
💦💦💦💦💦🔥🔥🔥
"Ayo, kita makan malam dulu. Ibu sudah siapkan makanan kesukaan kamu. Cumi tumis hitam." ajak Ibu Barno dari luar kamar.
Cumi tumis hitam adalah lauk kesukaan Barno, dimana cumi di tumis seperti biasa dengan sedikit kuah dengan tinta cumi itu sendiri, sehingga membuat cumi benar-benar hitam.
'Iya, Ibu. Aku datang!"
Barno keluar kamar dan segera bergabung dengan keluarganya untuk makan malam. Tidak ada pembicaraan yang begitu serius yang terjadi di meja makan.Â
Setelah selesai makan, Barno pamit untuk kembali ke kamarnya. Ia berbaring sambil bermain ponsel. Menjelajah di Dunia Mbah google. Tiba-tiba sebuah iklan muncul tentang platform, dimana tempat ribuan orang untuk membaca dan menulis sebuah cerita. Barno langsung membuka situs tersebut melalui laman web, dan membaca sebuah novel berjudul 'Sang Kepala Suku'.
Cerita tentang sebuah perjalan anak manusia dan berpetualang ke lama ghaib untuk mencari sebuah pusaka sakti, guna memberantas kejahatan dari para iblis yang ingin menguasai seluruh alam. Juga untuk menyelamatkan sukunya dari kebiadapan para iblis.
Setengah jam Barno sudah selesai membaca novel tersebut dengan cara maraton, karena memang novel tersebut belum tamat, dan masih gantung.
Bosan. Barno membuka daftar kontak dan menggeser keatas dan kebawah. Jempolnya langsung berhenti ketika melihat kontak dengan nama Erna.
"Hmmm. Biasanya kalau bosan gini, aku sering chatan sama Liana. Tapi sekarang kondisi tidak seperti dulu lagi. Apa sekarang aku harus menghubungi si Erna. Dia lagi ngapain, ya?"
Setelah berpikir sejenak, Barno memutuskan untuk menghubungi Erna, wajahnya terlihat cerah ketika panggilannya tersambung.
"Hai, Er. apa kabar? I Miss you," sapa Barno, seulas senyum menghias di wajahnya.
__ADS_1
"Hai, Bar!" sahut Erna dari seberang sana.
"Apa kamu lagi sibuk. Aku pengen kamu nemenin aku ngobrol."
"Ya, udah. Datang aja ke tempat biasa."
"Bukan itu, maksudku temani aku ngobrol di telepon. Aku sekarang lagi di kampung. Orang tuaku bakalan ulang tahun" Barno meluruskan maksudnya.
"Oh, kamu sekarang di kampung ya. Padahal aku merindukanmu. Apalagi besok ada acara cosplay di klub kami. Aku rencananya mau ajak kamu, Bar!"
"Cosplay. Acara kostum anime itu, ya?" tanya Barno.
"Iya!"
Walaupun begitu, beberapa cosplayer ada juga yang memakai kostum anime Asia, sama halnya dengan Erna. Sebagai penggemar wibu anime Dunia dari serial Naruto. Tentunya gaya Hinata menjadi pilihannya, dan ia ingin menunjukkannya kepada Barno, tapi sayang keinginan itu tidak bisa terwujud.
"Si Suhut Borokokok itu datang juga nanti?"Â
"Iya, dia akan datang untuk melihat penampilanku nantinya," jawab Erna.
Hampir setengah jam Barno mengobrol dengan Erna melalui sambungan telepon, hingga akhirnya gadis itu pamit dan memutus sambungan, karena ada hal yang penting yang harus diurusya lagi.
Barno berbaring dengan kedua tangan menyilang di bawah kepala sebagai bantal, bayangan Erna yang memakai kostum anime menari-nari dalam benaknya.
__ADS_1
"Pasti dia akan terlihat seksiy!"
Terus membayangkan Erna hingga akhirnya Barno terlelap. Sebuah cahaya terang menyilaukan tiba-tiba muncul, dan Barno masuk kedalam cahaya tersebut dengan menutup mata, karena tidak tahan dengan cahaya yang menyilaukan tersebut.
Ketika Barno membuka mata, ia melihat banyak orang di sekitarnya, kemudian melayagkan pandang untuk melihat keadaan. Barno pun menyadari kalau dirinya sedang berada di dalam sebuah angkot.
Paling mengejutkannya adalah, sosok Liana duduk tepat di hadapannya tanpa busana, dan yang paling anehnya lagi, semua orang yang berada di dalam angkot terlihat cuek, seakan mereka tidak melihat kehadiran Liana.
"Apa ini? Apa Liana Sida kehilangan urat malunya? Kenapa dia sangat berani dengan berpose seperti itu."
Batin Barno bergejolak menyaksikan pemandangan tersebut, apalagi ketika Liana mulai mendekatinya, tangan gadis itu langsung merayap ke alat Barno yang paling sensi—tif, membuatnya langsung keringat dingin.
"Tidak! ini pasti mimpi. lagian yang aku kenal bukan orang yang seperti ini."
.
.
.
.
.
__ADS_1