DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 33


__ADS_3

Jantung Liana berdetak semakin kencang, sekencang Barno menekan dibagian pinggulnya.


"A--Apa yang kau lakukan?"


Melihat Liana hanya protes tanpa menghindar sedikitpun, Barno tersenyum tipis dan mulia memberanikan diri untuk bertanya tentang kejadian Blo-w-job malam itu.


"Aku tau, kau yang sudah menghisap milikku malam itu, kan?" Pertanyaan Barno mengandung tuduhan langsung.


"A–apa yang kau bicarakan? Meng–menghisap milikmu? Menghisap apanya?" Walau Liana mencoba untuk tetap tenang, tapi nada suara sangat kentara gugup.


Apa yang dituduhkan Barno memang kenyataan. Dirinya lah yang melakukan hal tersebut, tapi ia berusaha untuk tetap diam.


"Saat aku tidur, kau menghisap ke–la–minku, kan? Aku sudah bertanya kepada si Erna, dan dia bilang itu bukan dia. Kalau bukan dia, siapa lagi kalau bukan kamu? Nggak mungkin, kan si Suhut? Ayolah, ngaku saja, nggak usah malu."


Barno memegang kedua sisi pinggul Liana, dan menariknya dengan kuat, sehingga daya tekan ke arah selang–kangannya semakin kuat.


"A–aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Cepat lepaskan!" Ia menggenggam tangan Barno untuk melepaskan diri, tapi cengkraman pemuda itu lebih kuat.


"Ayolah, Lia. jawab saja. Kenapa kau melakukan itu, bukankah itu berarti kau menginginkan aku?" Barno mulai memutar pinggulnya guna menciptakan gesekan untuk mendapat reaksi.


"Barno! Apa yang kau lakukan. Kalau kau menganggap ini candaan, ini sudah keterlaluan." Liana menoleh ke arah Barno dengan wajah merah.

__ADS_1


"Apa maksud kau candaan, bukannya kau yang lebih dahulu menodaiku?"


Liana berdiri dan menepis tangan Barno dengan kasar. 'Menodai' kata itu sangat berlebihan, walau pada kenyataannya itu benar. Tetapi Liana tidak terima kalau dirinya sikatan telah menodai Barno.


"Kita tidak bisa melakukan ini, Bar!" bentak Liana.


"Siapa bilang!" Barno langsung membopong tubuh Liana, dan membawanya ke tempat tidur.


"Ahhhh….! Apa yang kau lakukan? Cepat turunkan aku."


Tidak peduli bagaimana cara Liana protes, Barno menjatuhkan tubuhnya sepupunya itu ke atas kasur.


Entah dari mana datangnya cara berpikir Barno, ia merasa ada ketidakadilan karena dirinya telah gerayangi oleh Liana secara sepihak, tetapi dia sendiri dilarang untuk melakukan hal sama.


"I–itu … i–itu karena aku sedang mabuk saja, aku tidak menyadari apa yang aku lakukan malam itu." Liana membuang wajahnya, sangat malu untuk saling menatap dengan Barno.


"Mabuk atau penasaran? Ayolah, jujur saja kepadaku. Toh kamu sangat menginginkannya juga, kan? Atau kau benar-benar penasaran dengan bentuk dan ukuran punyaku," ucap Barno tersenyum tipis.


Tidak ada jawaban, Liana hanya diam membeku dengan wajah masih menoleh ke arah lain.


"Baiklah, bagaimana kalau aku biarkan kau melakukannya lagi seperti malam itu," ucap Barno.

__ADS_1


"A–apa! Aku mengulumnya lagi?"


Wajah Liana semakin bersemu merah. Walau ia masih sangat penasaran, tapi ia malu untuk melakukannya secara terang-terangan.


"Tidak … tidak! apa kau sudah gila!" Liana menelungkupkan tubuhnya, wajahnya ia sembunyikan di atas kasur. 


Dengan posisi Liana telungkup, Barno terus memperhatikan pinggul gadis tersebut. Bongkahan yang indah membuatnya menelan ludah. Ada hasrat untuk meremas bongkahan tersebut, perlahan tangan Barno pun mendarat, mere-mas dengan lembut.


"Tolong hentikan!" Bersamaan dengan protesnya, pinggul Liana refleks bergerak sendiri.


"Jangan bergerak, Lia. ini masih belum seberapa dibandingkan dengan apa yang kau lakukan kepadaku. Jadi, tetaplah tenang, ini hanya sebentar." Suara Barno sudah terdengar serak, karena merasakan ada sesuatu yang muncul di dalam dirinya.


Dengan cepat Barno menarik celana Liana, membuat gadis itu kaget dan langsung menoleh ke arah Barno bersamaan tangannya langsung menahan celananya agar tidak melorot.


"Bar, apa kau ingin melampaui batasan. Ini tidak baik, Bar. Hentikan! Harusnya kau tidak melakukan ini kepadaku."


"Kenapa aku tidak bisa? Sedangkan kau bisa melakukannya kepadaku?"


Lagian tercekat mendengar perkataan Barno, ia terdiam sejenak, sebelum berkata dengan terbata.


"I–itu sebuah kesalahan karena … karena a–aku sedang mabuk. I–itu bukan diriku yang sebenarnya."

__ADS_1


__ADS_2