DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 18


__ADS_3

@@@@#########


Dengan memiringkan tubuhnya ke kanan, Barno berusaha menghapus khayalannya tentang perse tubuhan Liana bersama Suhut, dan ia pun berhasil melakukannya. Namun, bayangan lain muncul dalam benaknya, yaitu lekuk tubuh Erna dan pinggul merah gadis itu. 


"Anjritlah! Kenapa yang ini muncul juga. Apa yang terjadi denganku. Apa karena ini pengalaman pertamaku. Aarghhh!" 


Pikiran-pikiran mesum terus menghantuinya, Barno pun memukul-mukul kasur, ia begitu tersiksa dengan semua ingatan dan khayalannya tentang hubungan wanita dan pria. Hampir dua jam lebih Barno berjuang untuk menepis semua bayangan mesum yang ada di otaknya, hingga akhirnya dia pun kelelahan sendiri dan tertidur lelap.


Naas baginya, dalam tidurnya pun ia masih juga bermimpi tentang Liana dan juga Erna, kedua gadis itu begitu sexy berdiri di hadapannya, tanpa mengenakan apapun. Tubuh tela -njang kedua gadis tersebut menggeliat dalam mimpinya.


.


.


.


.


Pagi yang begitu cerah, setelah sarapan bersama Butet. Barno kebagian kerja mencuci piring dan menyapu rumah. Hari ini Barno tidak ada jam kuliah, sedangkan Butet sudah bersiap siap untuk berangkat kerja.

__ADS_1


Setelah semua pekerjaan rumah diselesaikan, Barno kemudian duduk santai di sofa sambil bermain ponsel. Butet yang sudah berpakaian rapi ala wanita kantoran, berpamitan kepada Barno.


"Sepulang kerja aku mau belanja sama Liana, jadi aku kayaknya bakalan pulang terlambat. Nggak usah nunggu aku nanti pas makan malam," ucap Butet


"Mau jalan sama si Lia, ya. Ya udah, hati-hati!" ujar Barno.


"Tapi jangan makan mie instan aja, itu nasi masih banyak, lauknya juga ada!" Butet mengingatkan Barno, ia tidak ingin kebiasaan sepupunya itu yang suka makan mie instan semakin menjadi.


"Iya!" jawab Barno sembari berbaring di sofa sambil tetap bermain games.


Satu harian Barno hanya berada di rumah. Sepanjang hari ia habiskan dengan menonton tv, main games. Tidak ada rutinitas yang begitu penting yang ia kerjakan, hingga sampai waktu makan malam pun tiba.


"Eh, kalian sudah pulang?" tanya Barno basa-basi.


Sadar kalau ia bersalah telah membohongi Liana, ia pun menjadi benar-benar canggung dengan kedatangannya


"Apa kau seharian ini cuman nonton di rumah?" tanya Butet sambil berlalu ke kamarnya bersama Liana


Barno hanya diam karena ia tau kalau Butet hanya sekedar meledeknya saja, ia pun memutuskan untuk masuk kedalam kamar, dan duduk di depan laptop untuk membaca novel online. Ketika ia sedang serius membaca, tiba-tiba pintu terbuka.

__ADS_1


"Boleh aku masuk?" tanya Liana yang berdiri menunggu jawabannya.


"Eh …. Uuu…. Masuklah!" Barno menjawab dengan wajah tak menentu.


Sebenarnya Barno sadar, walaupun ia tidak memberi ijin, Liana bakalan tetap masuk ke kamarnya. Karena biasanya memang sudah seperti itu sejak lama. Ya…. Apa yang dilakukan Liana hanyalah basa-basi semata.


Barno sadar betul apa yang terjadi selanjutnya, apalagi ketika gadis itu meletakkan tangan di bahu kanannya, dan berbisik di telinganya.


"Bar! Apa kau tau, apa yang akan kulakukan sama kau hati ini? Hmmm!" Liana berdiri di belakang Barno dengan senyum masam.


Sedangkan otak Barno berpikir keras, untuk mencari alasan tepat atas kebohongannya yang telah mengajak sepupunya itu jalan-jalan, tapi kenyataannya ia malah menjerumuskannya ke tangan Suhut. Namun, belum sempat Barno menemukan sebuah alasan, Liana sudah mencekiknya dari belakang dengan melingkarkan lengannya di leher Barno.


"Apa kau masih tidak mau bicara. Hah!" Anggi menggeram


"Arghh, argh, argh, argh!"


Apa yang dilakukan oleh Liana, membuat Barno langsung gelagapan dan sulit bernapas. Ia pun langsung memukul tangan gadis itu yang mencekik lehernya, supaya melepaskan kunciannya itu.


@@@@@####

__ADS_1


__ADS_2