
💦💦💦💦💦💦💦
Liana memulai ritualnya. Mengangkat pinggul, lalu turun lagi. Naik, turun, naik, turun. Berungakali ia lakukan gerakan tersebut. Lelah dengan metode awal, ia melakukan metode lainnya, yaitu metode blender dimana ia memutar pinggulnya dengan barengi dengan varian lain dengan metode maju mundur.
Gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Liana, membuat Barno semakin blingsatan, rasa geli campur nikmat di batangnya membuat Barno mengeluarkan suara-suara rintihan yang penuh nikmat penuh gejolak.
"Aghhh sial! Rasa apa ini? Ini jauh lebih nikmat dari yang pernah aku rasakan sebelumnya. Apa karena aku telah memakai perasaan." Liana semakin tidak terkendali menggoyang pinggulnya, gerakannya semakin acak dan tidak teratur.
Barno yang dari tadi hanya diam menerima, kini mulai membalas dan mengimbangi gerakan Liana.
"Aghh! Apa yang mau lakukan?" tanya Liana ketika Barno memegang kedua pahanya Dean mengangkat tinggi.
Dengan terangkatnya pinggul Liana, Barno mulai melakukan Pukulan Servis Bawah. Pinggul Barno naik dengan teratur dan cepat menghantam vag – Liana.
"Ah ah ah ah ah. Bar! Hentikan, tunggu sebentar." Liana menjerit kecil, kepalanya menggeleng. Sensasi yang ia terima begitu tidak terkirakan.
Barno bangkit duduk dengan posisi memangku Liana dan batang masih terbenam. Sedikit mendorong sudah membuat Liana kembali berbaring. Pinggul Barno kembali bergerak dengan cepat, tidak lupa Barno mengiringi dengan sebuah ciu—-man yang disambut oleh Liana dengan ganas.Â
__ADS_1
Bawah bergerak aktif, atas bertempur dengan lembut, saling lilit lyidah, tukar liur, saling hisap dalam pelukan yang begitu erat.
"Li–Lia. Apa kau sekarang dalam masa aman? A–aku mau keluaaaaaarrr!"
"Ja–jangan. Di perut aja," ucap Liana cepat sebelum semuanya terjadi, walau ia dalam masa aman untuk melakukan hubungan tersebut, tapi Liana tidak ingin kalau Barno sesuka hatinya melakukan sesuatu.
"Aghhhh. Liaaaaaaaaaaaaa!"Â
Tubuh Barno mengejang, begitu juga dengan Liana. Mereka sama-sama mencapai puncak. Akan tetapi, sesaat kemudian mata Liana melotot ketika merasakan cairan hangat terasa membanjiri liangnya karena Barno telah mengeluarkan seluruh airnya didalam kegelapan itu.
"A–apa yang kau lakukan monyet!"
Tentu saja alasan itu tidak bisa di percaya oleh Liana begitu saja, ia hanya bisa mendengus dengan bibir manyun. Mereka pun diam dan tidak ada yang bicara. Sisa-sisa sensasi kenikmatan itu mereka habiskan dalam satu pelukan.
PLOP
Batang Barno yang mulai mengecil, keluar dengan sendirinya. Cairan hangat pun mengalir perlahan dari dalam milik Liana sampai membasahi sprei. Sesaat kemudian, Barno bangkit dan duduk menatap Liana yang memejamkan mata.
__ADS_1
"Hmmm, dasar monyet kecil. Kau seharusnya tidak mun –crat di dalam," keluh Liana sambil mencolek lubangnya sendiri, berusaha untuk mengeluarkan semua cairan dari dalam dirinya.
"Maafkan Aku, Lia."Â
Barno meringsuk untuk membantu Liana duduk, lalu membelai wajah lembut itu. Mereka berdua akhirnya saling melempar senyum, hingga kembali saling ber –ci…Uman.
"Sudah … sudah!" ucap Liana setelah mendorong dada Barno. "Aku mau mandi dulu."
"Boleh aku ikut gabung?" tanya Barno dengan senyum mes—um.
"Tidak!" tolak Liana dengan tegas.
Sangat paham apa yang akan terjadi jika Liana mengijinkan Barno untuk mandi bersamanya, sebab itulah Liana menolak.
"Aku ikut, ya. Ayolah," rengek Barno.
"Aku tau apa yang di dalam otak kau itu. Badanku sudah sangat pegal, tulangku sudah hampir rontok. Biarkan aku mandi sendiri dan beristirahat sebentar saja. Awas kalau kau ikut, aku nggak mau kau sentuh lagi," ancam Liana.
__ADS_1
💦💦💦💦💦💦