DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 49


__ADS_3

Barno uring-uringan di tempat tidur, gelisah memikirkan Liana yang sudah jatuh di dalam pelukan Suhut, walau sebenarnya yang dipikirkannya itu, bukanlah sebuah kenyataan yang sebenarnya.


Lahir di sebuah perasaan dan dibesarkan dengan atmosfer hangat dari keluarga dan juga lingkungan. Hari-hari berlalu begitu saja, dan menjual Barno merasa bosan dengan kehidupan di desa. Berbeda dengan di kota. Kehidupan yang begitu kompleks membuat Barno merasa lebih semangat. Walau ia juga sadar kalau dalam bersosialisasi dengan lingkungan yang ada, masih sangat kurang


"Tidak bisa. Aku harus kembali ke kota besok pagi."


Barno bangun dari tempat tidur dan keluar kamar untuk menemui ibunya. Ia ingin memberitahukan kalau besok harus kembali ke kota walau tanpa Butet.


"Loh, kok cepat kali kau pulang, Nak?"


"Iya, Bu. Ada yang mau aku kerjakan secepatnya," jawab Barno asal.


"Ya udah kalau begitu." Ibu Barno hanya pasrah, walau ia masih belum puas bersama dengan Barno.


"Makasih, Bu?" ucap Barno dan kembali ke kamarnya.


Pagi harinya jam 6:39 WIB Barno pergi ke rumah Butet untuk memberitahu sepupunya itu, kalau hari ini ia akan pulang ke kota lebih dulu.


"Tante, Butet ada?" Yahya Barno ketika Ibunya Butet membukakan pintu.


"Dia lagi mandi. Kau tunggu saja." Ibunya Butet tersenyum lalu meninggalkan Barno.

__ADS_1


Barno masuk dan duduk di ruang tengah. Di samping televisi, ia melihat ponsel Butet yang sedang dicharge. Barno mengambil ponsel tersebut. Ponsel tersebut dengan mudah dibuka karena Butet tidak membuat kunci.


Barno membuka aplikasi chat, dan mengirim pesan kepada Liana.


"Lia, hari ini aku pulang. Mungkin Barno dua hari lagi pulang. Aku mau mampir ke rumahmu."


Pesan langsung dikirim atas nama Butet.


Beberapa detik kemudian Liana membacakan chat.


"Kok cepat sekali?"


"Iya, aku sudah sangat kosan di sini." balas Barno.


"Oke, setuju. Kalau begitu aku menunggumu di rumahku. Aku akan makan apapun yang kamu bawa." Barno tersenyum membalas chat Liana. Ia sudah membayangkan apa yang akan ia lakukan nantinya.


"Baiklah kalau begitu."


"Nggak usah nelpon aku nanti. Langsung datang aja ke rumah." Dengan cepat Barno membalas chat Liana.


Setelah itu Barno segera menghapus ruwat chatnya bersama Liana, supaya Butet tidak mengetahuinya. Kemudian Barno menuju dapur untuk pamitan kepada Ibu Butet.

__ADS_1


"Tante, aku pulang dulu ya."


"Oh, iya." jawab Ibu Butet.


Barno pulang kerumah untuk kembali pamitan kepada Ibunya. Siang harinya Barno sudah sampai di rumah kontrakannya. Setelah makan siang Barno istirahat tidur siang.


Pukul 15:13 WIB Barno bangun dan segera mandi. Beberapa saat setelah ia mandi, terdengar suara panggilan dari depan rumah.


"Butet … Butet…!"


"Akhirnya datang juga," batin Barno dan tidak berniat untuk menyahuti panggilan Liana.


Liana masuk kedalam rumah yang memang sengaja tidak dikunci oleh Barno. Liana terus memanggil Butet dan melayangkan pandangan ke sekitarnya. Namun, orang yang di cari-cari tak kunjung juga kelihatan.


Tanpa di sadari, Barno sudah melangkah diam-diam mendekati Liana dari belakang. Sekitar tiga langkah lagi, Liana menoleh ke belakangnya dan terkejut melihat Barno.


"Kau!"


"Lia!" Barno pura-pura terkejut, tidak ingin sampai Liana curiga kepadanya.


"Apa yang kau lakukan di sini?"

__ADS_1


Sepengetahuan Liana, Barno sekarang berada di kampung untuk merayakan ulang tahun Ibunya, tapi sekarang pemuda itu berada di hadapannya.


__ADS_2