DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 17


__ADS_3

@@@@@@@@@@@@@


"Sial! Dia tidak mengangkat teleponku." 


Barno menggerutu. langkahnya semakin cepat menyusuri anak tangga. Napasnya terlihat memburu karena berlari sepanjang jalan 


Sesampainya di depan kamar kos, Barno langsung menggedor pintu dengan keras, dan memanggil sepupunya itu. Apa yang dilakukannya itu, membuat penghuni kos lain berkeluaran dan memarahinya dengan tatapan tajam.


"Woi tayk, udah malam."


"Pakai otakmu itu brengsek. Ganggu orang istirahat aja."


"Pelankan suara kau itu bocah! Kau kira ini tempat ini kos-kosan bapak kau!"


Barno hanya bisa diam, dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil meminta maaf. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan Liana muncul dengan tatapan marah. Bibir mengerucut menunjukkan kalau ia tidak senang melihat wajah Barno.


"Apa yang kau lakukan malam-malam di sini? Sama, cepat pulang! Jangan mengganggu kenyamanan penghuni kosan ini" ucap Liana dengan nada dingin.

__ADS_1


"Ahh…. Lia. Syukurlah kau sudah pulang!" ucap Barno dengan ekspresi lega.


"Kau tinggalkan aku sendiri disana. Sekarang kau mengkhawatirkan aku."


"Oh, bukan seperti itu. Aku…. Kemana saja kau tadi?" Barno berusaha mengalihkan situasi yang memojokkan dirinya.


"Aku mau tidur. Jadi, kau bisa pulang sekarang!" ucap Liana dan langsung menutup pintu. Tidak memberikan kesempatan untuk Barno menyampaikan pembelaan. 


Barno hanya bisa diam dan menarik nafas, karena bagaimanapun semuanya itu adalah kesalahan dirinya. Ia pun meninggalkan kos-kosan Liana dan kembali pulang. Sesampainya di rumah, ia langsung menemui Butet yang menunggunya di ruang tengah.


"Aku sudah pulang dari sana. Dia sudah pulang!"


"Kesana aja sendiri kalau nggak percaya." Barno mendengus, lalu duduk menghempaskan punggungnya di sandaran sofa.


Malam-malam berlari seperti seorang maling untuk memastikan keberadaan Liana. Namun, Butet tidak mempercayai laporannya, tentu membuat Barno kesal.


"Apa dia baik-baik saja, kenapa dia tadi tidak mengangkat teleponku?" tanya Butet, tersenyum manis untuk meredakan kejengkelan Barno.

__ADS_1


"Dia mau cepat tidur katanya. Lagian, dia bukan anak kecil lagi. Nggak usah berlebihan gitu mengkhawatirkannya." 


Barno bangun dari duduknya dan melangkah menuju kamarnya.


"Tentu saja aku khawatir. Satu kali pun dia tidak pernah  mengangkat teleponku. Aku yang paling tua di sini, jadi wajar kalau aku mengkhawatirkan kalian." 


"Iya, iya, Bawel! Dah,Aku mau tidur," sahut Barno sebelum mengunci kamarnya.


Barno menghempaskan tubuhnya di atas kasur, mencoba untuk rileks sejenak. Dengan kedua tangan berada di belakang kepala, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Secuil pertanyaan menyelinap dalam hatinya.


"Liana, apa kau benar-benar melakukannya dengan si Suhut gila itu?"


Sekelebat bayangan wajah Liana yang berdiri di depan pintu kosan pun muncul dalam benak Barno. Wajahnya yang kusut, mata yang memancarkan kelelahan. Apalagi waktu ia melihat sepupunya itu mengenakan gaun tidur tipis. Membuat pikirannya semakin liar dengan membayangkan Liana yang hanya memakai pakaian da lam.


"Hmmm … aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini ketika melihatnya. Entah kenapa tiba-tiba dia terlihat semakin feminim dan sek si saja," batin Barno.


Pikiran Barno semakin liar bermain tentang gadis itu, ia membayangkan betapa liarnya sepupunya itu bermain bersama Suhut, seperti yang pernah dilihatnya sewaktu itu di dalam kosannya.

__ADS_1


"Aghhhh…. Apa yang aku pikirkan. Gila! Kenapa aku bisa seperti ini?" gumam Barno sambil meremas kepalanya sendiri.


@@@@@@@@@@@@


__ADS_2