DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 48


__ADS_3

"Suara ini. Dengan siapa si Suhut sialan itu melakukannya?"


Seketika pikiran Barno tertuju kepada Liana, dan membuatnya emosi sendiri. Tidak terima dengan apa yang sudah dibayangkannya.


Plak … plak … plak … plak….


Kembali terdengar suara tamparan dari seberang sana. Barno hanya diam dengan segala kekesalannya kepada Suhut. Bayangan Liana dengan pinggul yang di tampar oleh Suhut, terus menari di benak Barno.


"Aghhh, enak…. Bar, aku tutup dulu telponnya."


Barno ingin menyahut, tapi sambungan telepon sudah diputus oleh Suhut. Dengan kesal ia pun meletakkan ponselnya dengan sembarang.


"Suhut monyet!" maki Barno.


Apa yang dipikirkan Barno bukanlah kenyataan yang sebenarnya. Gadis yang bersama Suhut meraih kenikmatan dunia, bukanlah Lain sepupunya, melainkan Erna. Liana tidak pernah sekalipun berhubungan dengan Suhut, apalagi hubungan seperti suami istri.

__ADS_1


Dia hari berlalu dan Barno merasa sangat bosan, pikirannya selalu tertuju kepada Liana, ada sebuah kerinduan yang menggantung di sudut hatinya. Akan tetapi, Barno merasa kalau perasaannya itu hanyalah sebuah kerinduan untuk melakukan hubungan suami istri, tidak lebih.


Hari ulang tahun Ibunya kini telah tiba. Pagi yang begitu cerah menyambut mereka. Butet telah datang menyusul pulang kampung  tadi malam. Sekarang mereka semua berkumpul di rumah Barno untuk merayakan ulang tahun Ibunya. Semua keluarga Butet juga datang, termasuk Pentin, begitu juga dengan orang tua Liana.


"Selamat ulang tahun, Bibi." Butet memberikan sebuah bingkisan hadiah kepada Ibu Barno.


"Terimakasih cantik!" Senyum kebahagiaan terpancar di wajah Ibu Barno.


"Selamat ulang tahun, Bibi." Giliran Pentin memberikan sebuah hadiah kepada Ibu Barno.


"Oh, ya Tet. Barno nggak pernah ngerepotin kamu, kan? Kalau dia bandel, pukul aja kakinya pakai gagang sapu, biar dia kapok," ucap ayah Barno yang sedari tadi hanya diam.


"Nggak kok, Ayah." jawab Butet yang memang selalu memanggil Ayah kepada Ayahnya Barno.


"Liana nggak pulang, Dek? tanya Ibu Barno kepada orang tua Liana.

__ADS_1


"Nggak, Kak. kemarin aku nelpon dia, katanya lagi banyak tugas yang harus dia kerjakan." Ibu Liana menjawab.


"Ya, udah. Nggak apa-apa. Ayo kita makan dulu, ini khusus aku yang masak buat kalian. Ayo cobain," ajak Ibu Barno.


Sedangkan Barno sudah memberikan kado ulang tahun kepada ibunya sebelum mereka semua berkumpul. Mereka pun kemudian melanjutkan ngobrol biasa sembari menikmati hidangan ala kadarnya.


Setelah selesai acara kecil-kecilan itu, Barno dan Butet pergi kelapangan untuk bermain bulu tangkis. Mereka masih menganggap itu sebagai olahraga pagi, walau jam sudah menunjukan pukul 10:13 WIB. Sedangkan penting hanya duduk sebagai penonton sembari makan lolipop.


"Udah, Ah capek! Kau main sama Pentin aja," ujar Butet.


"Aku juga malas. Panas, rambutku nanti jadi lepek, aku nggak mau kulitku jadi hitam dan kasar." Pentin menolak untuk bermain bersama Barno dengan alasan yang tidak masuk akal.


Barno hanya menggeleng mendengar perkataan Pentin. Karena tidak ada lagi yang ingin melanjutkan permainan, mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang kerumah masing-masing.


Dikala serpihan cahaya senja menyelimuti desa, dimana banyak para warga mulai berpulangan dari ladang untuk bertemu kembali dengan keluarganya. Saat itu juga Barno yang sudah selesai mandi, berbaring di tempat tidur menunggu panggilan dari sang Ibu untuk makan malam.

__ADS_1


__ADS_2