
444444444445555555566
Sedangkan Suhut menatap tajam kepada Barno, terlihat jelas dari tatapannya kalau ia begitu kesal kepada Barno akibat kejadian semalam. Rencananya untuk bisa berduaan menikmati malam bersama Liana, menjadi hancur berantakan akibat dia mabuk berat, dan itu semua karena ulah Barno yang mengajaknya bertaruh.
"Habis ini, bagaimana kalau kita jalan-jalan, di dekat sini ada danau dengan pemandangan yang begitu indah.
"Benarkah! Wah, aku paling suka berada di alam yang begitu indah, apalagi….!" Erna tidak melanjutkan kalimatnya, tapi matanya melihat ke arah Barno, dengan pandangan yang yang begitu menggoda.
"Bagaimana denganmu, Lia? Apa kau tertarik?" tanya Suhut.
"Aku ngikut aja kemana kalian mau pergi," sahut Liana.
Setelah mereka selesai sarapan, semuanya pun bersiap-siap untuk pergi ketempat yang ingin mereka tuju. Di depan rumah, Barno dan Suhut sedang menunggu kedua gadis itu yang sedang berganti pakaian.
"Bar, aku mau kau melakukan sesuatu untukku," ucap Suhut dengan suara pelan.
"Hmm….Apa?"
__ADS_1
"Kau bawa Erna menjauh dari kami, aku ingin hari ini berduaan saja dengan Liana."
"Apa maksudmu?" tanya Barno heran.
Di mata Barno, kedekatan Liana dan Suhut begitu intim, dan permintaan pemuda itu untuk memberikan ruang untuk mereka, membuat Barno merasa janggal. Bagaimana tidak, keduanya sudah melakukan hubungan suami istri, seharusnya Suhut bisa mengatur agar mereka memiliki waktu berduaan tanpa harus melibatkan dirinya.
"Hmmm…. Pake nanya lagi. Semalam aku tidak punya kesempatan, itu semua gara-gara kau."
"Lah, aku pula yang kau salahkan, padahal kau yang lemah. Baru tiga gelas sudah tepat kau." Barno menarik sudut bibirnya untuk mengejek Suhut.
"Pokoknya, aku nggak mau tau. Hari ini aku mau berdua saja sama si Lia tanpa ada kalian."
Mendengar suara langkah kaki dari belakang mereka. Barno dan Suhut menghentikan pertengkaran mereka. Sebelum kedua gadis itu mendekat, Suhut mendekati Barno seraya merangkul bahunya.
"Barno kawanku, kau harus ingat. Berkat aku, kau bisa mendapatkan Erna, dan melepaskan perjaka kau itu. Setelah semua yang aku lakukan, kau malah tidak mau membantuku." Suara Suhut begitu pelan takut kalau sampai kedua gadis itu mendengarnya.
"Berarti kau belum melakukannya dengan si Lia? Makanya kau minta bantuanku lagi."
__ADS_1
Menyimak apa yang telah diutarakan Suhut barusan, Barno menyimpulkan kalau Lain masih belum diapa-apain oleh pria yang berdiri di sampingnya itu.
"Su–sudah, lah. Apa kau meragukan keahlianku ini. Tapi … Liana itu begitu tangguh, aku ragu dia mau untuk melakukan lagi yang kedua kali bersamaku."
Walau terasa berat untuk memenuhi permintaan Suhut. Namun, Barno tetap melakukannya untuk membantu, karena itu ketika mereka sedang berjalan menuju danau, dimana di setiap sisi jalan dipenuhi pepohonan muda. Barno berpura-pura mengeluh.
"Aduh! Aku tidak sanggup lagi jalan!"
"Kenapa kau?" tanya Suhut yang berjalan di depan Barno bersama Liana, dan menoleh kebelakang.
Sedangkan Erna terlihat khawatir, ia tidak tau kalau Berno hanya berpura-pura saja. Untuk Liana, ia menebak kalau sepupunya itu hanya mencari alasan agar bisa berduaan bersama Erna.
"Kayaknya semalam aku terlalu banyak minum. Capek…. Aku mau istirahat dulu. Kalian duluan saja. Erna temani aku di sini istirahat sebentar."
"Ada apa, Bar. Tadi kamu bilang badanmu sudah segar?" tanya Erna dengan mengatupkan kedua tangannya, menunjukkan kalau gadis itu begitu sangat mengkhawatirkan keadaan Barno.
"Entahlah! Habis sarapan tadi tiba-tiba badanku nggak enakan."
__ADS_1
Lagian mengerut, di sisi lain Suhut menyunggingkan senyum. Paham kalau Barno sengaja untuk memberikan dia ruang agar bisa bersama Liana.
😁😁😁😁😁😁