
✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️
Rasa nikmat dengan sensasi yang luar biasa, mulai menjalar di setiap saraf mereka. Barno mengangkat sebelah kaki gadis tersebut, membuat lebih leluasa untuk keluar masuk menghujam lebih dalam lagi. Sampai Erna bisa merasakan dinding rahimnya di hantam beberapa kali.
"Ah ah ah ah ah ah ah ah…. Lebih kuaaat Baaarrrr. Enaaakkkk. Iya, ah ah ah, enaaakkk Baarrr!" jerit Erna seperti orang yang kesurupan.
Celotehan Erna terus keluar dari mulutnya tanpa henti, setiap kali Barno menghantam dinding rahimnya dengan kuat, lalu dengan ganas ia me-lu-mat gunung kembar Erna dan memeluknya dengan kuat. Pinggulnya pun terus bergoyang dengan cepat.
PLAK…. PLAK…. PLAK…. PALK….!"
"Aghhhh…. Ernaaaaaa … aku sudah tidak tahan, aku mau keluaaarrr!" rintih Barno ketika merasakan batangnya berkedut kuat di dalam sana
Erna langsung menjepit pinggang Barno dengan kuat menggunakan kedua kakinya. "Aghh…. Iya…. Keluarkan aja di dalaaamm!" ucap Erna.
Dari mata Erna terlihat kekecewaan karena permainan tersebut berlangsung tidak sesuai dengan harapannya. Hanya dua menit berlangsung.
"Shhhhh serius. Apa kamu tidak apa-apa!" Barno semakin kuat menekan, darahnya sudah mulai terasa mendidih, tubuhnya mulai terasa kaku. Barno pun tidak sanggup lagi menahan sensasi yang luar biasa itu.
"Aghhhhhhh aku keluaaarrr!" jeritan Barno begitu panjang ketika cairan panas keluar dari dalam tubuhnya.
"Ughhhhhhhhhh….. aku jugaaaa….. !" sambung Erna.
Walau kecewa, Erna juga mencapai puncaknya juga. Kekecewaannya hanya karena ia tidak bisa menikmati puncak yang begitu dahsyat. kedua kakinya menjepit kuat dan menekan pinggul Barno, sehingga pemuda tersebut masuk lebih dalam lagi ketika semburan lendir membasahi dinding goanya yang gelap. Sejenak tubuh mereka kaku dalam pelukan, menikmati puncak kenikmatan yang mereka raih sampai titik terakhir.
Lama tubuh mereka mengejang, hingga akhirnya Barno menggelinding dari atas tubuh Erna, dan terbaring lemah di sampingnya gadis itu. Sesaat kemudian Erna beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Erna berada dalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah berpacu meraih kenikmatan bir -ahinya. Sedangkan Barno duduk di sisi ranjang hanya mengenakan celana boxer saja, ia terus memperhatikan layar ponselnya. Ia kepikiran kepada Liana yang pergi bersama Suhut.
__ADS_1
"Mereka sedang ngapain, ya? Kenapa aku jadi takut begini. Kurasa aku harus menelponnya. Jangan sampai dia masuk dalam perangkap si anying itu."
Sampai dua kali ia menghubungi sepupunya itu, tapi tidak kunjung juga diangkat. Pikiran-pikiran aneh pun mulai bermain dalam otaknya, membuat Barno frustasi sendiri. Dalam benaknya, Liana dan Suhut pasti sedang melakukan hubungan layaknya suami istri, dan pikiran itu membuatnya semakin kesal sendiri.
"Ah…. Sial!" umpat Barno. ia pun mencoba menghubungi Suhut, tapi tetap sama saja, panggilan teleponnya tidak diangkat
Perasaan sedikit kesal, ia pun berbaring mencoba untuk menenangkan diri. Tiba-tiba teleponnya berdering, dan ia melihat panggilan dari Suhut. Segera ia menekan tombol hijau.
"Woi, Hut kampret, kau dimana?" tanya Barno dengan suara sedikit ditekan, menunjukkan kalau dirinya sangat kesal.
Ketika Barno sedang menelepon dengan Suhut. Erna muncul dari kamar mandi dalam keadaan tela-njang bulat, lalu ia langsung melepaskan celana pemuda itu.
PLUNGG.
Benda kenyal yang awalnya lembek, langsung menegang setelah tangan Erna mengurut lembut. Gadis itu naik dan jongkok tepat di antara dua paha Barno. Tanpa menunggu persetujuan, gadis itu langsung membenamkan batang Barno kedalam liang kecilnya.
Barno segera menutup telepon dengan tangannya, agar suaranya tidak terdengar oleh Suhut.
"Kau ngapain?" tanya Barno ketika ia juga mendengar suara desa-han dari seberang sana.
Apa yang didengarnya membuat konsentrasinya untuk menikmati permainan Erna buyar seketika, dan ia pun kehilangan naf–su. Namun walaupun begitu, milik Barno masih tetap tegak sehingga Erna masih bisa leluasa menggoyang pinggulnya diatas tubuh Barno
"Aku lagi sibuk sekarang, aaaghh…. Shhhhh…. Jangan ganggu aku. Plak … plak! Nanti aku hubungi lagi!"
Barno semakin geram mendengar perkataan Suhut dari seberang sana. Kemudian telepon ditutup sebelah pihak, membuat Barno semakin dongkol.
"Woi anying, tunggu! Kau di mana? Jangan dulu tutup teleponnya," bentak Barno. Membuat Erna yang sedang menggoyang pinggulnya, menjadi heran melihat sikapnya tersebut.
__ADS_1
Gadis itu pun turun dari atas tubuh Barno, sehingga junior yang berada dalam liang gadis itu lepas seketika.
PLOP!
"Maaf!" ucap Barno.
"Kenapa kau terlihat marah? Sikapmu itu sudah menurunkan hasratku."
Erna membaringkan tubuhnya di samping Barno dengan tangan tetap mengelus milik pemuda itu dengan pelan.
"Nggak apa-apa kok. Biasa, hanya bercanda sama si Suhut. Aghhh…. Tanganmu sangat enak. Kau juga terlihat semakin cantik setelah kita melakukannya," puji Barno untuk mencairkan suasana. Ia tidak ingin jika Erna sampai tiba-tiba kehilangan mood hanya karena sikapnya tadi.
"Apa kau ingin aku menghisapnya?" bisik Erna, lalu bergerak turun ke bawah pusar Barno.
"Boleh juga!" Barno tersenyum sumringah.
Tangan lentik itu kembali mengocok si kecil, lalu ia pun memasukkan kepala yang berbentuk helem itu ke dalam mulutnya dan mulai menggerakkan kepalanya maju mundur.
"Ughhhh… aghhhh!"
Tubuh Barno langsung kejang-kejang, merasakan betapa nikmatnya permainan mulut Erna yang begitu lihai, memberikan sensasi yang luar biasa.
Erna terus bermain di bawah sana menggunakan tenggorokannya, tangannya juga ikut andil mengurut kantong solar yang menggelantungan, membuat Barno semakin menggelinjang nikmat.
"Erna tu–tunggu. Tahan dulu!" pinta Barno yang tidak sanggup lagi menahan rasa geli.
✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️✌️
__ADS_1