DI ANTARA DUA PELUKAN

DI ANTARA DUA PELUKAN
BAB 63


__ADS_3

πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


"Boleh, tapi jangan sekarang, ya. Soalnya nanti aku ada janji dengan Erna buat temani dia nonton konser Kangen Band. Dia nge-fans sama Babang Tamvan."


Menghentikan langkah, Liana menatap Barno dengan ekspresi aneh. Barno mengerutkan kening, bingung dengan ekspresi Liana. Bukan hanya itu saja, cara Liana menatap dirinya pun terasa menyeramkan.


"Apa?" tanya Barno menyipitkan matanya sebelah.


"Bisa nggak kau tidak datang."


"Apa yang kau katakan? Aku nggak bisa karena sudah janji untuk datang."


Liana menghela napas, lalu tersenyum. "Baiklah, kalau begitu aku akan ikut nonton konsernya." Sudut Liana mengerucut setelah menjajakan kalau dia akan ikut.


Barno tidak menyadari betapa perasaan Liana tidak ikhlas melihat Barno begitu dekat dengan Erna. Setelah melalui begitu banyak keindahan dan kehangatan bersama selama beberapa hari ini, tentu Liana merasa terusik dengan hal tersebut. Apalagi rasa hati muncul bukan di saat ini saja, tapi semenjak masa kecil ia sudah menaruh perasaan kepada Barno, dan sekarang rasa itu semakin besar.


Hanya satu kelemahan Liana, sampai saat ini ia masih belum mampu untuk mengatakannya, walau sudah mengatakan dengan bentuk sikap dan perilaku, bahkan sampai rela tubuhmu digauli oleh Barno, mulutnya masih tetap bungkam hingga saat ini. Itu semua karena ada keraguan dengan perasaan Barno terhadap dirinya, Liana tidak ingin hubungan mereka menjadi berjarak jika ia mengatakan yang sesungguhnya. Namun, Liana memiliki keyakinan jika cinta itu akan datang menghampirinya suatu saat nanti dengan jutaan keindahan yang tiada akhir.


"Oh, benarkah! Ini pasti sangat menyenangkan" Wajah Barno terlihat senang.


Kapan lagi dia bisa berada di sebuah keramaian dan diapit dua gadis cantik. Itu pasti akan menjadi sebuah kebahagiaan baginya, jika nanti begitu banyak Padang mata melihatnya dengan iri.

__ADS_1


"Kalau begitu kau pulang saja dulu, nggak usah mengantarku. Nanti aku tunggu kau di kosan. Jangan sampai lupa kau menjemputku, kalau sampai kau lupa menjemput, aku hajar kepala kau pakai centongan biar berubah kau jadi monyet," ancam Liana.


"Oke, jam setengah tujuh malam aku jemput kau," ujar sebelum akhirnya Barno mengangguk tanda setuju, dan berbalik arah untuk pulang.


Sepeninggal Barno, Liana juga pulang dengan perasaan senang. Sesampai di kosan, segera membuka lemari pakaian untuk memilih baju apa yang ia pakai nanti malam. Liana ingin terlihat cantik dan menggoda di mata Barno, tidak ingin jika sampai Erna merebut sepupunya itu dari sisinya.


Setelah mendapatkan pakaian yang diinginkan, Liana meletakkan di atas kasur, lalu berbaring di samping pakaiannya tersebut.


"Bar, andai kau tau…."


Di tempat lain.


Cukup lama tidak bertemu dengan Barno lagi setelah kepulangan mereka dari liburan, rasa rindu akan ketangguhan Barno di atas ranjang, semakin mengusik perasaan. Erna terlihat tidak begitu sabar menunggu waktu berlalu.


Tiba waktu yang telah dijanjikan. Siang telah berganti malam. Erna telah siap untuk berangkat. Kesepakatannya, mereka akan bertemu di lokasi konser.


Sama halnya dengan Barno yang terlihat dengan riang, ia pun menemui Butet yang duduk di ruang tamu sambil makan kuaci.


"Aku mau keluar bentar, ya!"


"Kemana?" tanya Butet.

__ADS_1


"Nonton konser."


"Sama siapa?"


"Liana."


"Dimana?"


"Lapangan Merdeka."


"Jam berapa pulang?"


Barno menghela napas, kesal dengan runtutan pertanyaan Butet yang sepeti emak-emak tahun 80-an.


"Nggak tau. Mungkin sampai konsernya selesai."


"Nggak boleh. Pokoknya sebelum jam 11 malam, kau harus sudah pulang. Awas saja kau sapa terlambat pulang," ancam Butet dengan mata melotot.


"Sial! udah kayak Mamak aku aja kau," Barno menggerutu dan berjalan menuju pintu.


"Eh, monyet. Apa kau bilang? Sini kau," teriak Butet dan menyambar kemoceng yang ada di atas meja, dan mengacungkan ke arah Barno yang sudah membuka pintu.

__ADS_1


πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦πŸ’¦


__ADS_2