
®®®®®®®®®®®®®®®®
"Aku tidak tau dan mengerti, apa cerita kau itu benar atau tidak, aneh saja menurutku kalau hanya memukul panstatsnya saja, kau bisa berhubungan badan dengan Erna." Tatapan mata Barno begitu nyala, ia masih memikirkan kebenaran cerita Suhut.
"Terserah kau saja. Tapi asal kau tau, aku menceritakan kebenaran ini hanya karena Liana. Jadi, kuharap kau menepati janji kau itu!" Suhut tersenyum licik. Sepintas ia mengedarkan pandangan di sekitarnya.
"Huh … aku tidak ngerti cerita kau itu benar atau tidak. Jadi, jika aku memukul panstats si Erna, aku bisa berhubungan badan dengannya?" Barno ragu, tapi di dasar hatinya berharap penuh kalau cerita itu nyata.
"Tentu saja. Kau harus melakukan itu untuk menarik perhatiannya. Hanya itu bantuan informasi yang bisa aku kasih tau ke kau, silahkan buktikan sendiri. Itupun jika kau punya nyali untuk melakukannya" ejek Suhut tertawa kecil.
"Bajingan gila. Kau pikir aku akan jatuh dengan trik konyol kau itu!" ucap Barno kesal.
"Kalau kau nggak percaya, ya sudah!" Suhut kembali tertawa kecil, sadar kalau Barno sudah mempercayai kata-katanya, walau Barno terlihat kesal dan matanya memancarkan keraguan.
"Satu hal lagi. Karena kau adalah temanku, aku akan memberitahu kau sesuatu." Suhut melambaikan tangannya agar Barno lebih mendekat, lalu ia pun membisikkan sesuatu.
__ADS_1
"Apa! Apa maksudmu pengkondisian dan refleks?" tanya Barno bingung setelah mendengar kata-kata yang dibisikkan kepadanya.
"Benar, itu semua karena masalalu yang terjadi padanya waktu itu." Suhut menopang dagu dengan kedua kepalan tangannya.
"Apa yang terjadi?" Barno terlihat antusias.
Akan tetapi, sebelum Suhut sempat menyampaikan sesuatu. Erna yang sudah kembali dari toilet, berdiri di di samping Barno.
"Kalian berdua ngapain bisik-bisik. Apa yang kalian bahas?" tanya Erna dengan melipat kedua tangannya di dada dengan memasang raut selidik.
Tidak terima dengan kalimat Liana, Barno berkata ketus, "Hei, apa maksudmu dengan mesum?"
Sedangkan Suhut hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Liana tersebut. Tiba-tiba Erna membungkuk untuk mengikat tali sepatunya yang kembali lepas, dengan posisi membelakangi Barno, membuat bongkahan panstatsnya yang padat, tepat mengarah di hadapan Barno. Mata pria tersebut pun langsung terbelalak, dan benaknya langsung teringat dengan ucapan Suhut, kalau hanya dengan menampar panstats gadis itu, maka ada kemungkinan besar akan menikmati keindahan dunia bersamanya.
Godaan pun muncul menyelimuti hati Barno, tapi karena situasi yang tidak memungkinkan, ia mencoba untuk tetap bertahan agar tidak memukul bongkahan gadis tersebut. Namun, matanya tidak pernah bisa lepas memandang bongkahan Erna yang begitu montokss.
__ADS_1
Liana yang mengetahui betapa liarnya mata Barno, langsung pindah dan berdiri di antara mereka, untuk menutupi pandangan pemuda itu. Hal tersebut membuat Barno tercekat dan mati kutu.
"Apa yang kau lihat. Mata kau itu sudah mau keluar!" ledek Liana tersenyum kecil melihat raut wajah Barno yang ketangkap basah.
"A–apa yang kau katakan?" Barno langsung berdiri dan mengajak Suhut untuk pergi ke toilet. "Hut, kawani aku ke toilet."
Barno pun langsung pergi dan diikuti oleh Suhut. Setelah mereka berada di dalam toilet, Barno langsung memberondong temannya itu dengan beberapa pertanyaan, tentang apa yang di bisikkan kepadanya beberapa menit yang lalu.
"Erna dulu pernah suka dengan seorang cowok. Nah, cowok ini sering kali menyapa dia dengan pukulan kecil di area p4nt4tnya. Makanya, setiap ada orang yang memukul pantatnya, dia jadi teringat dengan cowok itu dan g41ir4hnya pun jadi bangkit. Bahkan setiap dia berhubungan badan, wajib hukumnya untuk memukul p4nt4tnya."
Suhut menjelaskan alasan, tentang kenapa hanya dengan memukul *4**4* gadis itu, maka ia bisa langsung berhubungan badan dengannya.
....
®®®®®®®®®®®®®
__ADS_1