
Mohon dukungannya, ya.
πππππβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈ
Barno tiduran di dalam kamarnya dengan posisi telungkup dan ponsel di tangan. Melihat sebuah IG seorang aktor terkenal yang kabarnya selalu bergonta ganti pasangan.
"Ah, sial. Berapa banyak wanita yang sudah di gauli anak ini. Andai saja separo ketampanannya di berikan kepadaku.aku pasti bisa punya banyak cewek."Β
Barno tersenyum geli dengan apa yang dipikirkan. Ia letakkan ponselnya dengan sembarang dan memutar tubuhnya menjadi tentang, kedua tangannya ia silangkan di bawah kepalanya sebagai bantal.
"Hmmm β¦ sudah hampir dua jam. Pemabuk itu pasti sebentar lagi akan datang." gumam Barno.
Sekitar dua jam lalu, Butet pamit kepada Barno untuk mengunjungi Liana, dan kemungkinan akan mengajak gadis itu untuk menginap di kontrakan mereka.
Bayangan kemolekan tubuh Liana kembali bermain dalam otaknya, dan juga saat dia menyentuh bagian bawah tubuh gadis itu. Ada hasrat yang timbul dan menguatkan keinginannya untuk mendapat Liana.
"Aku tidak percaya kalau aku melakukannya. Sekarang aku tidak bisa mengontrol diriku, entah kenapa bayangannya selalu muncul. Ahhh, sial! Ada apa dengan otakku sekarang? Kenapa aku selalu memikirkan hal-hal mesum akhir-akhir ini. Jika seperti ini terus, aku takut tidak mengontrol diri di hadapannya. Aaahhhhhhhhh."
__ADS_1
Bersamaan gejolak hatinya, Barno membayangkan permainan panas bersama Liana, ia benar-benar membayangkan kalau batangnya memasuki liang hangat gadis itu. Refleks tangannya pun mengelus batangnya yang sudah naik di dalam celana.
"Ahhhhh, sial!"
Barno segera menuju kamar mandi, ia benar-benar tidak sanggup lagi menahan. Jika ia bertahan, Mak pikiran kotornya tidak akan pernah hilang. Oleh karena itu Barno menuntaskan hasratnya itu. Sabun baru yang masih berada dalam bungkusnya ia buka, lalu mengoleskan ke batangnya.
Clek β¦ clek β¦ clekβ¦..
Kelima jarinya ia pergunakan sebaik-baiknya, sebuah sensasi muncul dan menjalar di setiap sarafnya. Barno memuaskan dirinya sendiri.
"Aaargggggg!"
Di atas sofa Barno membaringkan diri, terkulai lemas. Namun, baru beberapa menit berbaring, muncul Butet dan Liana. Barno segera bangun dan menyapa.
"Udah pulang," sapa Barno, saat ia melihat Liana dan mata mereka beradu. Barno langsung menoleh ke arah lain, begitu juga dengan Liana.
Mereka berdua tidak sanggup berlama-lama untuk saling pandang. Sedangkan Butet yang menyadari keadaan itu, hanya bisa mengerut kening, karena dia tidak tau apa yang terjadi di antara kedua sepupunya itu.
__ADS_1
"Apa kau sudah makan?" tanya Butet.
"Sudah, tadi aku masak mie instan," jawab Barno.
"Mie instan lagi. Padahal aku sudah masak sambal ikan sama gulai ikan. Masih aja kau makan mie instan. Jagalah kesehatan kau itu. Sakit kau, aku yang susah," ucap Butet kesal, logat Bataknya pun keluar ketika memarahi Barno.
Butet duduk di samping Barno, dan mengeluarkan minuman kaleng dan beberapa makanan ringan. Sedangkan Barno langsung berdiri.
"Kau mau kemana? Temani kami minum," ucap Butet melihat Barno berdiri dan hendak pergi.
"Kalimat saja, aku ngantuk," ujar Barno yang sebenarnya masih tidak enak hati melihat Liana.
Tatapan Liana begitu intens melihat Barno yang masuk kedalam kamar, ia pun duduk di samping Butet sambil menonton siaran televisi 'Jeritan Hati Suami'.
"Kalian sebenarnya ada masalah apa?" tanya Butet sambil membuka bungkusan jajanan kentang dengan giginya.
"Nggak ada apa-apa?" jawab Liana santai, tapi ia menarik napas dalam menunjukan kalau dia memiliki masalah dengan Barno, dan Butet tau hal itu, tapi ia memilih untuk tidak bertanya lagi.
__ADS_1
βοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈβοΈππππ