
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
"Apa yang kalian lakukan?"
Barno dan Suhut kembali saling saling pandang.
"Ayo ikut denganku jala-jala sebentar. Kita bisa minum dan menghabiskan malam," ujar Suhut langsung.
"Tidak Erna. Lebih baik ikut denganku," sambar Barno.
Kedua pemuda itu langsung saling berebutan, mereka tau jika daerah itu ditampar, maka selanjutnya yang terjadi adalah kenikmatan bersama gadis tersebut. Mereka berdua tidak ingin kalah dari satu sama lainnya.
Erna menghela napas panjang. Kepalanya tiba-tiba sakit melihat tingkah kedua pemuda tersebut. Bagaimana mungkin dirinya bisa bersama dengan dua pemuda dalam satu ranjang. Itu sangatlah tidak masuk akal.
"Tidak, maaf. Malam ini badanku lelah, aku mau pulang saja dan istirahat," ujar Erna, membuat wajah kedua pemuda yang ada di hadapannya terlihat kecewa.
Harapan yang sudah jelas terlintas dalam benak mereka berdua, kini punah begitu saja. Tidak ada malam panjang yang akan dilewati. Setelah mengantar Erna pulang, kedua pemuda itu berpisah. Barno segera memesan ojek online untuk pulang.
Sekarang hanya ada satu masalah yang akan dihadapi setelah melihat jam di ponselnya. Tentunya kemarahan dari sepupunya, yaitu Butet. Ketika sampai di depan rumah, Barno berdiri dan melihat ruang depan sudah gelap.
__ADS_1
Perlahan ia berjalan menuju kamar, sebisa mungkin tidak menimbulkan suara. Namun, baru saja beberapa langkah, lampu menyala dan terlihat Butet berdiri dengan berkacak pinggang sebelah.
"Dari mana kau, monyet?" tanya Butet dingin.
"Aku terjebak di toilet," jawab Barno dengan cepat. Saat ini hanya itu alasan yang ada di dalam kepalanya. "Aku terkunci dari dari luar."
"Mulut kau itu terkunci. Kau banyak kali alasan."
"Lagian kenapa sih, kalau aku terlambat pulang. Aku itu udah dewasa, udah besar. Aku bisa jaga diri sendiri." Barno mulai protes dengan sikap Butet yang selalu memperlakukannya seperti anak kecil.
"Kau…. Hmmm … kau tidak tau betapa khawatirnya aku di sini menunggu kau pulang. Kau tau ini sudah jam berapa? Ini sudah hampir jam satu malam, Bar. Kau harusnya mikir, paling tidak sama diri kau sendiri. Bagaimana kalau sampai ada begal, perampok atau preman yang menyakiti kau. Okelah, aku pasti akan merawat kau, tapi kau bagaimana? Iya kalau terluka, kalau mati."
"Iya, iya. Aku minta maaf. Aku nggak bakalan ngilanginnya lagi."
"Hmm." Butet mendengus. "Kau selalu saja begitu. Sana cepat makan, habis itu langsung tidur." Butet segera masuk ke kamarnya. Begitu juga dengan Barno.
.
.
__ADS_1
.
"Barno ... Bar!"
Pagi hari suara Butet melengking memanggil. Barno yang sudah bangun dan merapikan tempat tidurnya, tidak memepedulikan panggilan tersebut. beberapa sesaat, Butet pun muncul dari balik pintu kamarnya dengan wajah kesal.
"Eh, monyet. kau dengar tidak aku manggil."
"Iya, aku dengar. tapi kan aku lagi beresin tempat tidur." jawab Barno yang memunggunginya Butet.
Ketika dia berbalik badan, Barno terkesima dengan pakaian yang dikenakan oleh Butet. pakaian itu, adalah pakaian yang di berikan Barno untuk di pakai Liana ketika menginap sewaktu Butet tidak ada.
"Tolong bantu aku bersihkan ruang tenga dan kamar mandi. Aku lagi sibuk memasak."
"Siap, Bos. Tapi kau mau masak apa untuk sarapan?" tanya Barno.
"Aku mau masak gulai sayur pakis campur telor, sama sambal rempelo dan bakso," jawab Butet sambil keluar dari kamar Barno.
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1