DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 45


__ADS_3

💦💦💦💦💦💦💦💦


"Kau darimana?' tanya Barno kepada Pentin.


"Pulang sekolah. Kau nggak lihat aku masih pakai baju sekolah." Jawab Pentin.


"Ya elah, Tin. Aku tau. Cuman sapaan basa-basi aja. Kaku amat, sih." Barno menggaruk kepalanya.


Hanya ingin menyapa dengan pembukaan kata-kata yang tidak penting, tapi Barno mendapat tanggapan yang begitu dingin.


Beberapa saat kemudian, penumpang mulai berdatangan yang kebanyakan anak sekolah. Setelah penuh, angkot pun berangkat.


Di peejalan tiba-tiba angkot berhenti mendadak, sontak semua penumpang condong menyamping ke depan. Tempat duduk angkot bentuknya  panjang  di kanan dan kiri angkot, sehingga semua penumpang saling berhadapan. 


Karena posisi duduk Pentin di depan dari arah pintu, dan disaat angkot tersebut berhenti mendadak. Barno yang duduk di sisi Pentin ikut condong, dan tanpa sengaja mencium pipi sepupunya itu. Sontak pentin kaget dan merasa malu karena penumpang yang duduk di hadapan mereka melihat kejadian itu.


"Ma–maaf, Tin, itu bukan salahku." Barno segera minta maaf.


Pentin hanya diam dengan mata melotot, wajahnya memerah. Orang yang duduk di depannya tersenyum simpul melihat Pentin. Sepanjang perjalan tidak ada lagi percakapan di antara Pentin dan Barno, semuanya kini terasa canggung.

__ADS_1


Sesampainya ditempat tujuan, Pentin turun dari angkot begitu juga dengan Barno. Rumah Barno selisih tiga rumah dengan Pentin.


Pentin langsung menuju rumahnya, sedangkan Barno berusaha memanggil untuk meminta maaf yang kedua kalinya.


"Pentin, Maafkan aku. Tadi benar-benar tidak sengaja. Itu semua salah angkot sialan itu. Aku tidak bermaksud ingin melakukannya," ucap Barno, tapi pentin diam dan langsung masuk ke dalam rumah.


Barno hanya mendengus dan menyesali apa yang telah terjadi, walau apa yang telah ia lakukan kepada Pentin bukanlah keinginannya, tapi tetap saja hal tersebut sangat memalukan, karena banyak orang yang menyaksikan. Terlebih lagi telah lama ia tidak bertemu lagi dengan sepupunya itu, tapi sekalinya bertemu, kejadian tidak terduga malah terjadi.


"Hmmm!" Barno menggumam dan segera pulang ke rumah.


Kenangan masa kecil bersama Pentin sejenak bermain dalam ingatan Barno. Waktu mereka kecil, ia dan Pentin sering bermain, terkadang mereka berdua mengejar Butet yang pergi bermain bersama Liana.


Barno sekarang sudah bediri di depan pintu rumahnya, lalu membuka pintu serta berteriak kencang.


"Ibu, aku pulang!"


Suara Barno menggelegar sampai ke dapur. Seorang wanita yang sedang memasak sontak terkejut. Terapi ia tersadar setelah mendengar suara yang begitu ia rindukan selama ini.


"Anak Ibu sudah pulang!" Wanita itu langsung memeluk Barno.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Ibu? Ibu sehat-sehat saja, kan? Adik mana? tanya Barno setelah pelukan sang Ibu lepas.


"Sudah pergi ke rumah temannya."


"Ibu, Aku sangat lelah hari. Apa aku boleh istirahat sebentar? Habis itu kita kangen-kangenan lagi." Barno mencium kening Ibunya.


"Ya sudah, sama istirahat dulu. Ibu sudah membersihkan kamarmu," ucap sang Ibu dan mengelus kedua pipi Barno dengan lembut.


Setelah masuk kedalam kamar dan melemparkan tasnya ke sembarang arah. Barno berbaring ditempat tidur, seluruh tubuhnya ia kejangkan beberapa saat ,untuk melonggarkan otot-ototnya yang kaku akibat perjalanan yang cukup jauh.


"Ahhhh. Sangat melelahkan. Badanku jadi kalau dan terasa sakit, akibat duduk hampir seharian."


Karena begitu sangat lelahnya, Barno tertidur dengan sangat pulas. Hingga sore berlalu dan malam pun tiba. Barno terbangun karena mendengar suara Ibunya memanggil. Barno menggeliat sebentar, lalu melihat jam di ponselnya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 19:13 WIB. 


"Iya, Ibu. ada apa?"


✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️✔️

__ADS_1


__ADS_2