DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 42


__ADS_3

💦💦💦💦💦💦💦


Barno masih terjaga dan berpikir, apa yang akan terjadi selanjutnya. Apa hubungannya dengan Liana akan seperti biasanya? Tidak seperti dengan Erna dimana hubungannya hanya berdasarkan kebutuhan sekxse saja. Dengan Liana jelas berbeda.


Ada sebuah rasa yang menyelinap dalam hatinya setelah melakukan hubungan tersebut, tapi Barno tidak memahaminya. Sekelebat bayangan masalalu pun muncul dalam benak Barno.


Wanita yang pertama kali muncul dan mengisi hatinya bermain dalam ingatannya. Kisah itu terjadi sewaktu dia duduk di bangku SMA. Barno tersenyum mengingat wanita itu. Entah dimana dia sekarang, Barno tidak mengetahuinya. Hubungan mereka berakhir begitu saja setelah mereka tamat SMA, dan wanita itu pergi mengikuti orang tuanya pindah dari kampung.


Setiap hari mereka selalu bersama di sekolah, pulang bersama pergi bersama.  Setiap jam istirahat mereka juga selalu bersama. Teman-teman mereka pun menjodohkan mereka karena melihat kebersamaan yang begitu dekat.


Tanpa ada pengungkapan cinta, mereka berdua menganggap kalau mereka sudah pacaran setelah melakukan sebuah ciuman, ciuman pertama dalam hidup masing-masing. Kini semua hanya tinggal kenangan.


Barno akhirnya terlelap dalam kenangan itu dan juga kerinduan untuk bisa bertemu lagi.


💦💦💦💦💦💦

__ADS_1


Siang begitu cerah dan dunia ini masih sama seperti sebelum-sebelumnya, semua manusia sibuk dengan diri masing-masing.


Tiga hari sudah berlalu sejak kejadian Barno bergumul dengan Liana. Sejak saat itu juga Liana belum pernah sekalipun datang lagi ke rumah kontrakan Barno dan Butet. Bahkan saat Barno bangun setelah malam itu, Liana sudah pergi pulang sebelum ia sempat bertemu dengan Barno.


"Apa kau sudah bertemu dengan Liana belakangan ini? Bagaimana kabarnya? Aku tidak melihat dia datang lagi ke sini," tanya Barno kepada Butet yang sedang memasak.


"Ngomong apa kau ini. Bukannya tiga hari yang lalu dia datang ke sini?" Butet tidak menoleh karena sibuk mengaduk kuah gulai, agar santannya tidak pecah dan menghasilkan rasa lebih nikmat.


"Iya, aku tau. Maksudku setelah itu. Apa dia baik-baik saja."


"Oh, tidak apa-apa sih! Tiga hari ini aku lebih sering di rumah, dan aku nggak lihat dia datang lagi," ucap Barno dengan mata tertunduk.


Barno merasa ada sesuatu dengan Liana. Barno menebak kalau gadis itu mencoba menghindar darinya.


"Kenapa? Apa kau ingin bertemu dengannya?" tanya Butet lagi.

__ADS_1


"Bukan, aku hanya khawatir biasa aja dengan pemabuk itu." Dengan lesu Barno meninggalkan Butet yang masih sedang memasak.


Berjalan keluar rumah dan menyusuri jalan tanpa tau arah tujuan, karena hanya ingin menenangkan pikirannya saja. Barno terus memikirkan Liana, merasa kalau gadis itu begitu sangat tidak ingin melihatnya dirinya lagi.


"Lia, apa kau benar-benar tidak ingin melihatku lagi? Apa kau benar-benar sudah jijik denganku."


Tanpa Barno sadari, kakinya terus melangkah menuju daerah kontrakan Liana. Ketika melihat sekitar Barno tertegun.


"Ah, kenapa aku bisa berada di sini?" gumam Barno menatap bangunan tempat kos-kosan Liana.


Sejenak berpikir apakah dia akan masuk atau tidak untuk menemui gadis itu. Hingga akhirnya Barno pun membuat keputusan untuk masuk, dan segera berjalan menuju kamar kosan gdis itu. Namun, ketika Barno berada di depan pintu kamar kosan, ia sedikit menjadi ragu.


"Apa aku harus menemuinya.? Apa yang akan kukatakan padanya nanti? Tapi apa dia ada di dalam? Ahhh! Ini gila, kenapa aku jadi begini."


Setelah bergelut dengan perasaannya, Barno memutuskan untuk mengetuk pintu. Tetapi, sebelum tangannya menyentuh daun pintu. Seorang gadis berdiri di belakangnya dengan menenteng keranjang belanjaan yang sudah penuh.

__ADS_1


"Kenapa kau di sini?"


__ADS_2