DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 25


__ADS_3

🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️🅾️


"Aghhh…. Kalau sudah seperti ini, bagaimana aku bisa menghentikanmu!" Mata Erna menyipit bersamaan datangnya rasa nikmat ketika Barno menyentuh klito---risnya.


"Kau sudah membuat aku gila!" 


Barno kembali memutar tubuh Erna sehingga mereka saling berhadapan. Pasyudhara gadis itu pun menjadi sasaran Barno selanjutnya, secara bergantian pasyhudhara kanan dan kiri gadis itu, diji--lat dan digigitnya dengan lembut.


"Aghhhh…. Baaaar! Cepat lakukan, mereka sudah menunggu kita terlalu lama!" erang Erna meminta.


"Aku tau, lihat ini." Barno menarik tangannya dari dalam celana Erna, dan menunjukkan jarinya yang sudah berlumuran lendir kepada gadis itu. "Kau sudah sangat becek." Barno tersenyum.


Tidak ingin membuat yang lain menunggu mereka terlalu lama, Erna segera bersandar ke dinding dan membelakangi Barno, lalu melorotkan celananya lebih kebawah lagi, setelah itu Erna sedikit mengangkat pinggulnya agar peni Barno lebih mudah masuk.


"Ayo, masukkan!" pinta Erna seraya menyibakkan belahan panstatsnya dengan sebelah tangan, maka tampaklah vag-nya yang sudah mengkilat akibat cairan lendirnya sendiri.

__ADS_1


Barno yang juga sudah tidak tahan lagi, ia ingin segera merasakan kehangatan liang kenikmatan Erna, segera Barno menempelkan peni-nya ke vag gadis itu, dan menggesekkan beberapa kali. Namun, karena Erna ingin secepatnya permainan mereka berakhir, ia pun meraih peni Barno dan mendorong pinggulnya ke belakang dengan kuat, dengan begitu peniy Barno segera amblas kedalam vag---nya.


"Ahhhhh…. Mantap!" des---ah Barno ke enakan.


Erna yang ingin segera permainan s3xsss mereka berakhir, langsung memutar pinggulnya dan sesekali juga menghentakkan pinggulnya. Barno yang tidak bergerak sedikitpun, merasakan sensasi yang luar biasa. Ia merasakan batang peniy----nya seperti di pijat dan di sedot dengan kuat.


"Arggggh…. Kalau kayak gini goyangan kau. Bisa-bisa aku tidak sanggup bertahan lama. Arggggggg…. Kedutan punya kau itu sangat kuat menjepit punyaku!" celoteh Barno dengan mata merem-melek. 


Mendengar celotehan tersebut, Erna semakin intens menggoyang pinggulnya dengan cepat, berharap Barno dengan segera mencapai kli----maks. Akan tetapi, yang terjadi malah dirinya semakin kerasukan dan tidak sanggup menahan sensasi tersebut.


Dengan kedua tangan memegang pinggang Erna, Barno dengan cepat meng---genjot supaya bisa klima---ks bersama-sama. Suara benturan tubuh mereka bagian bawah, terdengar nyaring memenuhi ruangan tersebut. Dibalik sebuah dinding, sepasang mata melotot menyaksikan pergumulan mereka.


PLAK PLAK PLAK PLAK.


Gerakan pinggul Barno semakin intens, begitu juga dengan pinggul Erna yang menyambut hentakan tersebut. Beberapa detik kemudian, kedua pinggul mereka bergerak semakin tidak teratur, bersamaan aliran darah yang semakin deras menandakan puncak orga---sme akan segera muncul. Kepuasan yang begitu indah, Barno memeluk tubuh Erna dari belakang. Area publik membuat adrenalin mereka semakin terpacu, walau pertempuran itu singkat, tapi memberi kepuasan tersendiri.

__ADS_1


"Dasar pria mesum." Erna tersenyum sambil menaikkan celananya, lalu merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.


Tak tak tak….


Terdengar suara langkah mendekati tempat mereka, Barno pun buru-buru menaikkan celananya, beberapa saat kemudian terlihat Liana muncul. Beruntung bagi mereka Liana tidak sempat melihatnya.


"Kenapa kalian lama sekali cuman mengambil minuman saja?" tanya Liana.


"Maaf, tadi Barno ke kamar mandi sebentar," jawab Erna. Sedangkan Barno hanya tersenyum tipis sambil menggaruk kepalanya.


Setelah mereka mengambil minuman dari dalam kulkas, mereka pun kembali ke belakang rumah, dimana Suhut duduk dibalik meja menunggu mereka. Barno kemudian duduk di seberang meja setelah meletakkan beberapa kekang minuman di atas meja. 


Erna duduk di sebelah Barno, sedangkan Liana duduk di sebelah Suhut. Mereka terlihat senang sembari mengobrol ringan sambil makan daging panggang. 


Lain hal dengan Barno, walau sesekali dia ikutan untuk menyambung obrolan, tapi pikirannya masih tetap kepada gadis yang duduk di sampingnya. Hasratnya untuk mengulang kembali permainan mereka yang tadi terburu-buru, membuat dia ingin melakukan lagi. Akan tetapi, melihat Liana, ia tidak ingin meninggalkan gadis itu bersama Suhut berduaan. Jadi dia mengurungkan niatnya untuk mengajak Erna meninggalkan meja. 

__ADS_1


@@@@@@@@@@@@


__ADS_2