DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 67


__ADS_3

πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


"Apa kalian berpacaran?" tanya Suhut.


Sejak bertemu dengan Liana tadi, Suhut merasa kalau ada yang aneh dengan hubungan Barno dan Liana. Jadi, Suhut ingin memastikannya, apalagi sekarang Barno sudah mabuk, dan setiap orang mabuk omongan mereka 99 persen adalah kebenaran.


"Siapa yang pacaran." ujar Barno.


"Jadi kalian tidak pacaran, tapi kau bilang kalian adalah pasangan syekksx."


"Oh, itu." Barno menundukkan kepalanya yang sudah mulia terasa berat.


"Itu aneh. Aku kira Liana benar-benar menyukaimu," ujar Suhut kemudian.


Teringat bagaimana Liana menolaknya ketika liburan yang lalu, Suhut saat itu merasa kalau penolakan Liana disebabkan karena sudah menyukai Barno. Akan tetapi, tadi ia melihat cara Liana berinteraksi dengan Barno, dan merasa kalau mereka seperti hanya sekedar teman.l biasa.


"Pacaran. Hmmm…. kau ingin mengejekku, ya. Bukannya kau sudah melakukan syek dengannya?"


"Oh, itu…." Suhut diam sejenak, sekilas ada terpancar rasa kecewa di wajahnya.

__ADS_1


"Hei, kenapa kau diam k4mpret? Jawab aku, apa kau memang sudah melakukannya?" Barno merubah kalimat pertanyaannya.


Melihat ekspresi Barno yang sedikit menahan rasa kesal. Senyum tipis melintas di bibir Suhut.


"Iya, aku memang sudah melakukan syek dengannya. Tapi kami tidak pacaran. Kau tau kan maksudku. Ya, hanya sekedar teman saling pelampiasan hasrat saja. Kau ... apa kau pacaran dengannya?"


"Tentu saja tidak, melibatkan perasaan itu dengan kondisi seperti ini. Itu sangat tidak realistis. Masa muda kita penuh gejolak, masih banyak yang dinikmati sebelum semuanya diakhiri nantinya. Cinta harus mengutamakan kepercayaan satu sama lain, dan menurutku itu sangat tidak masuk akal." Barno kembali meneguk minumannya. Wajahnya benar-benar sudah merah sekarang.


"Hai."


Tiba-tiba seorang gadis mudah cantik rambut panjang dikuncir kuda, muncul dan menyapa mereka. Barno kaget melihatnya, sedangkan Suhut hanya tersenyum.


"Ayo, sini gabung sama kami." Suhut bergeser untuk memberikan gadis itu tempat duduk di sampingnya.


"Apanya bagaimana? Tentu saja aku yang manggil dia." Suhut terlihat sumringah dan menuangkan minuman keras ke dalam gelas dan memberikannya kepada Erna.


Erna meneguk minuman itu dengan sedikit mengangkat kepala. Barno yang selalu berotak mesum, memperhatikan leher Erna yang jenjang dan halus, lalu beralih ke arah bagian dada. Pesona keindahan tubuh Erna membuat Barno tidak bisa berkedip. Padahal ia bukan saja hanya pernah melihat bentuk aslinya, melainkan juga menikmatinya. Akan tetapi, dasarnya otak me -sum tetap saja akan selamanya begitu.


Mereka bertiga mulai bercengkrama, membahas hal-hal yang kadang tidak penting, tapi terkadang hal yang tidak penting tersebut, mampu membuat mereka tertawa terbahak-bahak. Tanpa terasa, enam botol lagi minuman keras sudah habis mereka teguk.

__ADS_1


Malam terus berjalan, para pengunjung bar mulai ramai berdatangan. Barno juga tidak sadar kalau saat itu sudah menunjukkan jam 11 malam lewat. Tentunya jam malamnya sudah habis.


"Sudah malam, aku butuh istirahat. Besok ada yang harus aku kerjakan," ucap Erna setelah meneguk minuman terakhirnya.


Tersadar, Barno melihat jam tangannya. Matanya langsung melotot. "Wah, kita memang harus pulang sekarang. Aku ingat harus mengerjakan tugas kuliah."


Tentunya hanya alasan Barno saja untuk menyelesaikan tugas kuliah. Ia tidak mungkin mengatakan kalau jam malamnya telah habis, dan takut akan dihukum oleh sepupunya. Siapa lagi kalau bukan Butet.


Berjalan menyusuri malam. Barno dam Suhut mengantar Erna lebih dulu ke kosan gadis tersebut dengan berjalan kaki, karena kosan Erna memang di sekitaran Lapangan Merdeka tersebut.


Dalam perjalanan menuju kosan Erna. Gadis itu tiba-tiba berhenti, dan langsung membungkuk. Apalagi kalau bukan ikatan tali sepatunya yang terlepas. Barno dan Suhut berdiri di belakang Erna, tersenyum aneh melihat gadis itu.


Pikiran Barno bekerja dengan sangat cepat, dan segera mendaratkan tamparan kecil di pinggul Erna.


Plak!


Plak!


Ketiganya kaget mendengar suara tamparan sebanyak dua kali. Barno tidak menyangka kalau ada dua telapak tangan berada di pinggul Erna, begitu juga dengan Suhut. Kejanggalan itu membuat Barno dan Suhut saling tatap. Tidak pernah menyangka kalau mereka berdua akan serentak melakukan tamparan tersebut.

__ADS_1


Sedangkan Erna hanya tersenyum tipis, ketika menyadari kalau ada dua telapak tangan di pinggulnya.Β 


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


__ADS_2