DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 44


__ADS_3

"Kau pake otak kau itu kalau ngomong!" bentak Liana, kekesalannya begitu memuncak, tapi ia mencoba untuk tenang supaya tidak terjadi keributan.


"Liana, ayolah," bujuk Barno sambil menggoyangkan pinggulnya yang sudah menempel di tubuh Liana. "Aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi." Barno meremas belahan pinggul sepupunya itu.


"Bocah gila, lepaskan tangan kau itu." 


Barno tidak peduli dan langsung jongkok dan mencium pinggul Liana. Tentu gadis itu kaget dan menoleh kebelakangnya, dan dengan jelas melihat wajah Barno yang sudah dipenuhi nap-s/u.


"A–apa lagi yang kau lakukan bocah gila, jauhkan wajah kau itu dari bo-kong ku!. Ahhh…. Bar. Apa kau sudah menjadi bocah mesum sekarang? Kenapa kau melakukan itu?" 


Liana berusaha keras mendorong kepala Barno yang menempel di belahan pinggulnya, tapi kekuatannya tidak mampu melakukan itu.


Barno kembali berdiri dan memeluk Liana dari belakang dengan erat. "Silahkan kau mengatakan apapun tentang aku. Tapi aku benar-benar sangat menginginkannya sekarang. Maafkan aku Lia, aku merasa sudah gila jika di dekatmu."


"Maka menjauhlah."


Benar-benar Liana sudah habis pikir dengan tingkah Barno yang berubah menjadi agresif dan berani kepada dirinya.


"Tidak bisa, bagaimana aku bisa menjauh darimu, Sedangkan Aku sangat menginginkanmu sekarang." Barno memeluk erat pinggang Liana dan mengangkat tubuh gadis itu.

__ADS_1


"Arghhhhh….. Bodat! Turunkan aku sekarang. Kau jangan macam-macam.?"


Tidak peduli bagaimana Liana memberontak, kekuatan Barno cukup kuat dibanding gadis itu. Barno membawa dan menjatuhkannya di atas ranjang.


BUGH….


"AGHHH," jerit Liana.


"Maaf Lia, aku ingin mengulang kembali seperti waktu malam itu.


"Maaf … Maaf! Dari tadi kau terus minta maaf, tapi permintaan maaf kau itu tidak berarti sama sekali. Kau terus saja memojokkanku Bocah monyet."


Barno segera membuka celananya dan naik ke atas ranjang. Tidak ada lagi penutup di bagian bawah.


Seketika Barno ciut mendengar ancaman tersebut, Jika benar-benar Liana berteriak maka dirinya akan menjadi bulan-bulanan para penghuni kos. Barno tidak menginginkan hal itu terjadi.


Barno kembali memakai celananya. Sedangkan Liana merasa lega.


"Kalau begitu aku pulang dulu." Wajah Barno terlihat kuyu.

__ADS_1


💦💦💦💦💦💦💦


Di Dalam kamar, Barno sibuk berkemas. Hari ini dia akan berangkat pulang kampung. Butet duduk di sisi ranjang memperhatikan pemuda itu.


"Kau kapan pulang untuk menyusul aku ke kampung?" tanya Barno kepada Butet setelah ia selesai memasukkan beberapa pakaian ke dalam tasnya.


"Mungkin lusa," jawab Butet.


"Baiklah, kalau begitu aku tunggu kau di kampung." Barno pun pamit.


Perjalanan menuju kampung halaman, menekan waktu enam jam dengan menaiki bis. Barno sekarang sudah sampai di terminal kampung halamannya. Untuk sampai ke rumah, ia harus menaiki angkot lagi.


Sama halnya di setia terminal, sebelum angkot penuh, supir akan terus menunggu penumpang, minimal separo dari tempat duduk terisi, Barulah angkot berangkat.


Cuaca begitu begitu panas, hampir sepuluh menit Barno berada di dalam angkot bersama tiga orang penumpang lainnya.


Seorang gadis cantik rambut panjang sepinggang, mata bulat, naik ke dalam angkot dan duduk di samping Barno. Gadis tersebut mengerutkan kening ketika melihat Barno, begitu juga dengan Barno.


"Barno!

__ADS_1


"Pentin!"


Gadis itu beranama Pentin. Dia adalah adiknya Butet, yang berarti masih sepupunya  Baro, alias Pariban. Gadis itu masih sekolah tingkat SMA. Tahun ini dia akan lulus, dan berencana untuk kuliah di kota tempat Barno dan Butet mengontak rumah.


__ADS_2