DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 74


__ADS_3

❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Suara Pentin membuat perhatian Barno kepada gadis tersebut teralihkan. Apalagi nada bicara Pentin terkesan menyepelekan perihal percintaan Barno.


"Ngomong apa kau ini. Jangan anggap sepele kau sama aku."


"Kau kan udik. Aku yakin kalau kau tidak akan memiliki hubungan dengan seorang gadis. Kasihan," ejek Pentin lagi dengan ekspresi sama. Dingin, cuek dan tanpa ada beban jika perkataan yang dia lontarkan bakalan menyakiti perasaan Barno.


"Kau pikir aku masih pria polos. Biar kau tau, aku sudah memiliki beberapa hubungan dengan seorang cewek. Jangan kau kira model kayak aku ini nggak bakalan laku." Barno sangat tidak terima dengan pernyataan Pentin tentang dirinya, tapi dia tidak ingin mengungkapkan hubungan seperti apa, dan dengan siapa dia menjalinnya.


"Maksudku itu dengan sikapmu, aku sangat mengenalmu, Bar. Kau itu sebagai pria nggak pernah bisa peka dengan perasaan seseorang. Kau sangat terlihat menyedihkan dengan hal itu. Tidak tega dan sangat egois. Wanita mana yang akan tahan menjalin hubungan dengan pria seperti kau. Jika ada, wanita itu pasti akan terlihat menyedihkan."


Wajah Barno memerah mendengar penjelasan Pentin. Dia berpikir, apakah dirinya memang seperti itu, tidak peka terhadap perasaan dan juga egois. Hatinya membantah semua penilaian Pentin terhadap dirinya.


"Kau tidak akan bisa mempertahankan sebuah hubungan," kata Pentin lagi dan kemudian beranjak meninggalkan Barno.


"Pentin sialan!" batin Barno dan segera menyusul gadis tersebut.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Beberapa hari yang lalu, Barno mendapatkan tiket untuk menonton di bioskop, hadiah dari membeli sebuah barang dari produk sabun colek di sebuah supermarket. Kini dia memandangi kedua tiket tersebut, berpikir siapa yang akan dibawa untuk pergi menonton. Apakah Pentin atau Liana.


Akan tetapi, kedua pilihan itu sangat berat. Pentin terlalu dingin baginya, suasana pasti akan berubah nantinya dan juga sangat membosankan. Jika Liana, hubungan mereka masih belum baik.


"Bar, kau ke supermarket, sana. Kau beli semua yang sudah aku tulis di kertas ini," perintah Butet dan memberikan secarik kertas.


Walau tidak menjawab, Barno berdiri dengan malas dan menerima kertas tersebut. Segera ia pun pergi untuk berbelanja.


Sepanjang jalan menuju supermarket, Barno berpikir tentang hubungannya dengan Liana. Sebagai pasangan syekx, hubungan mereka seharusnya tidak sesulit itu, karena tidak ada perasaan di dalamnya, semuanya murni hanya untuk kebutuhan dan kesenangan.


Tiba di supermarket, segera Barno berbelanja sesuai pesanan Butet yang tertera di kertas yang dia bawa. Sedang asik berbelanja, mata Barno seketika tertuju kepada seorang gadis, dia adalah Liana.

__ADS_1


Gadis itu sedang memilih makanan ringan yang tersusun rapi di rak. Barno segera menghampiri.


"Hai, Lia."


"Eh, kau!" Liana menyapa balik dengan dingin. Tidak ada raut keterkejutan apalagi senang melihat kehadiran Barno.


"Kau masih marah?" tanya Barno. Dia mengeluarkan tiket dari kantong celananya.


Tanpa menjawab, Liana meninggalkan Barno dan melanjutkan untuk mencari barang yang dia perlukan di rak lain. Tentu Barno tidak mau tinggal diam, ini kesempatannya untuk memperbaiki hubungan yang kacau.


"Lia, tunggu. Aku sebenarnya mau ngomong sesuatu sama kau,"


Beruntung di lorong rak itu tidak orang, sehingga Barno tidak perlu takut ketika dia menarik tangan Liana agar gadis itu tidak pergi.


"Lia, aku benar-benar ingin ngomongin sesuatu sama kau," ujar Barno lagi dengan wajah serius.


"Mau ngomong apa? Cepat lepaskan tanganku."


"Ini … hmmm. Sebenarnya aku mau ngajak kau nonton berduaan saja." Barno mengeluarkan dua tiket.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️


__ADS_2