
💦💦💦💦💦💦💦💦
Tengah malam Barno terbangun karena ada sesuatu di bawah saba terasa sakit. Ia bermimpi tengah memadu kenikmatan bersama Liana, akibatnya batang bawah terbangun dan terasa sedikit sakit.
"Sial. Kenapa aku masih bermimpi dengannya. Padahal tidak terhitung berapa kali kami sudah melakukannya. Ahhh, sial, ini akan sulit tidur lagi jika seperti ini."
Bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar, Barno menuju kamar Butet dan mengintip ke dalam. Ketika ia mengintip, Liana bangun dan terkejut melihat Barno berada di balik pintu dan melambaikan tangan memanggil ke arahnya.
Lian pun turun dari tempat tidur dan keluar. Setelah mengunci pintu. Tau apa yang ada dalam pikiran Barno, Liana pun berbicara dengan kesal.
"Apa kau sudah gila. Kau pikir semua bisa kau lakukan sesuka hati kau. Ingat, Butet ada di sini."
"Emangnya aku mau ngapain. Ternyata buka otakku saja yang mesum, tapi otak kau juga," ujar Barno.
Mata Liana melotot mendengar perkataan Barno barusan, ia benar-benar ingin marah, tapi sebelum ia mengatakan sesuatu, Barno sudah menariknya menuju dapur.
"Ayo ikut aku, ada yang mau aku bahas."
Liana hanya bisa bisa mengikuti langkah Barno karena tangannya ditarik. Sesampainya di dapur, Barno langsung memeluk Liana.
"Tebakanku Benar, otak kau memang sudah terlalu kotor," ucap Liana.
Melihat sikap Barno beberapa hari ini, Liana mulai merasa muak, merasa kalau di dalam otak Barno hanya ada syekxss dan syekxxss, tidak ada yang lain lagi. Akan tetapi, Liana tidak mengerti dengan dirinya sendiri, setiap Barno berbuat seperti itu, dia tidak bisa untuk menolak, walau bibir berkata tidak, tapi hati meronta berkata iya.
__ADS_1
"Lepaskan aku, Bar. Aku tidak mau melakukanya lagi, ini sudah terlalu berlebihan," ucap Liana, tapi tubuhnya diam tanpa bergerak dalam pelukan Barno.
"Tapi aku ingin melakukanya."
"Tidak selam Butet ada di sini. Aku nggak mau mengambil resiko," tolak Liana.
Tidak peduli bagaimana sepupunya itu menolak, Barno segera mendekap erat dan mendaratkan sebuah ciuman di leher Liana.Â
"Ahhh, Bar!"
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Liana, bahak saat Barno menyelipkan tangannya di gunung lembut, Liana hanya diam dengan dyesa Han.
"Aku akan melakukannya dengan cepat," ujar Barno, dan segera melepaskan bagian bawah Liana.
Sepuluh menit berlalu mereka mereguk puncak kenikmatan yang begitu indah. Napas yang memburu saling bersahutan. Barno tersenyum manis, tapi Liana hanya mengerut.
Walau Liana menikmatinya, tapi ia masih tidak senang dengan cara Barno yang tidak tau tempat. Liana kembali memasang celananya dan kembali ke kamar untuk tidur. Tidak ada kata-kata yang diucapkannya saat pergi meninggalkan Barno.
…
…
…
__ADS_1
…
…
14:13 WIB.
Setelah makan siang Barno mengantar Liana pulang, mengikuti permintaan Butet. Dengan senang hati ia menurut. Siang hari yang begitu cerah, tapi cuaca tidak terlalu panas, karena banyak awan putih di langit.
Mereka berdua menyusuri trotoar sambil menikmati es dawet yang terbungkus plastik.
"Kedepannya kita tidak boleh sering-sering bersama, aku takut kalau Butet akan curiga," ujar Liana setelah menyeruput es dawetnya.
"Tenang saja, nggak akan terjadi apa-apa. Lagian dia sendiri kan yang nyuruh aku mengantarmu."
"Ya sudah kalau begitu, kau pulang saja, aku bisa pulang sendiri," ucap Liana.
"Jangan gitu, dong. Aku ingin jalan-jalan sebentar sama kau seperti orang yang lagi pacaran."
Tiba-tiba hati Liana berbunga mendengar perkataan Barno, sudah lama ia tidak pernah jalan-jalan berduaan. Liana pun menggandeng tangan Barno.
"Kalau begitu ayo kita jalan-jalan. Hmm bagaimana kalau kita nonton bioskop?" usul Liana dengan senang.
💦💦💦💦💦💦
__ADS_1