
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Semua keinginan tubuhnya telah ia curahkan, napas Barno terlihat masih memburu ketika ia memasang celananya. Begitu juga dengan Erna yang tersenyum puas. Pergumulan bersama Barno tidak pernah mengecewakan.
"Aku duluan, ya," ucap Barno dan langsung meninggalkan Erna sendirian.
Erna menatap punggung Barno dengan kesal, tidak sempat mengucapkan sepatah kata, tapi pria itu langsung menghilang. Padahal Erna ingin menyampaikan sesuatu hal yang menyangkut perasaan. Erna hanya bisa menghela napas dan menyusul Barno.
Setelah masuk ke dalam keramaian para penonton, Erna mencari Barno, tapi tidak juga menemukan pria tersebut.
Di luar lapangan Barno berdiri dan melayangkan pandangannya mencari Liana. Namun, ketika ia melihat gadis itu, dadanya bergemuruh penuh emosi. Di sisi Liana ada Suhut dan mereka terlihat sedang mengobrol.
"Sial. Kenapa anak kempret itu ada di sini?" Barno mengumpat, tidak rela melihat Suhut mendekati Liana. Bayangan pergumulan antara Liana dan Suhut mulai melintas di dalam benaknya, walau itu hanya dalam bentuk imajinasi saja.
Melihat Liana dan Suhut memasuki sebuah kedai nasi, Barno segera menyusul mereka. Apapun ceritanya ia akan menggalakkan usaha Suhut untuk mendekati Liana.
Saat Barno sampai di kedai, tampak Liana sedikit kaget. "Barno."
__ADS_1
Suhut pun langsung menoleh ketika mendengar Liana menyebut nama Barno.
"Oh. Kau di sini rupanya." Wajah Suhut sedikit mengukir sebuah kesinisan, tanda kalau dia sangat tidak senang dengan kemunculan Barno.
Masuk ke dalam kedai dan duduk di samping Suhut, sedangkan Liana di seberang meja.
"Kapan kau sampai ke sini. Aku kira kau lagu bermain-main dengan banyak wanita di hotel."
Kata-kata itu, Barno ingin Liana mendengarnya dengan jelas. Apalagi yang diinginkan jika bukan membuat Liana merasa jijik melihat Suhut.
"Ah, kau kawan. Apa yang kau katakan. Ngelantur saja kau." Suhut berusaha memaksa tertawa kecil, tapi matanya menjauh ke bawah menutupi ke kekesalannya dari pandangan Liana.
"Apa? Tuak atau Bir?" tanya Barno balik, matanya melirik Liana.
Ajakan Suhut sangat dipahami betul oleh Barno, apalagi kalau bukan untuk bisa menaklukan Liana. Menurut tebakannya, setelah Liana nanti mabuk, pasti Suhut akan menawarkan diri untuk mengantar Liana pulang. Selanjutnya, apa yang akan terjadi?
"Hmm … aku tidak akan membiarkan kau kampret."
__ADS_1
"Kalau begitu ayo kita minum sampai mabuk." ajak Barno.
Liana menatap Barno dengan intens, lalu langsung berdiri dari tempat duduknya. "Kalau begitu aku akan pulang duluan. Kalian bisa pergi tanpaku."
Ekspresi kedua pemuda itu langsung berubah, dan wajah yang paling aneh adalah milik Suhut. Reaksi Liana di luar perkiraannya, padahal ia sangat berharap gadis itu ikut dengan mereka.
"Apa kau mau pulang sekarang?" tanya Barno.
"Ya, bersenang-senanglah kalian," ujar Liana dan melambaikan tangan seraya pergi ke meninggalkan mereka.
Setelah kepergian Liana, Barno dan Suhut pergi menuju ke sebuah Bar terdekat. Suana Bar tidak terlalu ramai karena efek kedatangan Band musik terbesar di Negara tersebut.
Kedua pemuda itu terus minum dengan obrolan biasa, tidak terasa mereka sudah terlihat sangat mabuk.
"Aku melihat Liana sepertinya sangat aneh." Mata Suhut sudah terlihat satu, wajahnya juga memerah akibat pengaruh alkohol.
"Hah, aneh gimana?" tanya Barno sambil menuangkan minuman dari botol ke dalam gelas, lalu meneguk.
__ADS_1
💦💦💦💦💦