
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Tangan Barno mencoba meraih dalam kegelapan, tapi ketika ia menyentuh kepala orang yang berada di antara kedua pahanya itu, sosok tersebut sontak kaget dan langsung melepaskan batang Barno, ia pun turun dan dengan cepat keluar dari kamar. Barno sekilas melihat pintu kamar tersebut dan tertutup kembali.
Begitu juga dengan Barno yang sangat penasaran dengan sosok tersebut, walau sebenarnya ia menebak kalau yang melakukan itu kepadanya adalah Erna, tapi ia ingin memastikan hal tersebut.
Barno dengan cepat bangun dan keluar dari kamar.
"Cepat sekali hilangnya, apa dia kembali ke kamarnya."
Perlahan langkah kaki Barno menuju kamar kedua gadis itu, ia membuka sedikit pintu yang tidak terkunci dan mengintip, dan melihat kedua gadis itu tidur satu ranjang saling membelakangi. Erna menghadap ke arah pintu, sehingga Barno bisa melihat wajah Erna yang terdiri pulas. Sedangkan Liana tidak, Barno tidak bisa melihat wajah gadis itu karena menghadap ke arah lain.
Langkah kaki Barno masuk kedalam Barno. Di sisi ranjang ia berdiri dan memperhatikan kedua gadis tersebut. Melihat wajah Erna yang begitu pulas, ia ragu kalau Erna yang baru saja melakukan 0r444Lll kepadanya. Tapi disisi lain ia juga tidak percaya, dan mustahil kalau Liana yang melakukan hal tersebut.
Tubuh Erna di guncangnya dengan perlahan dan memanggilnya dengan suara pelan.
"Erna, Erna….!"
Tidak ada reaksi apapun, Erna masih tetap tidur. Barno masih tetap mencoba untuk membangunka gadis tersebut.
"Erna sepertinya sudah sangat nyenyak tidurnya. Apa…. Hmmm. Sudahlah!" gumam Barno.
__ADS_1
Di saat Barno hendak melangkah, Erna terbangun, dan melihat Barno yang sudah selangkah berjalan. Segera Erna memanggilnya dengan suara rendah.
"Barno, ada apa?!"
Barno langsung menoleh. Melihat ke arah Erna, dan senyumnya pun melebar.
"Aku lagi mau itu," ucap Barno dan kembali ke sisi ranjang, ia Jongkong dan langsung mencium b1b1r gadis itu.
"Kepalaku sakit, Bar. Kayaknya aku kebanyakan minum." Erna mencoba untuk mengelak.
"Bentar aja, tadi ada yang ganggu aku, dan sekarang aku lagi naik-naiknya."
Barno memasang wajah semanis mungkin dengan senyum yang menggoda. Ia naik ke atas tempat tempat tidur dan menindih tubuh Erna, ia lupa kalau Lain berada di samping mereka.
"Kamar mandi, yuk!" ajak Barno yang tidak tahan lagi untuk segera melakukan adegan nikmat.
Walau tubuh masih lemas, Erna mengangguk untuk menyetujui permintaan Barno. Ia pun bangkit dan turun dari ranjang. Mereka kemudian pergi menuju kamar mandi.
Setelah Barno dan Erna pergi dan menutup pintu, Liana menggeliat dan menatap ke arah pintu kamar dengan nafas memburu, ada butiran keringat keluar dari keningnya. Ia sebenarnya tidur ketika pertama kali suara pintu terbuka dan Barno masuk kedalam kamar. Jadi dia mendengar percakapan mereka dan mengetahui apa yang akan mereka lakukan selanjutnya di kamar mandi.
"Kalian berdua … benar-benar!"
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, suara erangan penuh kenikmatan mulai menggema. Beruntung suara tersebut tidak terdengar sampai ke kamar.
.
.
.
.
Cahaya mentari mulai bersinar menerangi bumi, walau matahari masih belum muncul di ufuk timur. Dua orang pemuda dan dua orang gadis tengah duduk di sebuah ruangan menikmati sarapan mereka.
"Apa kamu baik-baik saja, semalam kamu terlihat sangat mabuk?" tanya Erna kepada Barno dengan sebuah senyuman manis di bibirnya.
"Tentu saja. Hanya minum segitu tidak akan membuat tubuhku sakit, aku itu sangat kuat," jawab Barno.
Barno yang mengobrol dengan Erna, merasa heran melihat sikap Liana yang hanya diam saja. Gadis itu terus menunduk sambil menikmati sarapannya, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Barno kepada Liana.
"Aku baik-baik saja, lagian aku semalam tidak terlalu banyak minum." Liana masih menunduk dan menikmati sarapannya.
__ADS_1
&&&&&&&&&&&