DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 60


__ADS_3

💦💦💦💦


"Tentu saja masih kuat. Jangan kau anggap sepele sama aku. Aku bisa membuat kau sampai nggak bisa berdiri lagi," ujar Barno dan kembali memulai aksinya lagi.


"Aghhh…. Kau benar-benar gila," dye sah Liana.


Cukup lama mereka bertempur dalam meraih kenikmatan dunia, segala macam posisi mereka coba, semua sudut ruangan mereka jelajahi. Semua variasi mereka lakukan. Bagi Liana yang sudah pernah melakukannya dengan laki-laki lain, ini adalah per se tu buhan yang begitu sangat gila.


Kepuasan yang begitu indah yang tidak pernah Liana rasakan selama ini, begitu juga dengan Barno, tidak pernah bersemangat seperti itu, sangat jauh berbeda ketika ia melakukannya bersama Erna.


Liana dan Barno terkulai lemas, peluh membanjiri seluruh tubuh mereka dalam satu pelukan erat, diiringi napas yang masih memburu.


"Aku mandi dulu. Apa kau mau ikut?" tanya Barno ketika ia sudah berdiri, dan memandangi tubuh Liana yang terbaring lemas.


"Duluan saja kau."


Barno meninggalkan Liana dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu menuju kamar untuk mengganti pakaian. Di depan cermin lemari pakaian Barno berdiri menatap dirinya. Sebuah kemabanggan muncul di relung hatiny, kebanggaan atas keberhasilan dirinya menaklukkan Liana. Tidak pernah terbayangkan jika hasil akhirnya akan seperti sekarang ini.


Di saat Barno sibuk dengan pikirannya, Liana yang berada di dalam kamar Butet setelah ia selesai mandi, memakai pakaian yang ia kenakan sewaktu datang. Ia keluar kamar dan berteriak memanggil Barno. Hari ini ia berniat untuk pulang. 

__ADS_1


"Bar … Bar…. Kau dimana monyet?"


Mendengar teriakan Liana memanggil namanya, Barno segera keluar untuk menemui sepupunya itu.


"Apa sayangku," ujar Barno tersenyum manis.


"Aku mau pulang sekarang."


"Lah, lah, lah…. Kenapa sekarang? Ini masih jam tiga sore. Lagian Butet masih belum pulang, menginap lah malam ini di sini.


Walau Barno mengatakan sebelumnya kalau Liana boleh pulang dan akan mengantarnya, tapi ia tidak menginginkan hal itu sebenarnya. Bagaimana mungkin ia melewatkan kesempatan untuk selalu berduaan dengan Liana disaat Butet tidak ada di rumah.


Liana berjalan mendekati pintu keluar.


"Ya. Jika kau di sini terus, aku takut tidak akan bisa pulang. Otak mesum kau itu sangat mengerikan," ujar Liana.


"Tapi kan, kau menyukainya juga," goda Barno.


Liana hanya bisa menggeleng mendengar ucapan sepupunya itu.

__ADS_1


"Jangan lupa kau cuci celana yalam si Butet, kau yang sudah mengotorinya dengan air laknat kau itu," ucap Liana sambil memakai sepatunya.


"Tenang saja, aku akan mencucinya dengan bersih, kau nggak usah khawatir."


Tersenyum manis kepada Barno, lalu Liana membuka pintu. Namun, ia sangat terkejut melihat Butet ada di depan rumah, dan melangkah mendekati. Segera kembali Liana menutup pintu dengan wajah khawatir. Apa yang akan ia katakan jika Butet melihatnya, Liana sangat khawatir jika Butet berpikir yang aneh-aneh. Kepanikan Liana sangat tidak mendasar.


"Ada apa?" tanya Barno heran melihat ekspresi Liana.


"Butet di depan rumah," jawab Liana cepat.


Karena penasaran Barno membuka pintu sedikit, dan mengintip keluar. Butet sudah mulai mendekat, Barno kembali menutup pintu.


"Cepat masuk ke dalam kamarku," perintah Barno kepada Liana, ia juga ikutan panik.


Segera Liana berlari kecil memasuki kamar. saat ia masuk Butet sudah muncul di balik pintu.


"Panasnya cuaca hari ini." Butet menyeka keringat di kening.


"Kau sudah pulang?" tanya Barno.

__ADS_1


"Iya, aku pulang lebih cepat." Butet memperhatikan wajah Barno yang sedikit aneh, ekspresi yang tidak biasa, seperti orang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Butet pun kembali bertanya. "Kau sedang ngapain, kenapa wajah kau sangat mencurigakan?"


💦💦💦💦💦💦


__ADS_2