
Tetap dukung ya, dengan memberikan like, komentar, fav, bunga atau kopi dan juga πππππ
buat Authornya makin Semangat.
terima kasih.
π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«π«
"Kalau begitu, aku pun akan membuat kesalahan yang sama denganmu."
"Jangan, Bar! Jangan lakukan itu, kau tidak pernah tertarik kepadaku selama ini," ucap Liana ketika Barno kembali menarik celananya hingga melorot.
Kini hanya menyisakan cel-a da-lam saja yang menutupi keβ-lamin Liana. Barno kembali meremas dengan kuat kedua buah pinggul Liana.
"Apa maksudmu, Lia?" tanya Barno, tangannya terus aktif bergerak.
"Benar, tapi sekarang sudah berbeda. Akhir-akhir ini, setiap melihatmu aku sudah tidak bisa lagi menahan diri!" Barno menarik dalaman Liana yang berwarna merah mudah.
__ADS_1
Seandainya Barno mengatakan kalau dia sudah tertarik dan menyukai Liana, pasti gadis itu sudah pasrah. Sejak kecil ia telah mencintai Barno, tapi ia tidak berani mengungkapkan perasaannya, karena ia beranggapan telah ada Butet di setiap tarikan napas Barno. Hubungan Barno dan Butet di mata Liana, bukanlah hubungan biasa antara keluarga, tapi lebih dari itu.
Oleh sebab itu, selama ini dia selalu memendam perasaannya. Bahkan ia telah mencoba untuk mencintai pria lain, dan dengan bodohnya merelakan kehormatannya direnggut. Namun, setelah itu, penyesalannya selalu menghantuinya, hingga akhirnya ia memutuskan pacarnya, karena semakin ia mencoba untuk mencintai pacarnya itu, semakin besar rasa penyesalannya.
Kini Barno ingin menggaulinya, walau ia mencintai Barno, tapi pemuda itu tidak menyukai dirinya,dan itulah alasan yang membuat Liana tidak rela. Ia ingin melakukannya di saat Barno benar-benar membutuhkannya, bukan hanya sekedar pelampiasan.
"Hentikan, Bar! Jika kau lakukan ini, hubungan kita pasti akan berakhir, dan kau juga akan berakhir," ancam Liana.
Mendengar ancaman tersebut, Barno menatap mata Liana, dan ia melihat keseriusan di wajah gadis itu, kalau ancaman itu bukanlah ancaman mainan belaka. Barno pun kembali merapikan celana d4l4-m Liana.
"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan melepaskannya, tapi tetaplah berbaring seperti ini," pinta Barno.
Tetapi, Liana penasaran dan mempertanyakannya.
"Aβapa lagi yang kau mau?"
"Rasanya tidak adil jika kau telah merasakan punyaku. Sedangkan aku tidak. Jadi, biarkan aku menempelkan sedikit saja, supaya aku bisa merasakan punya kau itu."Β
__ADS_1
Barno melepaskan celananya dan mengeluarkan batang miliknya yang sudah membesar, kemudian ia berbaring miring dan mendorong sedikit tubuh Liana agar berbaring miring membelakanginya. Perlahan ujung batang miliknya di tempelkan ke belahan pinggul sepupunya itu, dan menekannya dengan pelan beberapa kali.
Melihat Liana diam dan sedikit menggeliat, Barno berasumsi kalau gadis itu telah pasrah dan menikmati permainannya. Oleh karena itu ia memberanikan diri untuk merayap menyentuh daerah paling sen-sitif milik Liana, jarinya membelai bibir vagβ- Liana yang sudah basah.
"Ternyata kau sudah sangat basah."
Namun yang terjadi, sikap Liana diluar dugaan Barno. Sepupunya itu langsung menampar tangannya dengan keras, dan menoleh dengan tatapan yang begitu tajam, seolah-olah Liana ingin membunuhnya. Barno seketika tercekat.
"Keluarkan tangan kau itu sekarang juga setan!" bentak Liana, lalu bangun dan memasang kembali celananya.
"Li β¦ Lia!" Barno ketakutan, baru kali ini ia melihat Liana betul-betul sangat marah kepadanya.
"Apa yang kau lakukan. Cepat keluar dari tempatku ini sekarang!"
Barno mundur, batangnya masih tetap berdiri walau nyalinya sudah ciut. "Ma-maaf. A-aku β¦ ituβ¦." Barno terbata bata sambil menyilangkan kedua tangannya beberapa kali di depan dadanya. Tanda kalau dirinya ingin mengatakan kalau dia tidak sengaja melakukannya.
"Cepat pakai celana kau itu, dan pulang lah!" Walau suara Liana sudah tidak setinggi tadi, tapi ada ketegasan dalam ucapannya.
__ADS_1
@@@@@@@@
jika ada typo, mohon pemberi tahuannya ,ya