
ππππππππππππ
Dengan langkah sedikit sempoyongan, Barno berjalan menuju kamarnya. Ia melihat Suhut sudah tidur dengan pulas, sedikit air liur mengalir dari sudut bibir pemuda tersebut.
Sedangkan Liana sudah selesai membereskan meja, terkejut dengan kemunculan Erna.
"Loh, nggak jadi tidur?" tanya Liana heran, karena tadi gadis itu sudah pamitan kepada mereka untuk lebih dahulu pergi tidur.
"Panas, nggak bisa tidur," jawab Erna dan kemudian duduk dan menopang dagunya, matanya menatap Liana dengan seulas senyum.
"Kenapa kamu senyum-senyum gitu sama aku?" tanya Liana sedikit heran.
"Nggak apa-apa," Erna mengambil satu minuman yang tersisa beberapa botol kaleng lagi di atas meja, lalu meneguknya.
"Kamu sudah terlihat mabuk, tapi kamu masih mau minum lagi," ucap Liana.
__ADS_1
"Ahhh." Erna meletakkan botol minumannya secara kasar di atas meja, ia benar-benar sudah mabuk. "Bagaimana menurut kamu si Barno, apa dia terlihat sangat manis. Hmmmβ¦. Aku tidak bisa percaya kalau dia sudah mabuk berat, padahal jauh-jauh aku ikut ke sini hanya untuk bisa bersenang-senang dengannya."
"Besok, kan masih ada waktu untuk kalian bersenang-senang." Kalimat yang keluar dari mulutnya sendiri, membuat perasaan Liana sedikit panas.
Liana sangat mengerti apa makna dari kata 'bersenang-senang' yang di ucapkan oleh Erna, karena ia sudah ketahui apa yang dilakukan lakukan sepupunya itu dengan gadis yang ada di hadapannya. Namun, Liana tidak bisa berbuat apa-apa walau ada secuil kemarahan dalam hatinya.
"Jadiβ¦. Apa menurut kamu kalau si Barno benar-benar pria yang manis?" Erna tersenyum lebar.
"Mmmmβ¦. Ya, menurutku dia lumayan manis!"
"Sudah ku tebak, dia memang sangat manis. Karena itu kamu melihatnya dengan cara yang lain."
"Aku sangat bahagia bisa dekat dengannya, aku sangat puas, punya dia sangat panjang dan juga besar. Iya, kan?"
"Punya dia," ujar Liana yang terlihat semakin bingung.
__ADS_1
"Hahahahaha. Kenapa kamu terlihat seperti orang yang tidak tau apa-apa. Bukannya kalian pasangan S3xsss, jadi kenapa kamu pura-pura tidak tau tentang apa yang aku bicarakan."
Erna tersenyum tipis lalu kembali berkata tanpa mempedulikan ekspresi Liana yang terkejut. "Itu, pentungannya itu, loh. Sebagai pasangan s3xsss-nya, pasti kamu sudah merasakan betapa perkasanya dia dengan senjatanya itu di atas ranjang."
Erna tidak mengetahuiΒ hubungan apa sebenarnya antara Barno dan Liana, yang ia tau kalau mereka hanya sekedar pasangan bebas, dalam artian pasangan yang bebas melakukan apa saja, Bahkan adegan ranjang seperti yang ia lakukan bersama Barno dan juga Suhut, tanpa ada ikatan perasaan apapun.
"Aβapa yang kamu bicarakan. Paβpasangan s3xssssss!" Wajah Liana benar-benar sudah merah mendengar perkataan Erna.
Merasa aneh dengan sikap Liana yang menanggapi perkataannya, Erna segera meminta maaf.
"Maafkan aku, seharusnya aku tidak secara tiba-tiba membahas hubungan pasangan S3xsss kalian." Erna berdiri dari duduknya, lalu kembali berkata. "Sepertinya aku benar-benar mabuk. Aku mau mau tidur dulu.
Setelah kepergian Erna, Liana masih duduk di tempatnya dan mencerna setiap informasi yang didapatkan dari Erna. Pasangan S3xsss, hubungan ranjang, menjadi kalimat prioritas yang di pikirannya.
Beberapa jam kemudian, suasana kamar Barno begitu gelap, karena lampu kamar sengaja dimatikan. Barno yang tertidur pulas, terbangun karena merasakan di antara dua pahanya ada sesuatu yang mengelus dengan lembut. Walaupun begitu, ia begitu berat untuk membuka matanya, karena masih di bawah pengaruh alkohol.
__ADS_1
"Aghhh, sial! Apa ini si Erna? Apa dia yang memberikan 000r4LLLLL kepada adikku ini. Arggg, kalau sampai si Suhut bangun, gimana ini?"
ππππππππππππ