tidak percaya. Berhenti untuk meremehkanku terus. Aku bukan lagi anak-anak!" ucap Barno kesal.
Liana benar-benar kaget melihat ekspresi kekesalan Barno. Ia pun menarik napas.
Tiba-tiba Butet muncul ketika Barno hendak menyahuti kalimat Liana
"Kalian sedang ngomongin apa?" tanya Butet
"Oh! Cuman ngobrol biasa," Barno menjawab dengan cepat dan menatap Lain dengan tajam.
__ADS_1
"Oh, iya. Aku mau pamit pulang dulu, takut nanti kemalaman di jalan!" ujar Liana mengalihkan obrolan, lalu ia pun keluar dari kamar diikuti oleh Butet dan Barno.
"Bar, kau seharusnya mengantar dia pulang!" saran Butet ketika mereka berada di depan pintu.
"Nggak perlu, aku mau mampir sebentar di toko yang ada di persimpangan untuk membeli sesuatu," ucap Liana sambil memakai sepatunya. Setelah itu ia pun pergi pulang.
Butet kemudian menutup pintu dengan kening berkerut, ia melihat penolakan Liana barusan terlihat begitu canggung, begitu juga cara saat melihat mata Barno kearah Liana Melihat gelagat aneh kedua sepupunya itu, Butet pun mulai merasa curiga.
"Apa yang sebenarnya terjadi waktu kalian keluar malam itu? Kenapa sampai aku tidak bisa menghubungi kalian berdua?" selidik Butet.
"Kenapa malah membahas itu lagi, memangnya apa yang terjadi sama dia?" Barno balik bertanya.
"Apa kalian bertengkar?" tanya Butet lagi, karena merasa ada kejanggalan dengan sikap kedua sepupunya itu.
"Bertengkar! Itu tidak mungkin." Barno langsung masuk ke kamarnya. Ia tidak ingin terjebak dengan pertanyaan-pertanyaan Butet, yang pada akhirnya bisa membuatnya keceplosan.
Jika itu sampai terjadi, entah bagaimana reaksi Butet nantinya, yang jelas itu bakal menjadi bencana buat Barno.
__ADS_1
@@@@@@@@@@@@@@@