DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 47


__ADS_3

"Barno sayang! Sini peluk aku. Bukannya kau sangat ingin memiliki tujuan tubuhku? Aku sudah di sini dan siap, sayang. Ayo, jangan malu-malu lagi." Liana menggeliat dan membungkuk membelakangi Barno.


Tubuh Barno terasa kesetrum, bergetar sangat kuat. Akan tetapi ia sangat malu untuk mengakui, malu karena begitu banyak orang. 


"Ayo sayang. Apalagi yang kau tunggu? Lihatlah punyaku sudah sangat basah. Apa kau akan membiarkan aku terus seperti ini? Apa kau tidak ingin menyentuhku?"


Tiba-tiba angkot berhenti dan Suhut naik. Pria itu langsung menarik tangan Barno untuk menggantikan posisinya.


"Minggir! Biar aku yang melakukannya kalau kau tidak mau."


Keanehan tersebut membuat Barno merasa heran, tidak dapat memahami kenapa Suhut tiba-tiba saja muncul. Apalagi ketika Barno melihat Suhut yang sudah membuka celananya.


"Tidak! Ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini." Barno menggelengkan kepalanya, tidak ingin mempercayai apa yang sudah dilihatnya.


"Aghhhhh…. Enaaaak!"


Liana berteriak ketika Suhut menghujamkan Pens-nya ke lubang gadis itu dari belakang. Namun, semua penumpang yang ada di dalam angkot, seperti tidak mendengar de– sahan yang keluar dari mulut Liana.


"Bagaimana, punyaku lebih nikmat dari punya Barno, kan? Tinggalkan saja dia, pilih aku yang bisa memberimu semua kepuasan yang nyata."

__ADS_1


Mendengar kata-kata Suhut, membuat Barno kepanasan, tapi dia tidak bisa bergerak sama sekali, hanya bisa menatap dengan ketiga puasan dengan adegan yang ada di depan matanya.


"Barno!"


Suara seorang perempuan terdengar, Barno menoleh dan melihat kalau orang yang sedang memanggilnya itu adalah Butet. sepupu yang selalu merawatnya di kota perantauan. Seketika ia terpaku dan heran, kenapa Butet bisa ada di dalam angkot. 


"Arggghhhh!"


Barno terbangun dari mimpi anehnya, nafasnya memburu, keringat berkeluaran dari pori-pori wajahnya.


"Hah, hah, hah. Mimpi macam apa ini. Aneh sekali. Kenapa aku ketakutan saat melihat wajah Butet. Hufff!" Barno menyeka keringat yang ada di keningnya.


"Selamat pagi, Ibu!" sapa Barno kepada ibunya yang sedang menata sarapan.


"Pagi juga anak Ibu yang ganteng," balas Ibu Barno.


Barno duduk dibalik meja makan dan memikirkan kembali mimpinya. Ada sesuatu yang menyakiti hatinya ketika teringat mimpi itu, dimana Liana sedang di gagahi oleh Suhut. Perasaan Barno sungguh tidak bisa menerima kejadian itu, walau ia tahu kalau itu hanya mimpi.


"Hmmm…. Sialan! Kenapa aku bisa seperti ini. Kenapa aku bisa tersakiti membayangkan Liana saat  melakukan hal seperti itu. Apa arti seorang Liana bagiku?"

__ADS_1


Saat sarapan pun, Barno masih memikirkan tentang Liana. Membuat Ibunya sedikit heran.


"Kau kenapa? Apa masakan ibu nggak enak?"


Tidak ingin membuat sang Ibu kecewa, Barno tersenyum dan segera menjawab. "Eh, enak kok."


Barno segera menyantap hidangan dengan lahap. Setelah selesai sarapan dan berbincang sedikit dengan keluarganya. Barno pamit ke kamar.


Hal pertama yang ingin dia lakukan adalah menghubungi Suhut.


"Halo!"


"Hei plen. Apa kabar?" jawab Suhut dari seberang sana.


"Baik, baik. Aku sekarang sedang berada di kampung, ibuku sebentar lagi ulang tahun, jadi aku pulang untuk menghiburnya karena umurnya sudah berkurang. Kau bagaimana kabarnya?"


"Hahahaha…. Aku juga baik. Titip salam sama ibumu, ya. Doa yang terbaik untuknya dariku." Suhut yang berada di hotel dengan seorang gadis, tengah memukuli panstats gadis tersebut. Apalagi yang ia lakukan kalau buka untuk bersenang-senang meraih puncak byirahyi.


Kening Barno pun berkerut saat mendengar suara yang begitu familiar, suara yang juga sering ia ciptakan bersama Erna. Apalagi ketika suara rintihan kenikmatan terdengar begitu nyata.

__ADS_1


__ADS_2