
Mohon dukungannya, dengan cara vote, like, komentar apa saja, rate 🌟🌟🌟🌟🌟 juga poinnya.
💦💦💦💦💦💦💦
Tidak peduli dengan kemarahan Butet, Barno langsung menutup pintu dan pergi untuk menjemput Liana. Sesampainya di kosan Barno mengetuk pintu, beberapa detik kemudian Liana muncul.
Wajah yang begitu manis dan senyum yang begitu indah muncul dari balik pintu. Barno terpaku menyaksikan kecantikan Liana.
"Terpesona … aku terpesona," batin Barno bersenandung.
Senyum Lain tidak surut, dan melambaikan tangan tepat di depan wajah Barno.
"Eh, monyet! Kau ngapain bengong."
Barno terbangun dari keterpakuan, dan langsung melemparkan senyum.
"Kota berangkat sekarang?" tanya Barno dan meletakkan tangan kanan di pinggangnya, tanda kalau dia siap untuk di ganteng oleh Liana.
"Hmm…. Sok romantis," ejek Liana, tapi ia tetap menggandeng tangan Barno dengan senyum ceria.
Di depan kos-kosan mereka berdiri menunggu jemputan online. Wajah ceria terus terpancar di wajah mereka, Liana yang paling kentara terlihat sangat bahagia, ia begitu enggan melepaskan tangan dari lengan Barno.Â
Sebuah mobil berhenti tepat di depan mereka, kaca mobil turun dan terlihat seorang pria jangkung tersenyum kepada mereka.
"Atas nama Pak Barno?" tanya pria tersebut.
Barno mengangguk dan membukakan pintu belakang untuk Liana, setelah Liana masuk Barno menutup pintu, ia pun kemudian mengitari mobil dari belakang dan masuk kedalam mobil tepat di samping sepupunya itu.
"Sesuai aplikasi, Bang?" tanya pria tersebut.
"Yap!" jawab Barno singkat.
Sekitar 13 menit mereka sampai di lokasi konser, mereka turun dari mobil dan mata Barno langsung menyapu sekitarnya untuk mencari keberadaan Erna, tapi gadis itu tidak terlihat. Setelah cukup lama dan memperhatikan sekitar mereka, wajah Liana mulai terlihat kusam.
Di dalam mobil tadi, Barno begitu ceria dan terlihat bahagia, tapi sekarang ia lebih fokus mencari Erna dan mengabdikan Liana.
"Dimana si Erna, ya?" gumam Barno.
__ADS_1
"Di Laut Mati," jawab Liana cuek.
Sontak Barno terkejut, lalu sesat kemudian tertawa lebar. Di saat bersamaan sepasang tangan menutup mata Barno. Liana yang melihat hal itu hanya merengut.
"HM, sok romantis," keluhnya dalam hati.
"Erna, lepaskan tanganmu itu," ujar Barno yang bisa menebak siapa yang telah menutup matanya.
"Kok kamu bisa tau kalau aku yang menutup matamu?" tanya Erna yang langsung masuk berdiri di antara Liana dan Barno.Â
"Ya taulah. Aroma tubuhmu nggak akan bisa membohongi hidungku," kata Barno tersenyum lebar.
"Dasar bocah monyet," umpat Liana dalam hati.
"Kalian udah lama nunggu?" tanya Erna Lagi.
"Baru juga nyampe," jawab Barno.
"Dasar monyet, kakiku sudah pegal berdiri di sini, malah dan bilang baru nyampe," keluh Lain lagu dalam hati.
"Eh, Lia. Kamu juga ikut rupanya. Maaf, ya. Aku kira tadi siapa," ujar Erna.
Kangen Band : Antara Aku, Kau dan Di
Selayaknya kau mengerti
Betapa engkau ku kagumi
Kau telah tinggal di dalam palung hati
Â
Betapa hancur hatiku
Melihat engkau bersamanya
Namun ku mencoba tuk tegar menghadapinya
__ADS_1
Â
Jangan kau menangis lagi
Tak sanggup aku melihatnya
Sekarang kau pilih diriku atau dirinya
Â
Kau tuliskan cerita tentang engkau dan dia
Yang membuat hatiku semakin terluka
Sudah usai sudah cerita engkau dan aku
Ku anggap sebagai bingkisan kalbu
Â
Ku tulis cerita tentang aku dan dia
Sehingga membuatmu terluka
Sudah usai sudah, jangan menangis lagi
Kurasa sampailah di sini
Â
Kau tuliskan cerita tentang engkau dan dia
Yang membuat hatiku semakin terluka
Sudah usai sudah cerita engkau dan aku
Ku anggap sebagai bingkisan kalbu
__ADS_1
Lantunan lagu dari vokalis band begitu nyaring terdengar dengan irama musik yang begitu indah. Erna pun mengajak Barno dan Liana untuk memasuki Lapangan Merdeka yang sudah dipadati penonton.
💦💦💦💦💦💦💦💦💦