
πππππππππππ
Setelah Erna dan Suhut pergi, kini Barno hanya tinggal berdua saja di dalam rumah. Cukup lama mereka diam, dan merasakan ada sebuah kecanggungan di antara mereka.Β
Barno tidak tau apa yang terjadi dan apa yang ada di dalam pikiran Liana. Yang pasti ia menyadari gadis itu terlihat canggung berada di dekatnya. Sedangkan Barno, merasa canggung karena pikiran mesumnya terhadap sepupunya itu.
"Hmm β¦ hmβ¦. Aku akan melihat lihat ruang kamar dulu!"
"Kalau begitu, aku akan mulai dari dapur dulu," sahut Liana dan langsung menuju dapur.
"Monyet. Kenapa aku malah merasa tidak nyaman didekatnya!" bantin Barno dan pergi untuk melihat kamar.
Barno kemudian pergi memasuki salah satu kamar yang cukup luas, menghadap kebarah jalan, ia membuka jendela kamar tersebut, dan terlihatΒ Suhut dan Erna berjalan bersisian, mereka bercanda tertawa dengan bahagia, Bahkan terlihat jelas di mata Barno ketika Suhut beberapa kali menampar pinggul Erna sambil tertawa terbahak-bahak
"Jadi benar, kalau Erna sah menjadi pasangan ranjang si kampret itu. Erna terlihat bahagia sekali ketika panβtatnya dipukul terus. Sepertinya sudah menjadi hal biasa kalau mereka melakukan hubungan s3kx setiap hari. Arggghh anjing! Apa Liana juga seperti itu. Apa s3kx sudah menjadi kebutuhannya. Kalau memang benar, aku juga harus bisa menjadi pasangannya."
__ADS_1
Tekad Barno sudah bulat untuk menjadi Liana sebagai pasangan s3kx-nya. Ia berpikir kalau sepupunya itu benar membutuhkan *3**, kenapa harus dengan orang lain sedangkan dirinya ada untuk itu, apalagi hubungan mereka cukup dekat dan tau sama tau tentang diri masing-masing, tidak seperti Suhut yang bisa saja menyakiti perasaan Liana.
Barno kemudian memutuskan pergi untuk menemui Liana di dapur, tapi sesampainya di sana, ia tidak menemukan sepupunya itu. Ia pun kemudian pergi memeriksa beberapa kamar, tetap saja Barno tidak menemukannya. Bingung mau mencari kemana lagi, Barno kemudian duduk di ruang tengah menunggu.
Beberapa menit kemudian Liana muncul, dan duduk di samping Barno dengan menghempaskan punggungnya di sandaran sofa.
"Dari mana saja kau?" tanya Barno.
"Keliling rumah ini, ternyata suasananya begitu enak!" ucap Liana tersenyum kecil.
"Apa aku harus bertanya tentang hubungan mereka, ya? Tapi, kalau dia sempat tersinggung, gimana?"
Dari sudut mata yang begitu lentik, Liana menyadari kalau Barno sedang memperhatikan dirinya, sebuah senyum tipis mulai terukir di bibirnya.
"Matamu kenapa?" tanya Liana.
__ADS_1
"Apa? Kenapa rupanya dengan mataku?" Barno balik bertanya.
"Kau dari tadi terus saja memperhatikanku, apalagi waktu melihat pahaku. Ayo, apa yang kau pikirkan bocah kecil, jangan bilang yang ada di dalam otakmu itu....?"
Liana tidak melanjutkan kalimatnya, tapi dia menyipitkan matanya ketika melihat Barno mulai salah tingkah. Sebuah senyum tipis menghias di wajah Liana, senyum itu hampir tidak terlihat.
"Dasar bocah nakal!"
"Sialan. Apa rupanya di dalam otakku," potong Barno langsung, "Dan aku itu lebih tua dari kau. Aku itu Abang kau, jangan sembarang ngomong ngatain aku bocah kecil." Barno mendengus, tidak terima kalau dirinya di katakan bocah oleh Liana.
Liana tersenyum sinis.
"Hmmmβ¦. Kalau kau benar merasa abangku, tidak seharusnya kau memegangi bagian tubuhku yang sen-sitif malam itu."
Degh!
__ADS_1
πππππππππππ