DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 37


__ADS_3

🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥


Barno tidur lebih awal. Sekitar pukul 12 malam ia terbangun dan pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil. Bersamaan itu, pintu kamar Butet terbuka dan Liana muncul. Barno terdiam berdiri melihat Liana.


"Kau belum tidur? Apa karena aku,"


Biasanya orang kalau bangun tidur, otaknya pasti belum bisa digunakan dengan maksimal, tapi Barno beda, otaknya langsung bekerja untuk menggoda Liana.


"Asal ngomong aja kau. Aku sudah tidur, cuman terbangun aja karena haus," ucap Liana jutek dan beralih menuju dapur untuk mengambil air minum.


Ajaib dan aneh. Rasa ingin buang air kecil seketika hilang, Barno tidak ingin lagi menuju kamar mandi, melainkan mengikuti Liana ke dapur.


Entah itu kebetulan atau memang rencana Author, setelah Liana menuang air kedalam gelas dan hendak meneguknya. Gelas terlepas begitu saja dari tangannya, membuat lantai menjadi basah, dan pecahan gelas berserakan dimana-mana. Segera Liana mengambil kain lap, dan membungkuk untuk membersihkan semuanya.


Bukannya membantu, Barno malah mendekat dan dan bersimpuh di belakang Liana, dengan posisi tubuh bagian bawahnya menempel di pinggul gadis itu. Persis saat kejadian di dalam kos-kosan Liana sore itu.


"Lia!" Suara Barno begitu lembut menyebut nama Liana, kedua tangannya sudah menggenggam kedua belahan pinggul gadis tersebut.

__ADS_1


"Sialan! Apa yang kau lakukan? Apa mata kau itu tidak melihat aku sedang ngapain? Paling tidaknya kau bantu aku dulu." Liana membentak, tapi ia tidak berani untuk meninggikan nada suaranya. Takut kalau tidur Butet terganggu dengan keributan yang ada.


"Lia, apa kau keluar gara-gara aku?" Dengan penuh percaya diri, Barno mengulang pertanyaan yang sama.


"Jangan bercanda! Apa kau pikir kau bisa memegang belakangku seenak dengkul kau itu," ucap Liana bersamaan menepis tangan Barno dengan kuat, lalu berdiri dan membiarkan begitu saja lantai yang basah.


Sedangkan pecahan gelas sudah selesai ia kumpulkan, dan hanya tinggal membuangnya saja.


Bukannya marah atau merasa bersalah. Barno merangkul pinggang Liana semakin kuat dan menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.


Dengan cepat Liana menjauhkan wajahnya untuk menghindari ciuman Barno. "Gila! Kau benar-benar sudah gila!"


"Gila! Apa kabar denganmu? Kau melakukannya padaku secara diam-diam di saat aku sedang tidur. Siapa di antara kita yang lebih gila, hmmm?


Tidak bisa berkata apa-apa lagi, Liana langsung membisu. Apa yang dikatakan Barno ada benarnya juga, dia merasa dirinya sudah gila karena melakukan tindakan yang tidak terpuji terhadap sepupunya itu. Apalagi dirinya adalah seorang wanita yang mana lebih sering menjadi objek tindakan pelecehan, tapi sekarang malah kebalikannya.


Melihat Liana hanya di dengan wajah yang semakin bersemu merah, Barno semakin mengeratkan dekapannya. Membuat Liana menatapnya dengan sejuta misteri, yang tidak bisa dipahaminya. 

__ADS_1


"Singkirkan barang kau itu, jangan kau tekan terlalu kuat," ucap Liana.


Sekarang Barno baru paham maksud tatapan misteri Liana, setelah menyadari kalau ternyata batangnya yang sudah tegang, mengganjal di perut sepupunya itu. Terapi Barno hanya tersenyum tipis dengan sudut bibir kanan mengerucut.


"Hmmm! Kau yang mulai duluan. Jadi, coba ulangi lagi, hisaplah milikku."


Jantung Liana semakin berdetak kencang, butiran keringat mulai keluar dari pori-pori wajahnya. Wajah Barno yang terlihat begitu serius, seakan menandakan kalau dirinya tidak akan bisa lepas kali ini. Liana benar-benar terperangkap kali ini. Jika ia memberontak dan membuat keributan, pasti Butet akan terbangun, otomatis dia akan bertanya tentang keributan yang terjadi antara dirinya dan Barno, dan yang paling di takutnya hanya satu, kalau sampai Barno membocorkan kepada Butet apa yang telah ia lakukan waktu liburan itu. Lagian tidak bisa menebak apa yang akan terjadi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2