
💦💦💦💦💦
"Ayo kita menjadi pasangan syhekxx!"Â
Merasa semua telah berjalan dengan keinginannya, Barno mulai mencium bibir Liana dengan lembut. Beberapa detik Liana hanya diam, tapi selanjutnya membuka mulutnya dan menjulurkan lidah. Barno menyambut dengan senang hati, dan mulai melilit lidah Liana dengan ganas. Permainan lidah dan saling bertukar liur. Setiap detiknya mereka resapi di setiap sentuhan lidah masing-masing.
"Hah hah hah hah."
"Hah hah hah hah."
Keduanya saling mengambil napas setelah pa–guthan mereka lepas. Barno tersenyum puas, tangannya kembali bermain di kedua phasyudhara Liana yang membuatnya langsung menggelinjang nikmat.
"Bagaimana? Apa kau menyukainya?"
"Jangan salah sangka dulu. Kau tidak bisa melakukan apa yang kau mau padaku sesuka hatimu."
Dari respon tubuhnya, Liana tentu saja menyukai dan menikmati permainan tangan Barno, tapi ia malu mengakui dan membuang wajahnya.
Menarik sudut bibirnya, Barno kemudian kembali menyedot pyhuthing Liana, membuat gadis itu mengeluarkan suara de–sa–han halus dan begitu pendek.
"Apa yang kau lakukan? Sudah aku bilang jangan melakukan apapun yang kau mau."Â
"Ayolah, Lia. Hari ini kita sudah menjadi pasangan syekxxs. Ayo kita lakukan semuanya," rayu Barno.
__ADS_1
Liana ingin bicara, tapi Barno sudah kembali meng— ulum lidahnya. Pasrah, hanya itu yang bisa dilakukan Liana yang memang menikmatinya juga. Bahkan Liana sudah merespon dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Barno. Mereka pun kembali saling lu –mat.
Adegan ci –um dan saling lu –mat bibir berlangsung cukup lama, diiringi raba -an kecil di setiap lekukan tubuh. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke kamar Barno.
"Aghh … turun aku."
Liana kaget ketika Barno menggendongnya ke kamar, tapi saat Barno tersenyum, ia pun membalas senyuman itu. Tangan kanan Liana pun melingkar di leher Barno.
Setelah masuk kamar, Barno menurunkan Liana di atas kasur. Dengan terburu-buru karena na –psu sudah di ubun-ubun, Barno membuka semua pakaiannya tanpa sisa.
"Hmmm … hmmm!"
Kerongkongan Liana terasa kering ketika melihat penampakan pen-i Barno yang panjang, jantung mulai berdetak tidak teratur, walau bukan yang pertama baginya melihat bentuk ke La – min seorang pria, tapi suasana ini sangat berbeda untuk Liana di bandingkan dengan pacarnya dulu.
Hanya anggukan sebagai tanda jawaban Liana. Dengan sumringah Barno mendekat, dan Liana pun menggapai milik Barno, menatap sejenak sebelum melakukan aksi mengurut.
"Aghhhhhh!"
Bola mata Liana naik melihat Barno yang sedang mendongak, dan tanpa sepengetahuan sepupunya itu, Liana tersenyum senang. Perlahan ia memajukan wajahnya dengan mulut terbuka, siap untuk memasukkan batang kenyal ke dalam mulutnya.
SLRUUUUUPPPPP….
Terdengar suara seruputan ketika batang Barno masuk kedalam mulut Liana, membuat Barno kembali mendongak dan tangannya meremas kuat kepala Liana.
__ADS_1
"Aghhhh!"
Beberapa saat kemudian dan setelah merasa puas diseruput, Barno meraih bahu Liana agar berdiri, lalu tanpa jijik mencium bibir Liana, walau sadar kalau mulut gadis itu telah digunakan untuk menyeruput batangnya.
Liana membalas ciuman tersebut sambil rebah di atas kasur, setelah mendapat dorongan lembut dari Barno.
"Aku juga ingin memuaskanmu," ucap Barno dan mulai membuka semua pakaian Liana.
Setelah semua pakaian Liana lepas, Barno beranjak ke kaki sepupunya itu, dan menginstruksikan agar membuka kedua paha. Walau sedikit malu, Liana melakukannya dengan ikhlas.
Di antara dua paha, Barno memandang tempat lahir anak manusia yang sedikit ditumbuhi bulu halus, jarinya mulai bergerak menyentuh tonjolan kecil tempat keluarnya air ken –cing. Tubuh Liana langsung tersentak.
"Aghh! Jangan sentuh itu, geli!"
Â
.
.
.
.
__ADS_1