DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 59


__ADS_3

💦💦💦💦💦


"Senyum kau itu, Bar. Kok aku malah jijik melihatnya," ujar Liana dan kembali berbalik untuk duduk.


Menggaruk kepala belakang mendengar ejekan Liana, Barno juga duduk untuk sarapan bersama.


"Apa kau tidak tidur lagi malam ini di sini?" tanya Barno sambil menikmati hidangan.


"Tidak! Aku akan pulang hari ini. Pakaianku masih banyak yang belum aku setrika."


"Kalau bisa tetaplah di sini malam ini. Aku akan mengantar kau nanti. Terus terang, aku pasti merasa sangat bosan dan kesepian jika sendirian di sini sampai malam. Jadi, tetaplah di sini, ya." Mata Barno menyipit melihat Liana.


Di tempat Lain, Butet telah berangkat menuju terminal untuk kembali ke kota. Sekitar tujuh jam kemudian ia akan sampai di kota tujuan dimana ia mengontrak rumah bersama Barno..


Untuk Liana yang sudah selesai sarapan dan mencuci piring, ia masuk kedalam kamar dan berbaring telungkup, mengambil ponsel dan membuka sebuah aplikasi novel. Sebuah novel terbaru dengan judul 'Akhir Si Pembunuh' menjadi pilihannya.


Akhir Si Pembunuh. Sebuah kisah perjalan seorang anak laki-laki yang hidup sebatang kara. Lahir dari sebuah cinta, tumbuh besar dari sebuah penderitaan, baik dari segi mental dan psikis, dan membuatnya bertahan hidup di bawah kebekuan hati.

__ADS_1


Saat asik membaca novel yang membuat hatinya tersentuh di bab awal. Dari layar ponselnya, Liana melihat bayangan Barno berdiri di depan pintu dengan senyum yang sulit di jelaskan.


Barno yang tersenyum simpul perlahan masuk dan melangkah dengan diam, tidak ada suara yang keluar dari langkah pemuda itu. Ia tidak tau kalau Liana telah menyadari kedatangannya.


"Apalagi yang ingin kau lakukan. Kenapa kau ke sini menggangguku."


Mendengar perkataan Liana tersebut, Barno kaget. Bagaimana bisa ketahuan, padahal ia sangat ingin mengagetkan sepupunya itu. Akan tetapi, sekarang rencananya gagal setelah Liana tau akan kemunculannya.


Barno berbaring di sisi Lain dengan posisi telentang, sehingga mereka bisa saling pandang.


"Lagi ngapain, sih?" tanya Barno.


"Ada anunya, nggak?"


"Anu apaan?" Liana balik bertanya, tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan Barno.


"Ini," ucap Barno sambil mengelus phasyudhara sepupunya itu

__ADS_1


"Apaan sih, Bar? Liana menepis tangan Barno.


"Aku pengen, Lia."


Kembali Barno meletakkan tangannya diphasyhudhara gadis itu, lalu mencium pipinya. Liana hanya diam dan terus membaca, tidak peduli bagaimana tangan Barno begitu liar membelai punggungnya.


Semakin lama, apa yang dilakukan Barno membuat konsentrasi Liana buyar dalam membaca, ia menghela napas dan meletakkan ponselnya dengan sembarang, dan berbalik dengan posisi telentang.


Sesuatu telah merasuki tubuhnya, apa yang telah di lakukan Barno, kini membangkitkan sesuatu yang begitu liar dan menggebu-gebu.


Barno meringsuk naik ke atas, dan mencengkram kedua tangan gadis itu. Sejenak mereka saling tatap. Perlahan wajah mereka saling mendekat, dan tabrakan bybyr memicu tabrakan lainnya.


Riuh suara-suara benturan mulai terdengar bersamaan teriakan-teriakan kecil dari mulut mereka. Pertempuran yang begitu ganas dan menguras tenaga. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk mereka, mulai dari pemanasan hingga berakhir dengan ending yang di penuhi peluh.


Akan tetapi hanya ada jeda dua menit, selanjutnya mereka ke ruang tengah untuk melanjutkan babak selanjutnya.


"Apa kau masih kuat?" tanya Liana yang sudah berbaring di sofa, dengan kaki kanan diletakkan di sandaran sofa.

__ADS_1


💦💦💦💦💦💦💦


💦💦💦💦💦💦


__ADS_2