DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 51


__ADS_3

"Tentu saja monyet. Aku membiarkanmu saat itu karena aku percaya, kau tidak akan berani berbuat lebih jauh kepadaku." Liana meneguk minumannya, lalu kembali berkata, "tapi tidak aku sangka, kau malah menjadi jauh lebih mesum."


"Hmmm, mesum! Bukannya kau lebih mesum dariku. Kau mengisap peni—ku diam-diam."


Liana yang kembali meneguk minumannya dan mendengar perkataan Barno barusan, membuatnya keselek, air soda yang berada di dalam mulut langsung menyembur, hingga membasahi sebagian bajunya dan juga lantai


"Dasar monyet. Kau … jangan kau bahas itu lagi sampai kau mati. Paham!" bentak Liana dengan wajah merona dan berdiri untuk mengambil tisu.


Barno hanya mengangkat kedua alisnya menanggapi kemarahan Liana. Ia tidak peduli sepupunya itu marah, karena bagaimana manapun Barno tau itu hanya kemarahan sesaat. Liana tidak pernah sekalipun benar-benar marah kepada dirinya.


Setelah mendapatkan tisu, Liana membersihkan bajunya. Setelah itu ia membungkuk untuk mengeringkan lantai dengan menggunakan tisu baru.


Saat itulah mata Barno mulai bertamasya ria. Bongkahan pinggul yang begitu indah, terpampang di depan matanya. Tidak lagi menunggu waktu, dan tidak peduli apakah Liana akan marah lagi. Barno dengan sigap meletakkan kedua tangannya di bongkahan pinggul Liana dan meremas dengan kuat.


Lagi-lagi mata Liana melotot dan menoleh ke belakang. Senyum mesum Barno membuatnya bergidik karena tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Liana segera berbalik setelah menepis tangan Barno dari pinggulnya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan monyet!"


Barno tidak berkata apapun setelah menerima makian dari Liana, tapi langsung mendorong tubuh sepupunya itu hingga berbaring di lantai, dengan cepat menyambar kedua gundukan kenyal yang tumbuh di dada.


Mata mereka beradu dengan tatapan yang memilikinya arti masing-masing.


"Aghhh, apa yang terjadi," keluh Liana, tapi bukan kepada Barno, melainkan kepada dirinya sendiri.


Otak Liana menolak, tapi batinnya menginginkan sentuhan Barno. Setelah per—se— tubuhan dengan Barno waktu itu, Liana sangat terpuaskan. Protes yang dilakukan hanya untuk menutupi dari Barno, kalau ia sangat puas dan bahagia.


"Aghhhh…. Bar!" Liana mendongak ketika Barno mulai mengulum phasyudhara-nya.


Melihat Liana bereaksi tanpa protes, senyum kemenangan melintas di bibir Barno. Dengan lembut ia memencet gundukan Liana yang sebelah kanan, membuat phasyudhara semakin menggunung, dan lidah Barno pun semakin mudah mempermainkan pyuthing Liana yang kecoklatan.


"Aghhh, Bar. Kenapa kau bilang kepada Erna kalau aku adalah padangan Syiekxx kau?"

__ADS_1


.


Di antara berjuta kenikmatan yang diterima Liana dalam tubuhnya, rasa penasaran dengan berita yang didapatkan dari Erna tentang pengakuan Barno, kalau Liana adalah padangan Syekxxnya akhirnya keluar jadi dari mulutnya. Liana sangat ingin menanyakan perihal itu, tapi rasa canggung di antara mereka beberapa minggu ini, membuat Liana selalu mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Terpaku sesaat, tidak menyangka kalau Liana akan mengetahuinya. Mata Barno tertunduk malu. 


"Apa kau benar-benar ingin aku menjadi pasangan seykxxx-mu?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut Liana, semakin membuat Barno seperti sebuah patung di atas tubuh gadis itu. Merasa terkejut dan juga bimbang kemana arah pertanyaan tersebut.


"Kalau aku memang menginginkannya, apakah kau menyetujuinya?" tanya Barno setelah kembali ke dirinya lagi.


Liana hanya diam dengan mata yang semakin sayu saat Barno kembali mempermainkan phyuthingnya. Diamnya Liana dengan ekspresi seperti itu, disimpulkan oleh Barno kalau sepupunya itu menyetujui kalau mereka adalah pasangan Syekxxx..


Dunia ini semakin gila saja, semakin sedikit peradaban yang mengutamakan moral dan adab.

__ADS_1


__ADS_2