DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 41


__ADS_3

πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


Mereka berdua kemudian saling cium, penuh kelembutan, penuh perasaan. Lidah mereka saling terkait satu sama lain. Sesekali Barno meng -hisap lidah Liana, begitu juga sebaliknya.


Sambil berciuman pinggul Barno terus bergoyang maju mundur, kadang kala memutar mencari kenikmatan yang lebih besar lagi. Beberapa menit kemudian Barno tidak sanggup lagi menahan sesuatu yang ingin keluar dari dalam tubuhnya.


"Ohhh, Lia. Aku sepertinya ingin keluar!"


"Di luar. Jang buang di dalam." Liana segera memperingatkan Barno supaya tidak mengeluarkan cairannya di dalam.


"Ba-baiklah!" Bersamaan kata yang keluar dari mulut Barno, tubuhnya mengejang kuat lalu bergetar dengan hebat.


Cepat-cepat Barno menarik batangnya, dan saat itu juga cairan kental putih keluar dengan deras di atas pinggul Liana, bahkan mencapai punggung akibat tembakan yang begitu kuat. Tubuh Barno seketika lemas dan ambruk di punggung Liana.


Setelah kondisi Barno normal dan tenaganya sedikit pulih, Barno ngelongsor dari punggung Liana dan terbaring di samping gadis gadis itu. Sedangkan Liana masih telungkup dengan tubuh lemas. Tanpa sepengetahuan Barno, ia sudah mencapai dua kali kli-maxe.


Liana segera bangun setelah keadaannya normal dan langsung memakai kembali pakaiannya.


"Ingat! Jangan sampai Butet tau. Kau harus merahasiakan ini," ucap Liana denga judes.


"Tentu saja. Kau jangan khawatir, ini juga menjadi rahasiaku juga, aku tidak akan pernah memberi tau Butet tentang apa yang kita lakukan."

__ADS_1


Barno yang sudah duduk di sisi ranjang, kemudian berdiri dan mendekati Liana, lalu kembali berkata sambil memegang kedua bahu gadis itu. "Dengar, Lia. Hari ini benar-benar….!"


Belum habis kalimat yang ingin diucapkan oleh Barno. Liana menepis tangan pemuda dengan kasar.


"Lepaskan tanganmu itu. Jangan kau sentuh aku saat ini."


"Baiklah! Maaf." Barno mengangkat tangan dan menjauhkan dari bahu Liana.


"Aku benar-benar sudah membuat kesalahan besar malam ini." Liana berjalan keluar kamar sambil tertunduk dan menggeleng.


Sungguh masih tidak menyangka kalau dirinya akan berbuat hal seperti itu bersama Barno. Walau Liana menikmatinya, tapi sebenarnya juga ia tidak mau melakukannya sebelum Barno mencintai dirinya.


"Ini tidak akan pernah terjadi lagi. Kau paham," kata Liana lagi sebelum menutup pintu.


Barno kemudian berbaring menyamping, tangannya mengelus kasurnya. "Di ranjang ini, aku sudah berhubungan dengan Liana."


Di sisi lain, Liana sudah masuk kedalam kamar Butet, dan mengunci pintu dengan pelan supaya tidak menghasilkan suara, agar tidur Butet tidak terganggu. Namun, saat Liana naik ke ranjang, Butet yang tidur membelakangi pintu terbangun dan menoleh ke arah Liana.


"Lia."


"Eh…. Kau bangun?" tanya Lain sedikit terkejut.

__ADS_1


"Kau darimana saja?"


Pertanyaan yang ambigu membuat Liana sedikit bingung. Kalimat pertanyaan Butet itu, seakan-akan menyatakan kalau dia sudah lama terbangun, membuat Liana sedikit berpikir untuk menjawab.


"Aku dari kamar mandi, sesak kencing." Akhirnya Liana menjawab setelah beberapa saat terdiam.


Akan terapi, kebingunan Butet muncul lagi, setelah menyadari kalau Liana sangat berkeringat.


"Kenapa kau berkeringat?"


Lagi-lagi pertanyaan Butet membuat Liana kembali terdiam dan bingung untuk menjawab. Tidak tau alasan apa yang harus dikatakan. Tidak mungkin gara-gara buang kecil saja dia bisa berkeringat cukup banyak. Itu bukanlah alasan yang bagus.


"Apa karena…." Butet tidak melanjutkan kalimatnya.


Sedangkan Liana mulai pusing mencari jawaban. Ingin menjawab habis olahraga, tapi dia tadi sudah mengakui lebih dulu kalau ia habis buang air kecil.


"Apa karena kamarku terlalu pengap dan panas?" Apa perlu aku menyalakan kipas angin," ucap Butet sambil menoleh dimana kipas angin terletak di sudut ruangan.


Perasaan Liana seketika plong, dengan cepat ia pun berkata, "ah, nggak apa-apa. Aku baik-baik saja, kok."


"Oke. Kalau gitu aku tidur lagi." Butet kembali membelakangi Liana dan memejamkan mata.

__ADS_1


Sedangkan Liana mengelus dada, merasa lega dan berbaring. Siap untuk kembali tidur.


πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ


__ADS_2